Cari Blog Ini

Ketika Hidayah Menyentuh Hati

Beliau adalah seorang shahabiyah yang sering kali mengikuti peperangan, berjihad di jalan Allah. Mendampingi suaminya untuk memberikan semangat kepada kaum muslimin yang berperang dan mengobati mereka yang sakit. Beliau juga seorang shahabiyah yang semangat di dalam ilmu dan amal. Tidak heran putranya dan juga Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadis dari jalan beliau. Siapa sangka siapa kira jikalau dahulu sebelum mengenal Islam beliau adalah pemimpin para wanita Quraisy ketika membantu peperangan menghadapi muslimin. Siapa duga jikalau dialah wanita yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis melihat jasad paman beliau Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu yang mengenaskan akibat ulahnya. Tapi… Demikianlah ketika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak memberikan hidayah kepada seseorang. Tidak ada yang tidak mungkin. Pemberi hidayah taufik hanyalah Allah, dan orang yang mendapat hidayah adalah orang yang Allah kehendaki mendapatkan hidayah. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Quran Surat Faathir : 8,
فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۖ
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki”.

Beliau adalah Hindun binti Utbah bin Rabi’ah Al Quraisyyah radhiyallahu ‘anha. Seorang wanita terhormat dan tinggi kedudukannya di antara kaumnya. Seorang wanita yang memiliki kefasihan dalam berbicara, keteguhan pendirian, terkenal pemberani dan pandai bersyair. Ia menikah dengan Abu Sufyan bin Harb setelah bercerai dengan suami sebelumnya. Keduanya adalah sepasang suami istri yang sangat dihormati dan didengar perkataannya di sisi kaumnya. Maka ketika cahaya Islam mulai menyinari kota Makkah, keduanya belum bisa menyambutnya di awal waktu. Sangat sulit rasanya bagi mereka meninggalkan adat kebiasaan nenek moyang kaumnya. Fanatisme kesukuan, rasa bangga serta kecintaan kepada kaumnya menjadi salah satu faktor penyebab mereka menolak kebenaran. Oleh karenanya, keduanya bahkan termasuk tokoh-tokoh yang cukup besar penentangan dan kebenciannya kepada Islam ketika itu. Terlebih setelah terjadinya Perang Badr Kubra.

Adapun perang Badr Kubra, adalah salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam. Peristiwa peperangan yang tidak terduga sebelumnya. Awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya ingin menghadang kafilah dagang Quraisy yang berada di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb yang akan melewati Madinah. Kafilah dagang tersebut membawa harta kekayaan kaum Quraisy yang sangat berlimpah. Jika mereka berhasil dihadang, kemudian barang dagangan yang mereka bawa berhasil didapatkan kaum muslimin, maka hal tersebut dapat menjadi pukulan yang telak bagi kafir Quraisy yang selama ini selalu memberikan gangguan kepada kaum muslimin. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membawa sekitar 300 orang bersamanya, dan tidak mewajibkan yang lainnya untuk ikut dalam penghadangan tersebut. Akan tetapi Allah berkehendak lain.

Abu Sufyan mencium rencana beliau. Dia mengirim utusan ke Mekkah meminta bala bantuan untuk menghadapi pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan dia bersama kafilah dagangnya memutar mencari jalan yang lain. Hasilnya… pasukan Mekkah bersiap menuju Madinah dengan membawa kurang lebih 1000 personil lengkap dengan persenjataannya. Mereka membawa satu tekad untuk menghancurkan kekuatan kaum muslimin. Akhirnya peperangan pun benar-benar terjadi di Badr, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke dua hijriyah. Kekuatan yang secara kasat mata sangat tidak seimbang tidak menjadikan semangat kaum muslimin lemah. Di saat-saat genting seperti itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa kepada Allah dengan begitu mendalam, beliau berdoa:
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَنۡشُدُكَ عَهۡدَكَ وَوَعۡدَكَ اللّٰهُمَّ إِنۡ شِئۡتَ لَمۡ تُعۡبَدۡ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pertolongan dan kemenangan dari-Mu, ya Allah kecuali jika Engkau menghendaki untuk tidak disembah (setelahnya).” [H.R. Al Bukhari].

Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawab dengan menurunkan Surat Al Anfal: 9
أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berseru kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu (yang artinya), “Bergembiralah wahai Abu Bakar, telah datang pertolongan Allah. Inilah Jibril yang datang menunggangi kudanya di atas gulungan-gulungan debu.”

