Gurunya Para Ulama

Ulama salaf adalah cerminan peribadatan untuk umat setelahnya. Gelar ahli ibadah terpredikatkan kepada sekian banyak di antara mereka. Seolah-olah diri ini berdiri di bawah gunung yang kokoh menjulang tinggi jika membayangkan berhadapan dengan mereka. Ibadah yang banyak dan rutin tiada henti dari waktu ke waktu menjadi fenomena keseharian mereka. Di antara mereka adalah Tsabit Al Bunani rahimahullah. Nama ini tentu sangat dikenal oleh siapa saja yang berkecimpung dalam ilmu hadis dan periwayatannya. Beliau ini sangat identik dengan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Tsabit Al Bunani termasuk perawi Anas bin Malik yang paling tsiqah (terpercaya). Maklum beliau menemani Anas selama empat puluh tahun lamanya. 

GURU DAN MURID 


Nama panjang beliau adalah Tsabit bin Aslam Abu Muhammad Al Bunani Al Bashri. Al Bunani adalah nisbat kepada Bunanah, nama kabilah Bani Sa’d bin Lu’ay bin Ghalib. Tsabit dilahirkan pada masa pemerintahan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu

Dalam perjalanan ilmiyahnya, Tsabit terdukung dengan keuletannya dalam belajar dan keberadaan para ulama besar di zamannya. Bahkan Allah pun berikan kesempatan kepadanya untuk menimba ilmu kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu selama empat puluh tahun. Tsabit pernah berguru kepada para shahabat yang masih hidup di masanya, sebut saja Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu dan selainnya. Demikian halnya dengan para ulama setelahnya semisal Bakar bin Abdillah Al Muzani, Amr bin Syu’aib, Abul Aliyah, Syahr bin Husyaib rahimahullah dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Dari sekian banyak gurunya yang paling memberi kesan dan berpengaruh adalah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Empat puluh tahun kebersamaannya dengan Anas memberikan dampak yang sangat positif dalam perkembangan ilmunya. Semangatnya dalam meriwayatkan hadis ditunjang dengan antusias ibadah yang sangat mengagumkan. Hingga Anas pernah memberikan rekomendasi yang baik kepada Tsabit dengan mengatakan, “Sesungguhnya kebaikan memiliki kunci-kunci dan Tsabit adalah salah satu kunci kebaikan.” 

Paska perjalanan panjang menuntut ilmu selama puluhan tahun bersama para shahabat, keilmuan Tsabit banyak diakui dan dicari para ulama. Muridnya pun tersebar di berbagai negeri semisal Atha bin Abi Rabah, Qatadah, Yunus bin Ubaid, Humaid Ath Thawil, Sulaiman At Taimi, Ma’mar, Syu’bah rahimahullah, dan masih banyak yang lainnya. 

Tsabit tergolong perawi hadis yang kuat dan tsiqah. Kapasitas keilmuannya banyak dipuji oleh para ulama dari masa ke masa. Semisal Adz Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya memberikan gelar sebagai Syaikhul Islam, Imam dalam ilmu dan amal serta suri tauladan yang baik. Pujian juga terucap oleh Ibnu Adi dalam komentarnya, “Tsabit termasuk ulama tabiin penduduk Bashrah, orang yang sangat zuhud dan ahli hadisnya mereka.” Begitu pula Ahmad Al ‘Ijli dan An Nasai yang telah sepakat bahwa Tsabit adalah seorang perawi hadis yang tsiqah.

AHLI IBADAH 


Satu karakter yang kental melekat pada diri Tsabit adalah ibadahnya yang sangat kuat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bakar Al Muzani, salah seorang muridnya mengatakan, “Barang siapa ingin melihat orang yang paling kuat ibadahnya di zaman ini, maka hendaknya dia melihat Tsabit Al Bunani. Kami belum pernah menjumpai orang lain yang lebih kuat ibadahnya daripada beliau.” Tentu persaksian muridnya tersebut bukan isapan jempol belaka. Syu’bah menuturkan bahwa Tsabit selau membaca Al Quran setiap pagi dan petang serta berpuasa sepanjang tahun.” 

