MURID Sang Penerjemah AL QURAN

Ilmu agama adalah karunia yang Allah azza wajalla berikan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Itulah keutamaan besar yang Allah anugerahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dengannya terangkatlah derajat hamba di hadapan manusia dan di hadapan Rabbnya kelak. Banyak manusia bersimpuh duduk di hadapannya untuk menuntut ilmu agama. Namanya dikenang baik dan didoakan kaum muslimin dari masa ke masa hingga kebaikannya terus mengalir.

AHLI TAFSIR


Pembaca mungkin pernah mendengar nama Ikrimah Maula (bekas budak) Ibnu Abbas sosok ulama tabiin yang dikenal sebagai pakar ilmu tafsir. Tahukah Anda bahwa beliau sebelum menjadi ulama adalah hamba sahaya yang acap kali diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh manusia. Namun budak tidak selamanya identik dengan kehinaan dan kerendahan martabat di mata manusia. Siapa sangka Ikrimah rahimahullah yang dikenal sebagai budak ini kelak menjadi ahli tafsir dan menjadi salah satu murid terbaik Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Dialah Ikrimah Abu Abdillah Al Qurasyi Al Madani Al Barbari rahimahullah yang dahulunya adalah budak milik Hushain bin Abil Hurr lantas dihibahkan kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Kunyahnya adalah Abu Abdillah dan beliau berasal dari Barbar wilayah Maghrib yang sekarang wilayahnya mencakup Maroko, Tunisia, Libya, dan beberapa negara lainnya. Rupanya Allah azza wajalla menghendaki kebaikan untuk Ikrimah tatkala memilihkan majikan untuknya dari kalangan ulama besar sahabat. Ya, dialah Ibnu Abbas yang bergelar Turjumanul Qur’an (sang penerjemah Al Quran). Sungguh sangat beruntung memang jika Ikrimah menjadi budaknya. Bagaimana tidak, ia berkesempatan untuk belajar langsung dari beliau baik dalam meriwayatkan hadis, tafsir, maupun akhlak keseharian. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu adalah guru yang pertama kali mengajarkan ilmu tafsir dan hadis kepadanya, sekaligus guru yang paling berpengaruh terhadap perkembangan ilmunya.

SAFAR ILMIAH


Ikrimah rahimahullah suka merantau ke berbagai negeri dan wilayah seperti Maghrib (Maroko) untuk menimba ilmu dari ulama-ulamanya lalu kembali lagi ke Madinah. Pernah pula singgah di Mekah, Mesir, dan bahkan dalam satu riwayat pernah sampai ke Afrika. Sehingga tidak mengejutkan jika Ikrimah mempunyai guru yang sangat banyak. Sebagian ulama menyebut-nyebutnya sebagai tabiin yang paling mumpuni dalam bidang ilmu tafsir. 

Bisa dibayangkan beliau belajar secara langsung dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan bermulazamah (belajar) dengannya selama sekian tahun. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengetahui bahwa Ikrimah memiliki potensi untuk menjadi ahli tafsir sehingga beliau pun semangat dalam mewariskan ilmunya kepada Ikrimah. Sampai-sampai Ibnu Abbas pernah membuat tali ikatan pada kedua kaki Ikrimah agar beliau terus bisa kontinyu mengajarkan Al Quran dan Hadis kepadanya.

Ikrimah adalah sosok hamba sahaya yang berjenggot putih dan suka memakai imamah putih yang ujungnya menjulur di antara dua pundaknya. Beliau sering mengenakan pakaian berwarna putih dan gamis yang panjang. Seiring dengan berlalunya waktu, Ikrimah pun menjadi tabiin yang paling luas pengetahuannya tentang kisah-kisah dan sejarah peperangan Islam, meskipun belum pernah melihat apalagi terlibat langsung dalam berbagai peperangan tersebut.

Ilmu tafsir, hadis, sejarah, dan yang lainnya ia warisi dari para pembesar sahabat yang pernah menjadi sumber rujukan ilmunya. Sebuah referensi menukilkan bahwa ia pernah bertemu 200 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Ibnu Abbas, Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Ali bin Abi Thalib, Uqbah bin Amir, Shafwan bin Umayah, Al Hajjaj bin Amr Al Anshari, Jabir bin Abdillah, Hamnah bintu Jahsy, Abu Said Al Khudry, Ummu Umarah Al Anshariyah radhiyallahu ‘anhum, dan masih banyak yang lainnya. Namun guru yang memiliki andil besar dalam mentransfer ilmu kepada Ikrimah adalah Ibnu Abbas.

Ikrimah rahimahullah terus memanfaatkan kesempatan bertemu dengan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu untuk mengambil ilmu Al Quran dan hadis darinya. Hingga akhirnya Ikrimah meraup banyak faedah dan mempunyai keahlian dalam berfatwa. Bahkan mendapatkan rekomendasi untuk berfatwa dari Ibnu Abbas secara lisan padahal banyak sahabat yang masih hidup saat itu. Suatu ketika Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pergi dan berfatwalah, aku akan membantumu jika mengalami kesulitan.” Sehingga ulama sekelas Al Hasan Al Bashri rahimahullah pun enggan memberikan fatwa dan tafsir selama ada Ikrimah bersamanya.

MURID-MURID DAN SANJUNGAN ULAMA


Dalam pengakuannya Ikrimah menuturkan, “Aku menuntut ilmu selama empat puluh tahun dan berfatwa tatkala Ibnu Abbas masih hidup.” Selain dikenal sebagai mufassir yang handal dan mumpuni, Ikrimah juga ahli di bidang qira’ah, tafsir, dan hadis. Status sosialnya sebagai budak bukanlah penghalang dalam belajar ilmu agama hingga Allah memuliakannya dengan ilmu. Banyak ulama yang menyatakan bahwa beliau adalah orang yang tsiqah (tepercaya) dan riwayatnya bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil). Terbukti ulama yang meriwayatkan hadis dan menimba ilmu dari beliau sangat banyak. Ini menunjukkan kepercayaan ulama terhadap beliau.

Dalam sejarah tercatat nama-nama besar ulama yang pernah meriwayatkan darinya seperti Ibrahim An-Nakhai, Asy Sya’bi (keduanya meninggal sebelum Ikrimah), Amr bin Dinar, Abu Asy Sya’tsa’ Jabir bin Zaid, Habib bin Abi Tsabit, Hushain bin Abdurrahman, Al Hakam bin Utaibah, Qatadah, Mathar Al Warraq, Abu Ishaq Asy Syaibani, Musa bin Uqbah, dan masih banyak ulama tabiin lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Di saat itulah sanjungan dan rekomendasi secara lisan dari ulama terus mengalir kepada Ikrimah maula Ibnu Abbas.

Syahr bin Hausyab rahimahullah menyatakan kepada teman-temannya, “Pergilah kepada Ikrimah karena sesungguhnya setiap umat mempunyai Habr (orang berilmu) dan habrnya umat ini adalah maula Ibnu Abbas.” Salah satu muridnya yang bernama Amr bin Dinar berkisah bahwa ia pernah mendengar Abu Asy Sya’tsa mengatakan, “Ini adalah maula Ibnu Abbas dan orang yang paling berilmu.” Hingga ulama tabiin sekelas Said bin Jubair rahimahullah juga mengakui bahwa Ikrimah lebih berilmu daripadanya. Sementara itu Qatadah mengatakan, “Orang yang paling berilmu tentang halal dan haram adalah Al Hasan, yang paling mengetahui tentang manasik adalah Atha’, dan yang paling berilmu tentang tafsir adalah Ikrimah.”

Jabir bin Zaid rahimahullah mengatakan, “Ikrimah adalah lautan ilmu maka bertanyalah kepadanya.” Bahkan Ali pun tidak ketinggalan memuji Ikrimah dengan menyatakan, “Tidak ada budak Ibnu Abbas yang lebih cerdas daripada Ikrimah.” Al Bukhari mengatakan, “Tidak ada seorangpun dari kalangan murid-muridku melainkan dia pasti berdalil dengan riwayatnya Ikrimah.”

Ikrimah tetap dalam statusnya sebagai budak sampai Ibnu Abbas meninggal sehingga berpindahlah kepemilikannya kepada Ali bin Ibnu Abbas (putranya Ibnu Abbas). Kemudian Ali menjualnya kepada Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah dengan harga 4000 dinar. Maka Ikrimah pun bertanya kepada Ali, “Kenapa engkau menjual ilmu ayahmu dengan harga 4000 dinar?” Mendengar pertanyaan tersebut Ali membatalkan penjualan Ikrimah dan memerdekakannya.

KEDUSTAAN TERHADAPNYA


Kapasitasnya Ikrimah sebagai ulama dan pakar tafsir telah diakui oleh para ulama yang sezaman dengannya atau era setelahnya. Namun sebagian manusia menyatakan bahwa Ikrimah adalah seorang Khawarij dari sekte Al Sufriyah, yaitu sebuah kelompok sempalan khawarij pengikut Ziyad bin Al Ashfar. Pemikiran mereka sama seperti sekte Azariqah yang meyakini bahwasanya pelaku dosa besar adalah musyrik hanya saja sekte As Sufriyah tidak memandang dibolehkannya membunuh anak-anak kecil dan istri-istri orang yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Benarkah Ikrimah seorang Khawarij? Ternyata hal ini disanggah oleh sebagian ulama di antaranya adalah Yahya bin Main rahimahullah yang mengatakan, “Jika engkau melihat ada seseorang yang mencela Ikrimah dan Hammad bin Salamah maka curigailah keislamannya.” Lihatlah pula bagaimana pembelaan Ahmad Al ‘Ijli rahimahullah terhadap Ikrimah dalam ucapannya, “Ikrimah adalah seorang ulama tabiin yang tsiqah dan beliau berlepas diri dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang bahwa beliau bermadzhab khawarij.”

Bersihnya Ikrimah ini juga ditegaskan Imam Ahmad sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Hajar. Ibnu Mandah menyatakan dalam Shahihnya, “Adapun kondisi Ikrimah maka ia telah direkomendasi dengan baik oleh para tokoh tabiin dan ulama-ulama setelahnya. Bahkan mereka meriwayatkan dari Ikrimah dan berhujjah dengan riwayatnya dalam permasalahan sifat-sifat Allah, sunnah, dan hukum-hukum syariat. Sementara ulama yang mencacatnya tetap meriwayatkan dan menerima hadis-hadisnya. Hadis dan tafsirnya senantiasa menjadi rujukan ulama dari masa ke masa hingga zamannya Imam Bukhari, Muslim, Nasai, dan Abu Dawud.”

Sepeninggal Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, memang sebagian besar ilmu beliau terwariskan kepada Ikrimah rahimahullah. Oleh sebab itu tatkala Ikrimah meninggal, maka hilang pula ilmu yang terwariskan darinya. Ikrimah meninggal di Madinah dan saat itu bertepatan dengan meninggalnya Kutsair ‘Azzah, sehingga orang-orang pun mengatakan, “Pada hari ini telah meninggal ulama dan ahli syair.” Ikrimah wafat pada tahun 105 H dalam usia 80 tahun di Kota Madinah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau. Aamiin ya Rabbal alamin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 48 vol.05 1438 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.