Demikianlah… prediksi manusia seketika sirna. Kekuatan personil yang tidak seimbang tidak semata menjadi sebab kemenangan ketika Allah tidak menghendaki, bahkan Allah saja Dzat yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Badr menjadi saksi akan tingginya kalimat Allah dan rendahnya apa yang selama ini diagungkan dan dipertahankan oleh kafir Quraisy. Banyak pemuka Quraisy yang tertawan. Bahkan tidak sedikit yang mati akibat peperangan ini, termasuk di antaranya adalah ayah, paman, dan saudara dari Hindun binti Utbah.

Akan tetapi… kenyataan tersebut tidaklah membuat kafir Quraisy bisa mengambil pelajaran. Bahkan peristiwa tersebut membuat kenangan pahit bagi mereka, dan memunculkan tekad kuat untuk membalaskan dendam mereka kepada kaum muslimin. Maka di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb kaum mkafir Quraisy mempersiapkan perlengkapan perang untuk melakukan serangan balik kepada kaum muslimin. Genap setahun persiapan mereka benar-benar matang. Tidak kurang dari 3000 personil berhasil mereka kumpulkan dengan menghimpun beberapa sekutu mereka dan beberapa kabilah kecil. Bahkan kaum wanita pun mereka bawa untuk menambah semangat. Ikut di antaranya Hindun binti Utbah. Dendam membara yang ada di dadanya membawanyan untuk mengikuti peperangan ini dan ingin melakukan sesuatu untuk membalaskan nafsu amarahnya… Allahul Musta’an.

Pasukan Mekkah kemudian segera berangkat menuju Madinah. Tepatnya pada bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah. Kabar tentang keberangkatan pasukan Quraisy didapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan berbekal keimanan yang ada di dada, kaum muslimin sama sekali tidak merasakan gentar terhadap apa yang akan mereka hadapi. Bahkan mereka bersemangat dan menyeru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk keluar menghadapi pasukan Quraisy dan bertempur di medan terbuka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama kurang lebih 700 personil. Dan akhirnya kedua pasukan bertemu di bukit Uhud. Pertempuran berlangsung dengan dahsyatnya. Perang ini dikenal di dalam sejarah dengan sebutan Perang Uhud. Banyak kisah patriotik dan mengharukan yang bisa menggugah keimanan dan membuka mata kita, betapa iman kita begitu kecil dibanding para pendahulu kita yang saleh… Allahul Musta’an.

Sebenarnya… sekalipun kekuatan personil sangat tidak seimbang, kemenangan hampir saja didapatkan oleh kaum muslimin, jikalau saja pasukan pemanah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk tetap siaga di atas bukit tidak turun dan melanggar perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak memberikan satu pelajaran besar kepada kaum muslimin akan dampak buruk dari melanggar perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekelompok pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid (sebelum beliau berislam), yang semula sudah terdesak mundur, ketika melihat kaum muslimin lengah kembali berbalik dan menyerang dari arah belakang. Akhirnya kaum muslimin terkejut, tidak menyangka akan adanya serangan balik, mereka bertebaran tidak beraturan dan porak poranda kekuatannya, sehingga kafir Quraisy bisa mengambil alih keadaan.

Meskipun demikian, beberapa sahabat utama tetap menunjukkan keutamaan mereka. Di antaranya adalah Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat yang diberi amanah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pedang beliau dalam peperangan tersebut. Abu Dujanah mengemban amanah tersebut dengan sepenuh hati. Dia menyusup ke barisan musuh tanpa rasa takut, sehingga bisa menjangkau barisan kaum wanita kafir Quraisy. Beliau mengisahkan,

“Aku melihat seseorang mengamuk mencakar kesana-kemari, maka kuhampiri orang itu. Ketika pedangku telah siap untuk aku tebaskan kepadanya, ia menjerit keras. Dan tahulah aku bahwa dia seorang wanita. Lalu aku menganggap bahwa pedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlalu mulia untuk sekedar membunuh seorang wanita.” Ternyata wanita tersebut adalah Hindun binti Utbah, Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu menyaksikan peristiwa tersebut, beliau bercerita, “Aku melihat Abu Dujanah telah mengayunkan pedangnya di atas kepala Hindun binti Utbah, namun (ketika tahu bahwa itu wanita) ia kemudian membelokkan arah ayunan pedangnya. Aku bergumam, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui (mengapa ditakdirkan demikian).”

Begitu pula dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertempur bagaikan singa yang mengamuk, tanpa rasa takut. Sampai akhirnya Allah takdirkan seorang budak Jubair bin Muth’im yang bernama Wahsyi bin Harb berhasil menikamnya dengan tombaknya hingga singa Allah tersebut menemui ajalnya. Paman Jubair bin Muth’im terbunuh pada perang Badr, maka untuk membalaskan dendamnya ia berkata kepada budaknya Wahsyi bin Harb, “Jika engkau dapat membunuh Hamzah bin Abdil Muthalib, paman Muhammad sebagai pembalasan akan terbunuhnya pamanku, maka aku akan membebaskanmu.” Maka sepulang dari Uhud, Wahsy dimerdekakan.

Kafir Quraisy merasa menang dan merasa bisa melampiaskan dendam mereka terhadap kekalahan di perang Badr. Bahkan dengan tanpa rasa kemanusiaan, mereka merusak jasad kaum muslimin yang terbunuh. Memotong hidung, telinga, kemaluan. Hindun binti Utbah termasuk salah seorang yang melakukan kebiadaban tersebut. Dia merobek dada paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hamzah radhiyallahu ‘anhu dan mengambil jantungnya serta berusaha mengunyahnya, akan tetapi dia tidak mampu menelannya dan dia muntahkan kembali. Dia berkata ketika itu, “Aku telah mengobat luka diriku (akibat kematian kerabatnya di perang Badr) dengan kematian Hamzah di perang Uhud, aku merobek dadanya dan mengambil jantungnya, hingga hilanglah kesedihanku dengan sebab apa yang telah kudapatkan.” Allahul Musta’an… Begitulah manusia bila tanpa ilmu, tanpa hidayah, mengikuti nafsu amarah, dan dendam. Bahkan semua itu bisa membuat seorang manusia bersikap bagaikan seekor binatang buas. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut dan memohon hidayah serta petunjuk kepada-Nya.

Usai perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya berkeliling mencari jenazah kaum muslimin. Ketika sampai kepada jenazah paman beliau Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menangis terisak sambil memeluknya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Kami tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis dengan sangat melebih tangis beliau atas kematian Hamzah bin Abdil Muthalib.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat mendoakan keburukan kepada kafir Quraisy karena perbuatan mereka di Perang Uhud. Tapi Allah menegur beliau, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَـٰلِمُونَ
“Tidak ada campur tanganmu dalam urusan tersebut sedikitpun. Allah berkehendak menerima taubat mereka ataukah Allah berkehendak mengadzab mereka, maka sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” [Q.S. Ali Imran 128].

Allah menegaskan bahwa hidayah taufik hanya milik-Nya. Allah saja yang Maha Mengetahui siapa saja yang berhak diberi hidayah dan siapa yang terhalangi darinya. Semua itu atas hikmah dan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Duka mendalam tertoreh akibat peperangan tersebut. Tapi dakwah harus tetap berlanjut. Kaum muslimin kembali meneruskan perjalanan dakwah mereka untuk meninggikan kalimat Allah. Tak terasa waktu berjalan 5 tahun setelahnya. Peristiwa demi peristiwa terjadi Allah takdirkan semakin mengokohkan kewibawaan kaum muslimin di hadapan kafir Quraisy. Berbagai cara yang mereka upayakan untuk meruntuhkan keagungan agama Allah tak membuahkan hasil, justru menambah besar pengikut dan penganut agama Islam. Hingga akhirnya terjadilah peristiwa besar pada tahun ke 8 hijriyah yaitu penaklukan Kota Mekkah ke tangan kaum muslimin.

Diawali dengan diadakannya perjanjian Hudaibiyah, sebuah perjanjian yang dibuat untuk menghalangi kaum muslimin menunaikan ibadah ke Mekkah. Sebuah perjanjian yang diharapkan dapat memberikan kerugian besar bagi kaum muslimin ternyata justru membuka pintu kemenangan bagi mereka. Perjanjian yang dibuat oleh kafir Quraisy yang justru mereka langgar sendiri, yang karena pelanggaran tersebut Allah perintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan penyerangan secara tiba-tiba ke Kota Mekkah. Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sekitar 10.000 personil secara diam-diam. Allah senantiasa menakdirkan tertangkapnya mata-mata yang hendak membocorkan penyerangan tersebut, sehingga kafir Quraisy benar-benar terperanjat, terkejut, sama sekali tidak menduga. Hati mereka gentar, nyali mereka ciut melihat betapa besar dan kokohnya kekuatan kaum muslimin.

