Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha

Pemilik Ketakwaan dan Kedudukan yang Tinggi


Adalah prinsip Ahlussunnah memuliakan, mencintai, dan membela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Melalui mereka kebenaran tersampaikan ke seluruh penjuru bumi. Sahabat dijadikan Allah sebagai salah satu mizan kelurusan jalan seseorang. Di antara mereka adalah Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha, ibunda Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma

Hati seorang mukmin akan merasakan kepedihan karena berbagai tuduhan dan makar yang dilemparkan oleh para pengusung kebatilan dan kemunafikan terhadap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ingin meredupkan cahaya petunjuk dengan menjatuhkan nama harum para pembawanya. Ahlul bathil sangat memahami bahwa untuk merobohkan pilar-pilar, keyakinan-keyakinan, dan hukum-hukum Islam, cara paling jitu adalah dengan menghancurkan kredibilitas para sahabat, orang-orang yang meriwayatkan al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi dasar hukum dan keyakinan di dalam Islam. Sayangnya, kaum muslimin lengah dari hal ini. Mereka tidak memahami bahaya celaan dan hinaan yang ditujukan kepada para pendamping Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara sahabat yang dicerca oleh para penulis buku-buku Syiah Rafidhah masa kini dan pengikut mereka adalah seorang shahabiyah yang mulia lagi bertakwa, Hindun bintu ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf al-Qurasyiyyah. Beliau ibunda Muawiyah, penulis wahyu Allah ‘azza wa jalla; dan istri Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu.

Cahaya Islam yang Cemerlang 


Hindun berislam pada hari Fathu Makkah dan menjadi baik Islamnya. Hindun adalah wanita yang cerdas. Ketika berislam, ia tergerak dengan ajaran tauhid yang dipegangi kaum muslimin dan langsung memahami apa yang dituntut dari keislamannya. Ia bersegera menghancurkan berhala yang dimilikinya. Ia juga bersemangat mempelajari apa saja yang dihalalkan baginya dan apa saja yang diharamkan di dalam Islam. 

Ibnu ‘Asakir, dalam Tarikh Dimasyq 37/137, menyebutkan, “Ketika Hindun berislam, ia pun menghancurkan berhala di rumahnya dengan kapak hingga hancurlah berhala itu sepotong demi sepotong. Ia menghancurkannya sembari berseru, ‘Kami dahulu tertipu dengan kamu!’.” 

Allah ‘azza wa jalla pun memuliakan Hindun, memberikan tobat yang jujur kepadanya, dan mengangkat kedudukannya dengan keimanan dan shuhbah (keadaannya hidup, bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beriman pada masa beliau, serta meninggal dengan keimanan) dengan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perawi Hadits yang Cerdas 


Hindun bintu ‘Utbah dikenal sebagai wanita yang mulia dan menjaga kemuliaannya, serta bersifat terbuka, terus terang, dan pemberani. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa Hindun termasuk wanita Quraisy yang terbaik dan paling cerdas. 

Ibnu Hibban, di dalam ats-Tsiqat, menjelaskan bahwa setelah berislam, Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara perawi yang mengambil riwayat darinya adalah putranya, Muawiyah radhiyallahu ‘anhu; dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

