Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma

Kita tentu telah mengenal nama sosok mulia ini, beliau adalah seorang sahabat sekaligus cucu kesayangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muthalib bin Hasyim Al Hasyimi, sepupu sekaligus menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ibunya adalah Fathimah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Husain adalah seorang yang memiliki nasab mulia dari jalur ibu maupun ayah. Beliau berkuniah Abu Abdillah. Dilahirkan di bulan Sya’ban pada tahun ketiga atau keempat hijriyah. Jarak antara ibunya melahirkan Al Hasan dengan ibunya mengandung beliau adalah satu kali haid.

Selain memiliki nasab yang mulia, beliau juga memiliki banyak keutamaan. Beliau dikenal taat beragama, gemar puasa, salat serta haji. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Al Hasan dan Husain:
هُمَا رَيۡحَانَتَايَ مِنَ الدُّنۡيَا – يَعۡنِي الۡحَسَنَ وَالۡحُسَيۡنَ.
“Keduanya adalah kecintaanku di dunia –yakni Al Hasan dan Husain-.”

Saat berteduh di bawah bayang Ka’bah, Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang Husain:
هَٰذَا أَحَبُّ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ إِلَى أَهۡلِ السَّمَاءِ الۡيَوۡمَ.
“Laki-laki ini adalah penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit di hari ini.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata tentang Husain, “Di antara Ahlul Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Saat itu, Husain disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan sejenis pacar).

Husain adalah juga seorang sahabat yang meriwayatkan sejumlah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga meriwayatkan dari ayah beliau, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, serta ibunya Fathimah. Selain itu, beliau juga meriwayatkan hadis dari Hindun bin Abi Halah dan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Salah satu hadis yang beliau bawakan adalah:
مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ تَرۡكُهُ مَا لَا يَعۡنِيهِ
“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak berguna baginya.”

Beliau sering memberi pengajaran kepada manusia dengan ucapan maupun langsung dengan praktik. Beliau banyak ditanya tentang hukum-hukum Islam, dan solusi dari problematika yang terjadi. Demikianlah, beliau mewarisi kecerdasan ayah beliau Ali bin Abi Thalib. Beliau juga seorang yang dihormati dan dicintai oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan oleh Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya.

Banyak yang meriwayatkan hadis dari beliau, misalnya kakak beliau Al Hasan, anak-anak serta cucu beliau: Ali Zainal Abidin, Fathimah bintu Husain, Sakhinah, Al Baqir. Demikian juga para tabiin semisal Ikrimah, Asy Sya’bi, Sinan Ad Du’ali, Kurz At Taimi, dan selain mereka.

Beliau tinggal di kota Madinah, kemudian pindah Kufah mengikuti ayah beliau Ali bin Abi Thalib. Bersama ayahanda, beliau mengikuti perang Jamal, kemudian perang Siffin kemudian turut serta pula dalam menumpas kelompok Khawarij. Setelah meninggalnya sang ayah, beliau berjuang bersama kakak beliau sampai terjadilah tahun persatuan, di mana Al Hasan menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada Muawiyah. Pulanglah beliau ke Negeri Madinah sampai meninggalnya Muawiyah. Setelah meninggalnya Muawiyah, Yazid bin Muawiyah menggantikan tampuk kepemimpinan. Ada sebagian kaum muslimin yang berbaiat kepada Yazid dan ada yang tidak berbaiat kepadanya. Husain dan Ibnu Zubair termasuk yang belum berbaiat kepada Yazid. Beliau pun pindah ke Makkah.

Maka datanglah begitu banyak surat dari penduduk Irak yang menginginkan untuk membaiat beliau menjadi khalifah. Maka beliau pun mengutus sepupu beliau Muslim bin ‘Aqil bin Abi Thalib ke kota Irak, untuk melihat kebenaran surat-surat itu. Maka terjadilah pembaiatan Husain sebagai pemimpin mereka lewat perantara sepupu beliau di kediaman Hani’ bin Urwah. Waktu itu, Husain masih berada di Makkah.

Kisah Memilukan Tentang Kematian Husain


Saat beliau dibaiat, kabar pembaiatan beliau sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam. Yazid pun mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah untuk mencegah Husain masuk ke Irak dan meredam pemberontakan penduduk Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Dengan berani Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.

Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang ikut berbaiat datang ke istana Ubaidullah bin Ziyad meminta supaya Hani’ bin Urwah dibebaskan. Ubaidullah bin Ziyad merespon ancaman Muslim dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husain ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja bersama Muslim bin Aqil. Belumlah matahari terbenam, hingga akhirnya hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri. Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh.

Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husain. Keinginan terakhirnya ini dikabulkan oleh Ubaidulah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husain adalah, “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal.” Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal saat itu adalah hari Arafah.

Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah di hari tarwiyah, 8 Dzulhijjah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdillah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Husain, Muhammad al-Hanafiyah dan lainnya.

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka (orang-orang Kufah) karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan. Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang.’

Bersamaan dengan itu, Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurr bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1.000 pasukan untuk menghadang Husain agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurr dengan Husain di Qadisiyah, ia mencoba menghalangi Husain agar tidak masuk ke Kufah. Saat itu belumlah terjadi pertempuran. Saat Husain menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4.000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Sa’ad.

Terjadilah peperangan yang sangat tidak imbang antara 73 orang di pihak Husain berhadapan dengan 5.000 pasukan Irak. Kemudian 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurr bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husain. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husain, hingga tersisa beliau seorang diri. Ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzil Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melemparkan panah lalu mengenai Husain hingga akhirnya beliau wafat, semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzil Jausyanlah yang memotong kepala Husain sedangkan dalam riwayat lain, orang yang menggorok kepala Husain adalah Sinan bin Anas.

Pembaca, perlu kita ketahui, baik Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan Sinan bin Anas ketiganya dahulu adalah pembela Ali (Syiah-nya Ali) di Perang Shiffin.

Semoga Allah merahmati Husain dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di antara Ahlul Bait yang terbunuh bersama Husain adalah: Anak-anak Ali bin Abi Thalib (saudara seayah): Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas. Anak-anak beliau: Ali al-Akbar dan Abdullah. Anak-anak Hasan bin Ali (keponakan beliau): Abu Bakar, Abdullah, Qosim. Anak-anak Aqil bin Abi Thalib (sepupu beliau): Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil. Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib (anak-anak sepupu): ‘Aun dan Muhammad. Seluruhnya adalah keturunan dari Ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada di saat ini kelompok manusia yang serupa dengan mereka.

Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini


Dalam permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak turut campur dalam pembunuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Husain. Ini adalah kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mencegah Husain untuk memasuki wilayah Irak. Ketika Yazid mendengar tewasnya Husain, Yazid pun terkejut dan menangis. Setelah itu Yazid memuliakan keluarga Husain dan mengamankan anggota keluarga yang tersisa sampai ke daerah mereka.

Sebelum terjadinya peristiwa itu, sebenarnya Yazid telah mengirim surat kepada Husain ketika di Makkah. Ternyata surat itu tiba setelah beliau sudah berangkat menuju Irak. Surat itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husain agar tidak berangkat ke Irak. Yazid juga menyatakan kedekatan kekerabatan mereka. Sehingga tidaklah benar bila kematian itu disebabkan oleh Yazid bin Muawiyah, sebagaimana yang digembor-gemborkan. Justru penduduk Iraklah yang berperan penting atas kematian beliau.

Wafat


Beliau terbunuh di hari Jumat, tanggal 10 Muharram, tahun 61 Hijriyah di daerah Karbala’, di pinggiran Kota Kufah, sebuah tempat di Irak. Beliau terbunuh di umur 57 atau 58 tahun, umur yang sama dengan ayah beliau saat terbunuh (menurut sebagian pendapat). Wallahu a’lam.
[Hamam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 43 volume 04 1436 H / 2015 M, rubrik Figur.