Cari Blog Ini

Dengan Tawadhu’ Allah Naikkan Derajatnya

“Sungguh, pernah ada seseorang yang menyampaikan hadits kepada saya, kemudian saya berikan perhatian penuh seakan-akan saya belum pernah mendengar hadits tersebut, padahal saya sudah mendengar hadits tersebut sebelum orang tersebut lahir.”

Karena rendah hatinya, dia meriwayatkan dari siapa saja…

Dialah Atha’ bin Abi Rabah Aslam Abu Muhammad al Makki al Fihri al Qurasyi…

Fasih dalam berorasi. Ilmunya luas. Seorang mufti di Makkah. Seorang panutan, tokoh besar. Demikianlah sekian pujian yang disematkan pada beliau. Meskipun kulitnya hitam legam dan rambutnya keriting, kekurangan fisiknya tidak mengurangi wibawanya. Sungguh, Allah memuliakan beliau dengan sebab Kitabullah.

Mungkin tebersit tanya di dalam hati kita, bagaimana mungkin seorang yang nisbatnya kepada Quraisy namun kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Padahal, Quraisy adalah kabilah yang mulia di kalangan Arab.

Ternyata beliau bukan dari kalangan ningrat lagi kaya raya. Beliau terlahir ke dunia sebagai keturunan Habasyah, Etiopia. Beliau putra seorang tukang membuat keranjang dari daun kurma.

Atha` dilahirkan di Janad, sebuah daerah di Yaman. Kelahiran beliau bertepatan dengan kekhilafahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Lalu, beliau besar di Makkah sebagai bekas budak Bani Fihr al Qurasyi. Dari situlah, beliau mendapatkan nisbat kepada Quraisy, karena beliau sebagai maula (bekas budak) dari orang Quraisy.

Beliau memiliki beberapa kekurangan fisik. Sebagiannya bawaan lahir, sebagiannya setelah besar. Ibnu Sa’ad rahimahullah mengatakan, “Atha’ berkulit hitam, salah satu matanya buta, sangat pesek, tangannya buntung, ditebas ketika peristiwa pembunuhan Ibnu Zubair, kakinya pincang, dan buta.”

Umar bin Qais al Makki mengisahkan bahwa Atha’ berkata, “Saya sudah paham (tamyiz) ketika pembunuhan Utsman, saya dilahirkan di tahun kedua masa kekhalifahan beliau.” Kalau benar riwayat tersebut, berarti Atha’ dilahirkan pada tahun 25 H.

Seseorang berkata kepada Ibnu Juraij, “Kalaulah bukan karena dua orang hitam tersebut, Mujahid dan Atha’, tentunya kita tidak memiliki fikih.” Tukas Ibnu Juraij, “Semoga Allah memotong mulutmu, mereka berdua kamu katakan dua orang hitam?!” Yakni –Allahu a’lam- jangan mengatakan hal itu karena mengesankan perendahan kepada mereka.

TAWADHU’ DAN ZUHUD BELIAU


Rendah hati demi Allah subhanahu wa ta’ala akan membawa kemuliaan. Demikianlah faktanya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyabdakannya. Atha’ bin Abi Rabah pun melaksanakannya. Atha’ pernah ditanya sesuatu, kemudian menjawab, “Tidak tahu.” Orang itu mengatakan kepada beliau, “Tidakkah Anda menjawab dengan pendapat anda?” Beliau menjawab, “Sungguh, saya malu kepada Allah kalau saya menjalani agama di bumi ini dengan pendapat sendiri.” Demikianlah salah satu bentuk tawadhu’ beliau. Seorang imam yang fakih, ternyata tak segan untuk berkata ‘tidak tahu’ ketika ditanya. Beda halnya dengan orang-orang di zaman ini. Tak sedikit di antara mereka yang mati-matian mempertahankan pendapatnya. Meski jelas-jelas bertentangan dengan Al-Quran. Walau menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kezuhudan beliau pun telah tercermin dalam kisah-kisah hidupnya. Al Ashma’i rahimahullah pernah menuturkan, “Atha’ bin Abi Rabah pernah menemui Abdul Malik bin Marwan sedang duduk di singgasananya, dikelilingi para petinggi negara di Makkah. Waktu itu musim haji pada masa kekhalifahan Abdul Malik. Tatkala Abdul Malik melihat Atha`, dia langsung bangkit menyongsong, menyalami dan mendudukkan Atha` di singgasana. Lalu ia duduk di hadapan Atha’ dan berkata, “Wahai Abu Muhammad, apa gerangan hajat anda?” Atha’ berkata, “Wahai Amirul mukminin bertakwalah di tanah yang Allah muliakan (Makkah) dan tanah haram RasulNya (Madinah), perhatikan pemakmuran keduanya. Bertakwalah kepada Allah terkait hak-hak keturunan Muhajirin dan Anshar, karena sebab merekalah Anda bisa duduk di tempat duduk ini. Bertakwalah kepada Allah terkait hak-hak penjaga perbatasan, karena merekalah benteng pertahanan kaum muslimin. Perhatikanlah urusan kaum muslimin, karena anda sendirilah yang akan ditanya nanti hari kiamat. Bertakwalah kepada Allah terkait hak (rakyat) yang (meminta hajatnya) di depan pintu anda, jangan telantarkan mereka dan jangan kunci pintu karena mereka.” Kata Abdul Malik, “Ya akan saya lakukan.” Kemudian Atha’ pun bangkit berdiri, Abdul Malik pun memegangnya sembari berkata, “Wahai Abu Muhammad, yang Anda minta hanyalah kebutuhan orang lain, itu pun sudah kami penuhi, lalu apa kebutuhan Anda?” Jawab Atha’, “Saya tidak memiliki kebutuhan terhadap makhluk mana pun.” Kemudian beliau pun keluar. Maka seketika itu, Abdul Malik berkata, “Bapakku tebusannya. Inilah kemuliaan. Bapakku tebusannya. Inilah jiwa tokoh sejati.”