Abu Sufyan bin Harb suami Hindun binti Utbah termasuk orang pertama dari kafir Quraisy yang mengetahui kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia mencari informasi tentang kaum muslimin bersama Budail bin Warqa’, ia melihat nyala api unggun yang dinyalakan kaum muslimin. Ia bergumam, “Aku belum pernah sekalipun melihat nyala api dari pasukan yang seperti ini.” Ternyata ucapannya terdengar oleh Al Abbas bin Abdul Muthalib paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berislam dan tengah bertugas mencari kabar tentang Quraisy.

Maka Al Abbas radhiyallahu ‘anhu menyarankan agar Abu Sufyan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk ke dalam Islam. Setelah melalui pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya Abu Sufyan berislam. Kemudian atas saran Al Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan suatu keistimewaan kepada Abu Sufyan dalam rangka melembutkan hatinya yang baru saja berislam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan maka keamanannya terjamin, dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram keamanannya terjamin.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Al Abbas agar menahan Abu Sufyan di ujung jalan yang akan dilewati kaum muslimin, agar dia dapat melihat kekuatan kaum muslimin.

Setelahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Sufyan menemui kaumnya. Maka bersegeralah Abu Sufyan masuk Mekkah dan berteriak, “Wahai Quraisy, ini Muhammad datang kepada kalian dan tak akan sanggup kalian halangi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia akan aman.” Hindun binti Utbah terkejut mendengar perkataan suaminya. Serta merta ia bangkit dan dengan emosinya ia berkata kepada kaumnya menyatakan ketidaksetujuannya dengan apa yang diperbuat suaminya, “Bunuhlah oleh kalian orang yang sangat jelek dan jahat ini, (dia) seburuk-buruknya pemimpin suatu kaum.” Abu Sufyan berkata, “Celaka kalian, janganlah wanita ini dapat memperdayai diri kalian. Sungguh Muhammad telah datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Maka barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan ia akan aman.”

Demikianlah… Keadaan ketika itu. Kafir Quraisy ditimpa ketakutan dan kegoncangan. Mereka berhamburan mencari keselamatan diri. Di antara mereka ada pula yang memilih melawan, tapi perlawanan mereka tiada artinya. Pasukan muslimin memasuki kota Mekkah dengan penuh kewibawaan mengumandangkan nama Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya masuk ke Masjidil Haram, mencium Hajar Aswad, berthawaf keliling Ka’bah, menghancurkan berhala dan membersihkan kesyirikan yang ada di sana. Tidak ada kerusakan yang dilakukan kaum muslimin untuk membalas keburukan sikap kafir Quraisy sebelumnya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah (dengan ditegakkannya Islam di sana).” SubhanAllahWal hamdulillah.

Di hari kedua Fathul Makkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan orang-orang Quraisy. Beliau berkhutbah menyeru kepada Islam. Tidak sedikit di antara mereka akhirnya berislam dan termasuk di antara mereka adalah Hindun binti Utbah. Di malam hari Fathul Makkah cahaya Islam mulai menyinari dirinya. Sikap mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menggugah hatinya. Hingga akhirnya di pagi harinya ia meminta suaminya untuk mengantarkannya bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan permohonan maafnya atas segala sikapnya, kemudian ia berislam dan berbaiat kepada beliau. Setelah kembali ke rumahnya. Hindun binti Utbah menghancurkan berhala-berhala yang ada di sana seraya berkata, “Dahulu kami tertipu olehmu.” Dan masya Allah… setelah peristiwa tersebut, jadilah Hindun binti Utbah dan suaminya Abu Sufyan bin Harb termasuk sahabat yang besar peranannya dalam mengokohkan agama Islam. Mereka kerap mengikuti peperangan demi peperangan menegakkan kalimat Allah.

SubhanAllah… Demikianlah ketika hidayah Allah kehendaki bersemi di hati seseorang. Tak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya. Bahkan ketika kedatangan hidayah itu disyukuri dengan terus menambah ketaatan dan kedekatan kepada Allah, maka Allah jadikan hidayah itu subur dan berkembang hingga berbuah amalan yang besar. Oleh karenanya sepantasnyalah kita senantiasa meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan hidayah-Nya. Amin

Referensi:
  • Nisa’ Haular Rasul, Musthafa Asy Sya’labi & Mahmud Mahdi Al Istambuli
  • Shahihul Bukhari
  • Sirah Nabawiyah, Syaikh Mubarak Fury
  • Sirah Ibnu Hisyam


Sumber: Majalah Qudwah edisi 40 vol.04 2016 rubrik Niswah. Pemateri: Al Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.