Beliau seorang pribadi yang hatinya lembut dan mudah menangis tatkala mendengar Al Quran. Tsabit begitu sering menangis karena rasa takutnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sampai-sampai Hammad bin Zaid pernah mengatakan, “Aku pernah melihat Tsabit menangis sampai tulang-tulang rusuknya bergetar.” Suatu saat Tsabit pernah mengeluhkan kedua matanya karena terlalu sering banyak menangis. Akibatnya Tsabit hampir saja mengalami kebutaan pada kedua matanya. Orang-orang pun bermaksud memberikan bantuan dengan mendatangkan seorang dokter. Maka Dokter itu berkata kepadanya, “Beri aku satu jaminan yang harus engkau lakukan, pasti matamu akan sembuh.” Tsabit bertanya, “Apa itu?” Dokter menjawab, “Jangan sekali-kali menangis lagi.” Tsabit pun menimpali permintaannya, “Tidak ada kebaikan pada mata yang enggan menangis.” Akhirnya beliau pun menolak untuk diobati dan masih saja sering menangis hingga akhirnya kedua matanya tidak normal. Padahal sebelumnya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Tsabit, “Betapa miripnya matamu dengan mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

KECINTAANNYA KEPADA SALAT 


Tsabit sangat mencintai ibadah salat sunnah dan selalu semangat untuk melakukannya. Beliau menyadari betapa tingginya kedudukan salat dalam Islam. Hingga Tsabit pun sangat memuliakan dan mencintai salat. Di antara untaian nasihatnya adalah, “Seorang hamba tidaklah tergolong sebagai ahli ibadah meskipun dia memiliki seluruh sifat yang terpuji kecuali jika dua perkara ini ada pada dirinya, yaitu salat dan puasa.” 

Suatu ketika Tsabit tertimpa sakit yang cukup parah hingga tidak mampu melakukan ibadah. Ia pun berkata kepada murid-muridnya, “Wahai saudara-saudaraku, aku tidak mampu melakukan salat semalam sebagaimana aku biasa melakukannya. Tidak pula aku bisa berpuasa sebagaimana biasanya dan aku tidak bisa singgah di tempat sahabat-sahabatku untuk mengingat Allah bersama mereka. Ya Allah, apabila Engkau menahanku dari tiga hal tadi, maka janganlah Engkau membiarkanku hidup di dunia ini meskipun hanya sesaat.” 

Salat malam menjadi sebuah ibadah yang jarang dilakukan pada masa ini. Ibadah yang secara umum terasa berat bagi kaum muslimin saat ini. Betapa tidak, seorang hamba harus bangun di tengah malam tatkala manusia terlelap dalam tidurnya. Bangkit melawan beratnya rasa kantuk dan dinginnya udara malam. Berbagai bisikan pun dihembuskan setan untuk menghalangi hamba dari ibadah mulia ini. Apalagi setan memasang tiga jeratan belenggunya pada tengkuk setiap hamba ketika tidur. Namun tidak demikian halnya dengan Tsabit, baginya salat malam adalah ibadah yang sangat nikmat. Ia pun bisa merasakan kenikmatan bermunajat dan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam salat malamnya. 

Dalam Qiyamul Lail (salat malam) seorang hamba memang terkondisikan untuk bisa melakukan salat dengan khusyu’ dan penuh konsentrasi. Terbangun dari tidur dalam keadaan fisik prima dan pikiran pun jernih nan jauh dari urusan-urusan duniawi. Qiyamul Lail benar-benar sarana yang sangat efektif untuk memupuk ketenangan jiwa dan kesuciannya. Tsabit benar-benar memaksimalkan kondisi tersebut hingga menjadi penikmat salat malam. Beliau pernah berkata, “Aku menjalani salat selama dua puluh tahun dan aku baru bisa merasakan kenikmatannya setelahnya dua puluh tahun setelahnya.” 

Tsabit adalah seorang hamba yang sangat mencintai salat malam dan penikmatnya. Luar biasa, salat menjadi penyejuk kalbu dan penentram jiwa. 

Satu sisi kehidupan lagi yang ada pada beliau adalah penampilannya yang selalu rapi lagi bersih. Bahkan tidak jarang beliau mengenakan pakaian-pakaian yang mahal. Namun demikian beliau diakui oleh para ulama sebagai pribadi yang zuhud. Memang penampilah lahiriyah bukan standar untuk mengetahui kezuhudan seorang hamba. Inilah pengertian zuhud yang sering disalahpahami oleh kebanyakan kaum muslimin. Zuhud identik dengan pakaian yang lusuh, penampilan sederhana jauh dari gemerlapnya dunia. Tentu persepsi ini muncul karena kedangkalan ilmu agama mereka. Padahal zuhud sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kelak. Orang zuhud bisa saja berpenampilan rapi dan pakaian yang indah bahkan mahal. Sebatas penampilan demikian juga bukan termasuk kesombongan. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus. Beliau pun menjawab bahwa Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Begitulah Tsabit Al Bunani rahimahullah, seorang ulama yang berpenampilan rapi dan berpakaian mahal namun gelar pribadi yang zuhud melekat pada diri beliau. 

Ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun wafatnya beliau. Satu pendapat menyebutkan bahwa Tsabit meninggal pada tahun 127 H dengan usia 86 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan ampunan dan rahmat kepada beliau. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 60 vol.06 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.