Zuhud beliau tidak sampai di situ. Apabila datang bulan Ramadhan, beliau hanya minum air putih. Lalu beliau berkata, “Saya sudah diberikan makanan lebih dibandingkan orang miskin.”

Amr bin Dzar pernah menyaksikan pakaian Atha yang menunjukkan zuhudnya beliau, “Saya belum pernah melihat Atha’ mengenakan pakaian yang mencapai 5 dirham.”

Lain lagi dengan pengalaman pribadi Imran bin Judair, “Saya melihat surban Atha’ koyak-koyak, sehingga saya katakan kepada beliau, ‘Saya akan berikan surban saya ini untuk Anda.’ Jawab beliau, ‘Kami tidak akan menerima kecuali dari penguasa.’ Yang beliau maksud adalah Baitul Mal[1].”

GURU-GURU BELIAU


Beliau bertemu dengan dua ratus shahabat Nabi. Beliau pernah menimba ilmu dari sederetan nama besar ulama Madinah dari kalangan para shahabat, seperti: Jabir bin Abdillah, Rafi’ bin Khudaij, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id al Khudri, Usamah bin Zaid, dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.

MURID BELIAU


Sejumlah nama besar ulama pernah tercatat duduk bersimpuh di hadapan beliau. Nama-nama yang tak asing di telinga sebagai para pembawa warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti, Mujahid bin Jabr –yang juga menjadi guru beliau-, Ayyub as Sikhtiyani, al Auza’i, Ibnu Juraij, Ibnu Ishaq, Amr bin Dinar, Laits bin Sa’ad, Abu Hanifah, Hajjaj bin Artha`ah, Ibnu Abi Laila, al Hakam, Husain al Mu’alim, Jarir bin Hazim, Hammam bin Yahya, Usamah bin Zaid al Laitsi, Ibrahim ash Sha`igh, Ayyub bin Musa, Habib bin Abi Tsabit, Habib bin Syahid, Zaid bin Abi Unaisah, Salamah bin Kuhail, Thalhah bin Amr, Abbad bin al Manshur, Utsman bin Aswad, Uqbah bin Abdilah al Ashamm, Ikrimah bin Ammar, Ibnu Lahi’ah, Abu Amr bin al Ala’ pun pernah menjadi didikan beliau. Dan masih banyak nama yang lain. Cukuplah nama-nama yang kita sebutkan sebagai cermin tingginya derajat dari sang guru.

IBADAH BELIAU


Ibnu Juraij berkata, “Saya berguru kepada Atha’ 18 tahun lamanya. Ketika itu beliau sudah tua dan badannya lemah. Namun beliau shalat membaca dua ratus ayat al Baqarah dengan berdiri. Tidak ada yang hilang (hafalannya, red.) sedikit pun, juga tidak bergerak-gerak.”

Ibnu Juraij menuturkan bahwa selama dua puluh tahun Atha’ tidur di Masjidil Haram. Beliau termasuk orang yang paling bagus shalatnya.

Haji merupakan salah satu ibadah yang wajib di dalam Islam bagi yang mampu. Maka dari itu, ibadah ini merupakan ibadah yang mulia. Satu kali haji yang diwajibkan seumur hidup. Namun jika dia mampu lebih dari itu, tentunya lebih baik. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Atha’ telah berhaji tujuh puluh kali lebih.

