Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4183

٤١٨٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ :أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا خَرَجَ مُعۡتَمِرًا فِي الۡفِتۡنَةِ، فَقَالَ: إِنۡ صُدِدۡتُ عَنِ الۡبَيۡتِ صَنَعۡنَا كَمَا صَنَعۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ مِنۡ أَجۡلِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ عَامَ الۡحُدَيۡبِيَةِ. [طرفه في: ١٦٣٩].
4183. Qutaibah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Nafi’: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bepergian dalam rangka umrah di masa ujian. Beliau mengatakan: Jika aku dihalang-halangi dari Kakbah, kami akan melakukan sebagaimana yang dahulu kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memulai ihram untuk umrah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memulai ihram untuk umrah pada tahun Hudaibiyah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5617

٥٦١٧ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنِ الشَّعۡبِىِّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: شَرِبَ النَّبِىُّ ﷺ قَائِمًا مِنۡ زَمۡزَمَ. [طرفه في: ١٦٣٧].
5617. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Asy-Sya’bi, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari zamzam dalam keadaan berdiri.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 590

٣٤ – بَابُ مَا يُصَلَّى بَعۡدَ الۡعَصۡرِ مِنَ الۡفَوَائِتِ وَنَحۡوِهَا
34. Bab salat yang boleh dilakukan setelah salat Asar berupa salat yang terluput dan semisalnya

وَقَالَ كُرَيۡبٌ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ: صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ رَكۡعَتَيۡنِ، وَقَالَ: (شَغَلَنِي نَاسٌ مِنۡ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَنِ الرَّكۡعَتَيۡنِ بَعۡدَ الظُّهۡرِ).
Kuraib berkata, dari Ummu Salamah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salat setelah salat Asar sebanyak dua rakaat. Beliau bersabda, “Orang-orang dari ‘Abdul Qais telah menyibukkanku dari dua rakaat setelah salat Zuhur.”
٥٩٠ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ أَيۡمَنَ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي: أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ قَالَتۡ: وَالَّذِي ذَهَبَ بِهِ، مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ، وَمَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلَاةِ، وَكَانَ يُصَلِّي كَثِيرًا مِنۡ صَلاَتِهِ قَاعِدًا - تَعۡنِي الرَّكۡعَتَيۡنِ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ - وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّيهِمَا، وَلَا يُصَلِّيهِمَا فِي الۡمَسۡجِدِ، مَخَافَةَ أَنۡ يُثَقِّلَ عَلَى أُمَّتِهِ، وَكَانَ يُحِبُّ مَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ.
[الحديث ٥٩٠ – أطرافه في: ٥٩١، ٥٩٢، ٥٩٣، ١٦٣١].
590. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: ‘Abdul Wahid bin Aiman menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Bahwa beliau mendengar ‘Aisyah mengatakan: Demi Allah, yang telah mewafatkan Nabi. Beliau tidaklah meninggalkan dua rakaat sampai beliau berjumpa dengan Allah taala. Dan tidaklah beliau berjumpa Allah taala sampai beliau merasa berat mengerjakan salat. Beliau sering melakukan salatnya dengan duduk. Yang ‘Aisyah maksudkan adalah dua rakaat setelah salat Asar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa salat dua rakaat tersebut dan beliau tidak melakukan salat tersebut di masjid karena khawatir akan memberatkan umatnya. Dan beliau senang apa saja yang meringankan umatnya.

Shahih Muslim hadits nomor 1250

٣٤ – بَابُ إِهۡلَالِ النَّبِيِّ ﷺ وَهَدۡيِهِ
34. Bab ihlal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hewan kurban hajinya

٢١٣ – (١٢٥٠) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ مَهۡدِيٍّ: حَدَّثَنِي سَلِيمُ بۡنُ حَيَّانَ، عَنۡ مَرۡوَانَ الۡأَصۡفَرِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، أَنَّ عَلِيًّا، قَدِمَ مِنَ الۡيَمَنِ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (بِمَ أَهۡلَلۡتَ؟) فَقَالَ: أَهۡلَلۡتُ بِإِهۡلَالِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (لَوۡلَا أَنَّ مَعِيَ الۡهَدۡيَ لَأَحۡلَلۡتُ).
213. (1250). Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami: Salim bin Hayyan menceritakan kepadaku, dari Marwan Al-Ashfar, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa ‘Ali tiba dari Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau ihlal (memulai ihram)?” ‘Ali menjawab: Aku memulai ihram dengan ihlal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda, “Seandainya aku tidak membawa hewan kurban haji, tentu aku akan tahalul.”
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ حَجَّاجُ بۡنُ الشَّاعِرِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ. (ح) وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ قَالَا: حَدَّثَنَا سَلِيمُ بۡنُ حَيَّانَ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ، مِثۡلَهُ، غَيۡرَ أَنَّ فِي رِوَايَةِ بَهۡزٍ: (لَحَلَلۡتُ).
Hajjaj ibnusy Sya’ir telah menceritakannya kepadaku: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Abdullah bin Hasyim telah menceritakan kepadaku: Bahz menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Salim bin Hayyan menceritakan kepada kami dengan sanad ini semisal hadis tersebut. Hanya saja di dalam riwayat Bahz, “lahalaltu.”

Shahih Muslim hadits nomor 1249

(١٢٤٩) - حَدَّثَنِي حَامِدُ بۡنُ عُمَرَ الۡبَكۡرَاوِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ. قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، فَأَتَاهُ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ وَابۡنَ الزُّبَيۡرِ اخۡتَلَفَا فِي الۡمُتۡعَتَيۡنِ. فَقَالَ جَابِرٌ: فَعَلۡنَاهُمَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ نَهَانَا عَنۡهُمَا عُمَرُ، فَلَمۡ نَعُدۡ لَهُمَا.
(1249). Hamid bin ‘Umar Al-Bakrawi telah menceritakan kepadaku: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Abu Nadhrah. Beliau berkata: Aku pernah di dekat Jabir bin ‘Abdullah lalu ada orang yang mendatangi beliau seraya berkata: Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas dan Ibnuz Zubair berselisih dalam hal dua jenis mutah (haji tamatuk dan kawin mutah). Maka, Jabir mengatakan: Kami pernah melakukannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ‘Umar melarang kami dari dua hal tersebut, sehingga kami tidak mengulangi keduanya.