Manhajus Salikin - Kitabush Shiyam (3 / selesai)

Karya: Asy Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diy
Nabi ditanya tentang puasa hari 'Arafah, beliau berkata,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيةَ وَالْبَاقِيَةَ
"Puasa 'Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau ditanya tentang puasa 'Asyura, beliau berkata,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
"Puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu." Beliau juga ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَبُعِثْتُ فِيهِ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
"Hari Senin itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus, dan hari diturunkan wahyu." (HR. Muslim[1]).
Beliau bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian mengikutkan puasa enam hari di bulan Syawwal, seakan-akan seperti puasa satu tahun." (HR. Muslim[2]).
Abu Dzar berkata,
أَمَرَناَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami agar kami berpuasa tiga hari di dalam satu bulan, pada tanggal 13, 14, dan 15." (HR. An Nasa`i dan At Tirmidzi[3]).
Nabi melarang berpuasa pada dua hari: hari 'Idul Fithr dan hari An-Nahr (penyembelihan). (Muttafaqun 'alaih[4]).
Nabi bersabda,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah 'azza wa jalla." (HR. Muslim[5]). Beliau bersabda,
لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمْعَةِ إِلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
"Janganlah sekali-kali salah seorang kalian berpuasa pada hari Jum'at kecuali dia juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Muttafaqun 'alaih[6]).
Nabi bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat, dan barangsiapa shalat malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat, dan barangsiapa shalat pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lewat." (Muttafaqun 'alaih[7]).
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ وَاعْتَكَفَ مِنْ بَعْدِهِ أَزْوَاجُهُ
Nabi biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya, dan istri-istrinya beri'tikaf sepeninggal beliau. (Muttafaqun 'alaih[8]).
Nabi bersabda,
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هٰذَا وَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
"Tidak boleh dilakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabi), dan Masjid Al Aqsha." (Muttafaqun 'alaih[9]).

[1] Nomor 1162 dari hadits Abu Qatadah Al-Anshari, di dalam nukilan ini ada lafazh yang diawalkan dan diakhirkan dan ada pula penambahan.
[2] Nomor 1164 dari hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
[3] HR. At-Tirmidzi (760) dan An-Nasai (4/422). Al-Albani menghasankannya di Shahih Sunan An-Nasai dan selain beliau juga.
[4] HR. Al-Bukhari (1991) dan Muslim (827/141) di dalam Kitab Ash-Shiyam dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
[5] Nomor 1141 dari hadits Nubaisyah Al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu.
[6] HR. Al-Bukhari (1985) dan Muslim (1144) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[7] HR. Al-Bukhari (2014) dan Muslim (759) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[8] HR. Al-Bukhari (2026) dan Muslim (1172) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
[9] HR. Al-Bukhari (1189) dan Muslim (1397) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.