KEILMUAN BELIAU


Al Imam Malik berkata bahwa Amr bin Dinar dan Mujahid menyatakan bahwa dulu penduduk Makkah senantiasa saling berdebat. Tatkala Atha’ bin Abi Rabah keluar ke Madinah (kami merasa kehilangan), kemudian (saat beliau) kembali kepada kami, tampaklah keutamaan beliau atas kami (karena mereka rela dengan hukum yang diputuskan Atha’ dan tidak berdebat, red.).

Ibrahim bin Umar bin Kaisan berkata, “Saya ingat mereka di masa Bani Umayyah, ketika haji, diumumkan bahwa tidak ada yang berfatwa kepada orang-orang kecuali Atha’ bin Abi Rabah, kalau bukan Atha’, maka Abdullah bin Abi Najih.”

Abu Hazim al A’raj berkata, “Atha’ mengungguli penduduk Makkah dengan fatwa.”

Adz Dzahabi berkata, “Dulu di Makkah bersama Atha’ ada imam-imam tabi’in, seperti: Mujahid, Thawus, ‘Ubaid bin ‘Umair al Laitsi, Ibnu Abi Mulaikah, Amr bin Dinar, Abu Zubair al Makki dan lainnya.”

Abu Ja’far al Baqir pernah berkata ketika orang-orang banyak bertanya kepadanya, “Hendaknya kalian bertanya kepada Atha’ karena sesungguhnya, demi Allah, dia lebih baik dari saya.” Kata beliau juga, “Tidak saya jumpai seorang pun yang lebih berilmu tentang masalah manasik dibandingkan Atha’.”

Sa’id bin Abi Arubah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa beliau berkata, “Al Hasan (Al-Bashri, red.), Ibrahim di Iraq, Sa’id bin Musayyib dan Atha’ di Hijaz, itulah panutan pelosok negri.”

Laits bin Sa’ad meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sabith, “Demi Allah, saya belum memandang keimanan penduduk bumi menyamai keimanan Abu Bakar, saya belum memandang keimanan penduduk Makkah menyamai keimanan Atha’.”

Kata Ibnu Ma’in, “Atha’ menjadi pendidik bagi pengajar anak-anak dalam waktu yang panjang.”

Majelis beliau berisi zikir kepada Allah tanpa bosan. Para penuntut ilmunya tekun. Apabila Atha’ ditanya, beliau menjawab dengan baik.

Abu Hanifah pernah berkata, “Tidak pernah saya menjumpai orang yang lebih baik dibanding Atha’ bin Abi Robah.”

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menilai beliau termasuk tsiqah (orang terpercaya), fakih, memiliki kelebihan. Beliau termasuk pertengahan tabi’in. Haditsnya tercantum dalam Riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah.

TIDAK ADA GADING YANG TIDAK RETAK


Itulah kata orang negeri ini. Orang yang terbaik pun masih ada saja kurangnya. Maka orang yang baik adalah yang kekurangannya bisa dihitung, karena itu berarti kekurangannya hanya sedikit.

Beliau banyak meriwayatkan dengan cara mursal (menyandarkan hadits langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan shahabat perantaranya).

Kualitas hafalan beliau juga berkurang di masa tuanya, tapi tidak banyak.

Yahya al Qathtan rahimahullah berkata, “Riwayat mursal dari Mujahid lebih saya sukai dibanding riwayat mursal Atha’. Karena Atha’ meriwayatkan dari siapa saja (tanpa menyeleksi terpercaya atau tidaknya perantara hadits tersebut, red.).”

Kata adz Dzahabi rahimahullah, “(Riwayat melalui) Atha’ adalah riwayat yang bisa dijadikan pegangan berdasarkan kesepakatan para ulama. Dengan catatan, kalau Atha` meriwayatkan dengan menyebutkan semua perawi perantara hadits itu.”

Beliau hidup sekitar 90 tahun. Di tahun 114 H, Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan beliau. Affan bin Muslim meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, “Saya masuk Makkah di bulan Ramadhan, pada waktu itu Atha’ masih hidup. Ketika beliau berbuka, saya menemuinya. Beliau hanya minum air putih dan berkata, ‘Saya diberikan makanan lebih dibandingkan orang miskin.’ Beliau meninggal di bulan Ramadhan tersebut.”

Tatkala sampai berita kematian Atha’ kepada Maimun bin Mihran, beliau berkata, “Sepeninggal Atha’, tidak ada semisal beliau yang bisa menggantikan kedudukannya.”

Al Auza’i rahimahullah berkata, “Ketika Atha’ meninggal, beliau adalah orang yang paling dicintai oleh kaum muslimin.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada Atha`. <Ustadz Abdullah>


[1] Baitul Mal adalah tempat untuk menyimpan uang negara. Uang ini adalah milik kaum muslimin secara umum. Permerintah hanya bertindak sebagai pengelola uang tersebut.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 17 volume 2 1435 H / 2014 M, rubrik Biografi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar