Cari Blog Ini

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Dua Tanda Jazm

عَلَامَتَا الۡجَزۡمِ

قَالَ: وَلِلۡجَزۡمِ عَلَامَتَانِ: السُّكُونُ، وَالۡحَذۡفُ.
Jazm memiliki dua tanda: sukun dan al-hadzf.
أَقُولُ: لَمَّا انۡتَهَى مِنَ الۡكَلَامِ عَلَى عَلَامَاتِ الۡخَفۡضِ أَخَذَ يَتَكَلَّمُ عَلَى عَلَامَاتِ الۡجَزۡمِ فَذَكَرَ أَنَّهَا عَلَامَتَانِ إِحۡدَاهُمَا أَصۡلِيَّةٌ: وَهِيَ السُّكُونُ. وَالثَّانِيَةُ نَائِبَةٌ عَنۡهَا عِنۡدَ عَدَمِهَا: وَهِيَ الۡحَذۡفُ.
فَمَتَى وَجَدۡتَ فِي الۡكَلِمَةِ وَاحِدَةً مِنۡ هَاتَيۡنِ الۡعَلَامَتَيۡنِ، عَرَفۡتَ أَنَّهَا مَجۡزُومَةٌ.
Setelah selesai membicarakan tanda khafdh, beliau mulai membahas tanda-tanda jazm. Beliau menyebutkan bahwa tanda jazm ada dua tanda. Salah satunya tanda asli yaitu sukun. Dan yang kedua adalah pengganti sukun ketika tidak ada, yaitu al-hadzf.
Jadi, kapan saja engkau mendapati di sebuah kata ada satu dari dua tanda ini, engkau mengenali kata tersebut dijazm.

Lihat pula:

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 186

٤٠ – بَابُ غَسۡلِ الرِّجۡلَيۡنِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ

40. Bab membasuh kedua kaki sampai mata kaki

١٨٦ – حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِيهِ: شَهِدۡتُ عَمۡرَو بۡنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ زَيۡدٍ عَنۡ وُضُوءِ النَّبِيِّ ﷺ، فَدَعَا بِتَوۡرٍ مِنۡ مَاءٍ، فَتَوَضَّأَ لَهُمۡ وُضُوءَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَكۡفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوۡرِ، فَغَسَلَ يَدَيۡهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فِي التَّوۡرِ، فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ، وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ، فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأۡسَهُ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. [طرفه في: ١٨٥].
186. Musa telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Wuhaib menceritakan kepada kami, dari 'Amr, dari ayahnya: Aku menyaksikan 'Amr bin Abu Hasan bertanya kepada 'Abdullah bin Zaid tentang wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, beliau minta didatangkan satu bejana air lalu beliau berwudhu` untuk mereka sebagaimana wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menuangkan air dari bejana ke telapak tangannya dan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke bejana, lalu beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya dengan tiga kali cidukan. Kemudian beliau masukkan tangannya dan membasuh wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya sebanyak dua kali sampai siku. Kemudian beliau masukkan tangan dan mengusap kepalanya. Beliau usapkan ke depan dan ke belakang dengan kedua telapak tangan sebanyak satu kali. Setelah itu, beliau membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Fathah dari Kasrah

نِيَابَةُ الۡفَتۡحَةِ عَنِ الۡكَسۡرَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡفَتۡحَةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلۡخَفۡضِ فِي الۡاسۡمِ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ.
Adapun fathah merupakan tanda khafdh pada isim ghairu munsharif
أَقُولُ: تَكُونُ الۡفَتۡحَةُ عَلَامَةً عَلَى خَفۡضِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ- فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ: الۡاسۡمُ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ.
وَمَعۡنَى كَوۡنِهِ لَا يَنۡصَرِفُ: أَنَّهُ لَا يَقۡبَلُ الصَّرۡفَ وَهُوَ التَّنۡوِينُ، سَوَاءً كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (رَضِيَ اللهُ عَنۡ عُمَرَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُ مِن سُلَيۡمَٰنَ﴾ [النمل: ٣٠] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (رَضِيَ اللهُ عَنۡ عَائِشَةَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَقَوۡلِهِمۡ عَلَىٰ مَرۡيَمَ بُهۡتَٰنًا عَظِيمًا﴾ [النساء: ١٥٦] فَكُلٌّ مِنۡ (عُمَرَ وَسُلَيۡمَانَ وَعَائِشَةَ وَمَرۡيَمَ) اسۡمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، أَيۡ: لَا يُنَوَّنُ.
Fathah merupakan tanda khafdh suatu kata -sebagai ganti dari kasrah- di satu tempat, yaitu: isim ghairu munsharif. Makna isim ghairu munsharif adalah isim yang tidak bisa menerima sharf, yaitu tanwin. Sama saja baik untuk mudzakkar, seperti: رَضِيَ اللهُ عَنۡ عُمَرَ dan firman Allah ta'ala: إِنَّهُ مِن سُلَيۡمَٰنَ (QS. An-Naml: 30). Atau untuk muannats, seperti: رَضِيَ اللهُ عَنۡ عَائِشَةَ dan firman Allah ta'ala: وَقَوۡلِهِمۡ عَلَىٰ مَرۡيَمَ بُهۡتَٰنًا عَظِيمًا (QS. An-Nisa`: 156). Jadi setiap dari عُمَرَ, سُلَيۡمَانَ, عَائِشَةَ, dan مَرۡيَمَ adalah isim yang dikhafdh karena diawali oleh huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah yang tampak di akhir kata sebagai ganti dari kasrah, karena ia adalah isim ghairu munsharif, yakni: tidak ditanwin.
وَقَدۡ يَكُونُ خَفۡضُهُ بِفَتۡحَةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (مَرَرۡتُ بِجَرۡحَى) وَ(تَزَوَّجَ زَيۡدٌ لَيۡلَى) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ﴾ [الأعراف: ١١٧] فَكُلٌّ مِنۡ (جَرۡحَى وَلَيۡلَى وَمُوسَى) اسۡمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى الۡأَلِفِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ، نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، أَيۡ: لَا يُنَوَّنُ.
Kadang-kadang khafdhnya menggunakan fathah muqaddarah, seperti: مَرَرۡتُ بِجُرۡحَى, تَزَوَّجَ زَيۡدٌ لَيۡلَى, dan firman Allah ta'ala: وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ (QS. Al-A'raf: 117). Jadi, setiap dari جَرۡحَى, لَيۡلَى, dan مُوسَى adalah isim yang dikhafdh karena diawali oleh huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah muqaddarah pada huruf alif -yang menghalangi dari munculnya adalah ta'adzdzur-, sebagai ganti dari kasrah. Karena ia adalah isim ghairu munsharif, yakni: tidak ditanwin.
وَالۡاسۡمُ الَّذِي لَا يَنۡصَرِفُ أَنۡوَاعُهُ كَثِيرَةٌ وَلَهَا شُرُوطٌ تَطۡلَبُ مِنَ الۡمُطَوَّلَاتِ؛ فَإِنَّ الۡمُبۡتَدِئَ يَكۡفِيهِ فِي أَوَّلِ الۡأَمۡرِ أَنۡ يَتَصَوَّرَهُ إِجۡمَالًا. وَسَنَتَكَلَّمُ عَلَى شَيۡءٍ مِنۡ ذٰلِكَ فِي بَابِ الۡمَخۡفُوضَاتِ إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Dan isim ghairu munsharif jenisnya ada banyak. Ia juga memiliki syarat-syarat yang menuntut untuk penjelasan yang panjang. Namun, untuk pemula cukup di awal-awal pelajaran untuk mendapat gambarannya secara umum dahulu. Dan insya Allah akan kita bicarakan hal tersebut di bab isim-isim yang dikhafdh.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 185

٣٩ – بَابُ مَسۡحِ الرَّأۡسِ كُلِّهِ لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَامۡسَحُوا بِرُؤُوسِكُمۡ﴾ المائدة: ٦

39. Bab mengusap kepala seluruhnya berdasarkan firman Allah ta'ala: “Dan usaplah kepala-kepala kalian.” (QS. Al-Maidah: 6)

وَقَالَ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ: الۡمَرۡأَةُ بِمَنۡزِلَةِ الرَّجُلِ، تَمۡسَحُ عَلَى رَأۡسِهَا، وَسُئِلَ مَالِكٌ: أَيُجۡزِىءُ أَنۡ يَمۡسَحَ بَعۡضَ الرَّأۡسِ؟ فَاحۡتَجَّ بِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ.
Ibnul Musayyab berkata: Seorang wanita seperti kedudukan lelaki, dia mengusap seluruh kepalanya. Malik pernah ditanya: Apakah cukup untuk membasuh sebagian kepala? Maka beliau berhujjah dengan hadits 'Abdullah bin Zaid.
١٨٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ وَهُوَ جَدُّ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى: أَتَسۡتَطِيعُ أَنۡ تُرِيَنِي كَيۡفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ: نَعَمۡ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ فَغَسَلَ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ مَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ بِيَدَيۡهِ، فَأَقۡبَلَ بِهِمَا وَأَدۡبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأۡسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الۡمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنۡهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ. [الحديث ١٨٥ – أطرافه في: ١٨٦، ١٩١، ١٩٢، ١٩٧، ١٩٩].
185. 'Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Malik mengabarkan kepada kami, dari 'Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya: Bahwa seseorang berkata kepada 'Abdullah bin Zaid, kakek 'Amr bin Yahya: Apakah engkau bisa memperlihatkan kepada saya, bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berwudhu`? 'Abdullah bin Zaid menjawab: Bisa. Lalu beliau meminta didatangkan air. Kemudian beliau menuangkan ke kedua telapak tangan dan mencuci dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali. Lalu beliau membasuh wajah sebanyak tiga kali. Setelah itu, membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai kedua siku. Kemudian beliau mengusap kepala dengan kedua tangan. Beliau menggerakkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang. Beliau mulai dari depan kepala sampai beliau gerakkan kedua telapak tangannya ke tengkuk, lalu beliau kembalikan ke tempat semula. Setelah itu beliau membasuh kedua kaki.

Celana Sebatas Mata Kaki

Tanya : Assalamu'alaikum Wr.Wb. saya adalah mahasiswa dari sekolah kedinasan, di kampus saya itu sekarang sedang semarak penggunaan celana yang gantung (maksudnya sebatas mata kaki), nah yang saya ingin tanyakan adalah, apa dalil aqli dan naqli dari hal tersebut, apa hukumnya ?

Jawab : Wa'alaikum salam warohmatullohi wa barokaatuh, saudara Deni -semoga Alloh menjagamu- mayoritas kita memang menganggap celana adalah satu hal yang biasa dan lumrah, sehingga tidak ada perhatian kepadanya, seolah-olah Islam juga tidak pernah memperhatikannya, begitulah kenyataan yang ada di masyarakat kita. Sebelum menjawab pertanyaan saudara, kami ingatkan kembali kepada diri-diri kami dan kaum muslimin secara umum, bahwa sebagai seorang muslim tentunya kita dituntut untuk tunduk dan patuh atas apa yang telah ditetapkan Alloh dan Rasul-Nya, melaksanakan perintahNya dengan mengharapkan keridloan dan pahalaNya serta menjauhi larangan agar terhindar dari murkaNya dan siksaNya. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡ ۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًا مُّبِينًا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin apabila Alloh dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Q.S. Al-Ahzab : 36).
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدۡخِلۡهُ جَنَّـٰتٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ ۖ وَمَن يَتَوَلَّ يُعَذِّبۡهُ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan RasulNya, niscaya Alloh akan memasukannya kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazabnya dengan azab yang pedih." (Q.S. Al-Fath : 17).
Alloh subhanahu wa ta'ala juga berfirman,
 وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumannya." (Q.S. Al-Hasyr : 7).

Berkenaan dengan celana gantung -menurut istilah saudara- , ketahuilah bahwa Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkannya dalam banyak hadits, akan kami uraikan beberapa di antaranya.
Pertama :
(ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ، وَلَا يُزَكِّيهِمۡ، وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ). قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ثَلَاثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنۡ هُمۡ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (الۡمُسۡبِلُ، وَالۡمَنَّانُ، وَالۡمُنَفِّقُ سِلۡعَتَهُ بِالۡحَلِفِ الۡكَاذِبِ).
"Tiga orang yang tidak bakal diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat, dan tidak akan dilihat serta tidak akan dibersihkan dan untuk mereka itu siksa yang pedih (Rasululloh mengulang kata-katanya ini selama tiga kali), Abu Dzar berkata : 'Mereka benar-benar kecewa dan sangat rugi, siapakah mereka wahai Rasulloh?'. Rasulluloh menjawab : Yang menurunkan kain di bawah mata kaki, yang menyebut-nyebut pemberian, dan yang menjual barang dengan sumpah palsu" (H.R. Muslim no. 106 dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu).
Kedua :
لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَى مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ خُيَلَاءَ
"Alloh tidak akan melihat kepada orang yang memanjangkan pakaiannya (celananya) karena sombong." (H.R. Bukhori no. 5783 & Muslim no. 2085 dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu).
Hadits ini adalah ancaman atas orang-orang yang memanjangkannya karena sombong, sedangkan yang pertama sifatnya umum, karena sombong ataupun tidak.
Ketiga :
مَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ مِنَ الۡإِزَارِ فَفِي النَّارِ
"Yang di bawah mata kaki dari kain, maka itu bagian api neraka" (H.R. Bukhori no. 5787 dari sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu),
adapun hadits ini adalah ancaman bagi orang-orang yang memanjangkannya hingga melebihi mata kaki yang tidak disertai dengan maksud-maksud sombong.

Dengan demikian memanjangkan kain atau celana dengan niatan sombong ataupun tidak adalah haram, terkena ancaman keras, tidak dibedakan antara yang bermaksud sombong atau tidak, karena dua alasan;
Pertama : Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِزۡرَةُ الۡمُسۡلِمِ إِلَى أَنۡصَافِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوۡ: لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، [وَ]مَا كَانَ أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، [وَ]مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ
"Kain sarung seorang muslim sampai ke tengah-tengah betis, dan tidak mengapa yang di antara itu dengan mata kaki, dan yang di bawah mata kaki, maka itu bagian neraka. Dan siapa yang menurunkan sarung di bawah mata kaki karena sombong, Alloh tidak akan melihat kepadanya." (H.R. Abu Daud no. 4093, Malik, An-Nasaai, Ibnu Majah no. 3573, dan Ibnu Hiban dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu).
Kedua : karena kedua perbuatan itu (memanjangkan karena sombong dan tidak sombong) perbuatan yang berbeda dan kedua ancamannya pun berbeda. Maka tidak benar jika ada yang memahami bahwa yang kena ancaman itu hanya bagi yang ada niatan sombong, dikarenakan hukum dan sebabnya berbeda, jadi selama hukum dan sebabnya berbeda, maka tidak sah memberlakukan kaidah ushuliyah "Hamlul mutlak 'alal muqoyad" (membawa nash yang datang secara mutlak kepada nash yang terikat), seperti yang sudah dikenal di kalangan ulama ushul. Demikianlah saudara Deni, semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan kepada kita taufik kepada apa yang dicintaiNya dan dirildoiNya. Wal ilmu indalloh.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-23 Tahun ke-1 / 23 Mei 2003 M / 21 Rabi'ul Awwal 1424 H.