Al-Bukhari rahimahullah, di dalam Shahih beliau membuat bab dengan judul “Bab Dzikri Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha” (Bab Penyebutan Hindun bintu ‘Utbah, 12/195). Di dalam bab ini beliau membawakan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata, 
جَاءَتۡ هِنۡدٌ بِنۡتُ عُتۡبَةَ قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا كَانَ عَلَى ظَهۡرِ الۡأَرۡضِ مِنۡ أَهۡلِ خِبَاءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنۡ يَذِلُّوا مِنۡ أَهۡلِ خِبَائِكَ، ثُمَّ مَا أَصۡبَحَ الۡيَوۡمَ عَلَى ظَهۡرِ الۡأَرۡضِ أَهۡلُ خِبَاءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنۡ يَعِزُّوا مِنۡ أَهۡلِ خِبَائِكَ. قَالَتۡ: وَأَيۡضًا وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ. قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفۡيَانَ رَجُلٌ مِسِّيكٌ، فَهَلۡ عَلَيَّ حَرَجٌ أَنۡ أُطۡعِمَ مِنَ الَّذِي لَهُ عِيَالَنَا؟ قَالَ: لَا أُرَاهُ إِلَّا بِالۡمَعۡرُوفِ 
Hindun bintu ‘Utbah datang dan berkata, “Wahai Utusan Allah, dahulu tidak ada di muka bumi ini penghuni tenda (rumah) yang lebih saya sukai untuk dihinakan selain penghuni rumah Anda. Namun, sekarang, tidak ada penghuni rumah di atas bumi ini yang lebih saya senangi untuk dimuliakan selain penghuni rumah Anda.” Beliau berkata, “Demikian juga (keadaanku), demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya.” Hindun berujar lagi, “Wahai Utusan Allah, Abu Sufyan adalah laki-laki yang sangat menahan hartanya. Apakah saya berdosa apabila membelanjakan sebagian dari hartanya untuk keluarga kami (tanpa izinnya)?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak melihatnya boleh kecuali apabila engkau mengambilnya untuk menafkahi mereka sesuai dengan kadar kebiasaan manusia.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksudkan Hindun radhiyallahu ‘anha dengan penghuni tenda (ahlu khiba`) adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada kemungkinan makna lain, yaitu ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari hadits ini kita mendapatkan faedah dibolehkannya menyebutkan kekurangan orang lain ketika meminta fatwa kepada ulama atau ketika meminta hak seseorang. Syariat juga menetapkan dibolehkannya seorang istri mengambil harta suami secukupnya untuk keperluan diri dan keluarganya tanpa izin suami apabila ia mengambilnya sesuai dengan kadar kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya. Kita juga mengambil pelajaran untuk senantiasa kembali kepada ulama di dalam permasalahan-permasalahan yang tidak kita ketahui hukumnya. Wallahu a’lam.

Dibenarkannya Kecintaannya 


Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, di dalam Fathul Bari 7/179, menyebutkan penjelasan Ibnu at-Tin bahwa sumpah dalam hadits tersebut menunjukkan pembenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ucapan Hindun (bahwa ia sangat mencintai Rasulullah dan keluarga beliau). 

Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demikian juga…” (وَأَيۡضًا), sebagaimana dijelaskan oleh al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari 16/319, adalah, “Aku juga begitu terhadapmu. Seperti itu pula keadaanku.” Ada makna lain, “Akan bertambah kecintaanmu dan semakin mapan keimanan di hatimu sehingga bertambahlah rasa cintamu terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

Jadi, betapa mulia kedudukan yang dimiliki Hindun bintu ‘Utbah. Allah ‘azza wa jalla memberikan keutamaan kepadanya dengan shuhbah yang dimilikinya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-‘Allamah Ibnu Badis rahimahullah menyebutkan dalam al-Atsar 4/118-119, “Lihatlah Islam yang benar ini! Bagaimana berbagai pengaruhnya tampak seketika pada diri pemiliknya! Bagaimana Islam bisa membalikkan seseorang dari satu keadaan ke keadaan yang lain!”

Permohonan Ampunan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 


Di antara kemuliaan Hindun bintu ‘Utbah pula adalah diturunkannya al-Mumtahanah: 12 mengenai dirinya dan wanita-wanita beriman yang lain yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam at-Taflih. Jumlah mereka mencapai 457 orang. 
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُؤْمِنَـٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِٱللَّهِ شَيْـًٔا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَـٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَـٰنٍ يَفْتَرِينَهُۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُنَّ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ۝١٢ 
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah ‘azza wa jalla memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohonkan ampunan bagi para wanita yang beriman ini. Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa yang dikabulkan. Ath-Thabari rahimahullah, dalam Jami’ul Bayan 12/243, menjelaskan makna perintah permohonan ampun ini, “Mintakan kepada Allah bagi mereka agar Allah ‘azza wa jalla memaafkan dan menutupi dosa-dosa mereka serta mengampuni mereka.”

Doa Berkah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuliakan Hindun dengan doa beliau ketika Hindun menghadiahkan dua ekor anak kambing kepada beliau. Hindun meminta maaf kepada beliau atas sedikitnya anak kambing yang dilahirkan dari kambing-kambing Hindun. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencukupinya dengan mendoakan keberkahan bagi kambing-kambing Hindun sehingga menjadi banyaklah kambingnya. Hindun pun menghibahkan sebagian kambingnya dan mengatakan, “Ini termasuk berkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah menunjuki kami kepada Islam.” (al-Kamil fit Tarikh 2/126)

Keberanian yang Tercatat 


Dahulu sangat sengit permusuhan Hindun kepada Islam sehingga terkenal kebenciannya kepada kaum mukminin. Namun, ketika Islam menyusup ke relung kalbunya, Hindun pun mencurahkan kesungguhannya membela Islam. Hindun menghadiri Perang Yarmuk dan memompa semangat kaum muslimin untuk memerangi kaum Romawi.

Jawaban bagi Tuduhan yang Menghinakan 


Bagaimana seorang muslim bisa membolehkan dirinya mencela seorang wanita sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh dengan keutamaan? Tidakkah ia mengingat firman Allah ‘azza wa jalla
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ۝١٠٠ 
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah juga menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Tidakkah ia mengingat pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi pedang yang menebas setiap orang yang benci, dendam, dan hasad kepada para sahabat, 
لَا تَسُبُّوا أَصۡحَابِي، فَوَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَوۡ أَنۡفَقَ أَحَدُكُمۡ مِثۡلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدۡرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمۡ وَلَا نَصِيفَهُ 
“Jangan kalian mencela sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, sedekah itu tidak akan menyamai satu mud sedekah mereka, tidak pula setengahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3861, dinyatakan shahih oleh al-Albani rahimahullah

Setiap orang yang dipastikan sebagai sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam itu kehormatannya diharamkan, tidak boleh disebutkan kecuali dengan kebaikan. Allah ‘azza wa jalla telah meridhai mereka dan memilih mereka untuk mendampingi Utusan-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap sahabat memiliki ‘adalah (kebaikan agama) dan telah mendapatkan ampunan. Tidaklah diragukan bahwa Hindun termasuk jajaran sahabat. 

Mungkin sebagian orang yang memiliki ghirah terhadap Islam, juga mereka yang pada akhirnya mengenal dakwah as-Sunnah, dahulu menyaksikan film fajir yang memalukan: ar-Risalah (The Message). Film ini diproduksi oleh orang-orang zindiq dengan restu al-Lajnah asy-Syi’iyyah al-‘Ilmiyyah dan dengan persetujuan Universitas al-Azhar. Di dalam film yang tersebar ke seluruh penjuru dunia itu ada banyak kekeliruan dan penyimpangan sehingga al-Lajnah ad-Da`imah menfatwakan keharaman film ini (tentu jelas pula keharaman semua film yang lain). 

Di antara kejelekan film yang penuh kemungkaran ini adalah pendiskreditan nama baik banyak sahabat, termasuk Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha. Digambarkan di dalam film itu bahwa ia memerintah Wahsyi, yang disebutkan sebagai budak Hindun, untuk membunuh Hamzah dan ia (Hindun) memakan hati Hamzah mentah-mentah. 

Andaikan benar riwayat yang menjadi landasan skenario tersebut, semua dosa Hindun telah terhapuskan dengan keislamannya. Ia telah berislam dan menjadi baik keislamannya. Ia telah bertobat dari dosa yang lebih besar daripada yang dilukiskan di dalam film tersebut, yaitu dosa kesyirikan. Allah ‘azza wa jalla menggantikan kebencian Hindun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rasa cintanya yang sangat kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memuliakan Hindun dan mendoakan kebaikan dan ampunan baginya, sebagaimana disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Minhaj 4/474. Sungguh Islam menghapus seluruh dosa sebelumnya. Terlebih lagi film ini tidak mengisahkan tobat dan keislaman Hindun yang telah mereka jatuhkan kehormatannya. Allahu akbar!

Di sisi lain, Wahsyi radhiyallahu ‘anhu bukan budak Hindun radhiyallahu ‘anha. Hindun tidak memerintahnya untuk membunuh Hamzah radhiyallahu ‘anhu. Al-Bukhari rahimahullah, di dalam Shahih-nya pada “Bab Qatli Hamzah bin ‘Abdil Muththalib”, menyebutkan ucapan Wahsyi, “Maula (tuan)-ku, Jubair bin Muth’im, berkata kepadaku, ‘Apabila kaubunuh Hamzah sebagai balasan terhadap kematian pamanku (di tangan Hamzah), engkau menjadi merdeka’.” 

Tambahan lagi, kebanyakan riwayat yang menyebutkan mutilasi korban Perang Uhud dari kalangan muslimin oleh wanita-wanita kafir Quraisy bersumber dari Sirah Ibnu Hisyam dari riwayat-riwayat yang munqathi’ah (terputus sanadnya). Akankah kita mengorbankan nama baik sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah di-tazkiyah oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang lemah ini?! 

Di antara riwayat yang menjadi sandaran kisah tersebut adalah hadits mufrad yang diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad beliau, dari Ibnu Mas’ud (no. 4506), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَا كَانَ اللهُ لِيُدۡخِلَ مِنۡ حَمۡزَةَ شَيۡئًا النَّارَ 
“Allah ‘azza wa jalla tidak akan memasukkan satu bagian pun dari tubuh Hamzah ke dalam neraka.”

Setelahnya, disebutkan kisah keterlibatan Hindun radhiyallahu ‘anha dalam pembunuhan Hamzah radhiyallahu ‘anhu. Al-Haitsami rahimahullah, dalam Majma’uz Zawa`id, berkomentar bahwa salah satu rawinya ‘Atha` ibnus Sa`ib, telah bercampur hafalannya. Dengan demikian, hadits ini dha’if.

Ibnu ‘Abdil Bar rahimahullah, dalam al-Isti’ab 923, dan Ibnul Atsir rahimahullah, dalam al-Kamil 7/276, menyebutkan riwayat bahwa yang memutilasi tubuh Hamzah adalah Muawiyah bin al-Mughirah bin Abil ‘Ash bin Umayyah yang kemudian dibunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekembali beliau dari perang Uhud. 

Namun, sekali lagi, andaikata semua kisah yang diriwayatkan tentang pembunuhan Hamzah radhiyallahu ‘anhu adalah shahih, tetap saja kita tidak boleh mencela Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha. Para imam Ahlussunnah tidak pernah mencela para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai mereka, meridhai keislaman mereka, dan melarang kita mencela mereka. Sedikit dari mereka yang pada masa jahiliah, masa sebelum Islam, yang tidak melakukan apa yang dilakukan Abu Sufyan, Syaibah, atau Hindun. Itu seandainya riwayat tersebut benar. Apalagi, riwayat-riwayat tersebut tidaklah shahih. 

Al-Hafizh Qawwamus Sunnah al- Ashbahani rahimahullah, dalam al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/570-571, berkata, “Satu kelompok ahli bid’ah mengatakan, ‘Abu Sufyan, ayah Muawiyah, telah memerangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hindun, ibunya, memakan hati Hamzah…’.” 

Setelah memberikan bantahan bagi tuduhan terhadap Abu Sufyan, beliau menjelaskan, “Adapun Hindun, ibunda Muawiyah, telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berislam. Ia juga berbaiat kepada beliau. Turun ayat, فَبَايِعۡهُنَّ وَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُنَّ اللهَ (maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka), maka Nabi pun memohonkan ampunan baginya sehingga tidak memudaratkannya apa yang dilakukannya sebelum itu.”

Pahala yang Tak Terputus 


Di antara hikmah di balik cercaan dan tuduhan terhadap para sahaba Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah terus mengalirnya pahala para sahabat radhiyallahu ‘anhum –meskipun mereka telah berkalang tanah- dengan penghinaan dan cercaan kaum zindiq ini. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, 
إِنَّ أَصۡحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ كَانُوا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَكَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُجۡرِي لَهُمۡ أُجُورَهُمۡ،فَلَمَّا قَبَضَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَبَّ أَنۡ يُجۡرِيَ ذَلِكَ الۡأَجۡرَ لَهُمۡ 
“Sesungguhnya para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dahulu Allah mengalirkan bagi mereka pahala mereka. Setelah mewafatkan mereka, Allah menyukai untuk mengalirkan pahala itu bagi mereka.” (asy-Syariah 1999)

Benarlah ucapan asy-Syaikh al-‘Allamah al-Walid Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, “Sesungguhnya penyebab kehinaan umat ini adalah tidak adanya pengetahuan mereka terhadap kedudukan (agung) para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

Hindun bintu ‘Utbah wafat pada masa kekhilafahan ‘Umar atau ‘Utsman radhiyallahu ‘anhuma. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya. Semoga kita termasuk golongan orang yang diridhai Allah ‘azza wa jalla, yang datang sesudah para sahabat Kekasih-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dikisahkan-Nya ‘azza wa jalla,
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَ‌ٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami di dalam keimanan. Jangan biarkan di hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Rabb kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)

Wallahu a’lam

(Disarikan dari Bahjatu Ahlil Ghurbah bidz Dzabbi ‘anish Shahabiyyah Hindun binti ‘Utbah, Abu Mu’adz Muhammad, Syabakah Sahab as-Salafiyyah) 

Sumber: Majalah Qonitah edisi 24/ vol. 02/ 1436H – 2015M, rubrik Figur Mulia. Pemateri: Al-Ustadzah Ummu Maryam Lathifah.