Cari Blog Ini

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3573

٣٥٧٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الۡعَلَاءِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ؛ قَالَ: قُلۡتُ لِأَبِي سَعِيدٍ: هَلۡ سَمِعۡتَ مِنۡ رَسُولِ اللهِ شَيۡئًا فِي الۡإِزَارِ؟ قَالَ: نَعَمۡ. سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِزۡرَةُ الۡمُؤۡمِنِ إِلَى أَنۡصَافِ سَاقِيهِ، لَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ مَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، وَمَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ فِي النَّارِ) يَقُولُ ثَلَاثًا: (لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَى مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا). [(المشكاة)(٤٣٣١)].
3573. 'Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Sufyan bin 'Uyainah menceritakan kepada kami, dari Al-'Ala` bin 'Abdurrahman, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku bertanya kepada Abu Sa'id: Apakah engkau pernah mendengar perihal kain sarung dari Rasulullah? Beliau menjawab: Iya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kain sarung orang mukmin itu sampai tengah betisnya. Tidak berdosa baginya apa yang di antara tengah betis sampai mata kaki. Adapun yang di bawah mata kaki berada di neraka.” Beliau bersabda tiga kali, “Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kain sarungnya karena sombong.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 4093

٣٠ – بَابٌ فِي قَدۡرِ مَوۡضِعِ الۡإِزَارِ

30. Bab tentang ukuran panjang kain sarung

٤٠٩٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ، نا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡعَلَاءِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلۡتُ أَبَا سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ عَنِ الۡإِزَارِ، فَقَالَ: عَلَى الۡخَبِيرِ سَقَطۡتَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِزۡرَةُ الۡمُسۡلِمِ إِلَى أَنۡصَافِ السَّاقِ، وَلَا حَرَجَ - أَوۡ: لَا جُنَاحَ - فِيمَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، [وَ]مَا كَانَ أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، [وَ]مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ). [(الصحيحة)(٢٠١٧)].
4093. Hafsh bin 'Umar telah menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Al-'Ala` bin 'Abdurrahman, dari ayahnya, beliau berkata: Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al-Khudri tentang kain sarung. Beliau berkata: Engkau datang kepada orang yang tahu persis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kain sarung seorang muslim itu sampai tengah betis. Dan tidak mengapa -atau: tidak berdosa- di antara tengah betis sampai dua mata kaki. Adapun yang di bahwa mata kaki, maka itu berada di neraka. Dan siapa saja yang menyeret sarungnya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya.”

Shahih Muslim hadits nomor 2085

٩ – بَابُ تَحۡرِيمِ جَرِّ الثَّوۡبِ خُيَلَاءَ، وَبَيَانِ حَدِّ مَا يَجُوزُ إِرۡخَاؤُهُ إِلَيۡهِ وَمَا يُسۡتَحَبُّ

9. Bab haramnya menyeret pakaiannya karena sombong dan penjelasan batasan sampai mana bolehnya menurunkan pakaian dan batasan sampai mana disukainya

٤٢ – (٢٠٨٥) – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ وَعَبۡدِ اللهِ بۡنِ دِينَارٍ وَزَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، كُلُّهُمۡ يُخۡبِرُهُ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَىٰ مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ خُيَلَاءَ).
42. (2085). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Nafi', 'Abdullah bin Dinar, dan Zaid bin Aslam, mereka seluruhnya mengabarkannya dari Ibnu 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan memandang orang yang menyeret pakaiannya karena sombong.”
(…) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ. حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَعُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - وَهُوَ الۡقَطَّانُ -. كُلُّهُمۡ عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ وَأَبُو كَامِلٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ. (ح) وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ. كِلَاهُمَا عَنۡ أَيُّوبَ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ وَابۡنُ رُمۡحٍ، عَنِ اللَّيۡثِ بۡنِ سَعۡدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا هَارُونُ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ، كُلُّ هٰؤُلَاءِ عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ مَالِكٍ. وَزَادُوا فِيهِ: (يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
[البخاري: كتاب اللباس، باب من جر ثوبه من الخيلاء، رقم: ٥٧٩١].
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: 'Abdullah bin Numair dan Abu Usamah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Al-Mutsanna dan 'Ubaidullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami. Mereka semua dari 'Ubaidullah. (Dalam riwayat lain) Abur-Rabi' dan Abu Kamil telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Hammad menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Isma'il menceritakan kepada kami. Keduanya dari Ayyub. (Dalam riwayat lain) Qutaibah dan Ibnu Rumh telah menceritakan kepada kami, dari Al-Laits bin Sa'd. (Dalam riwayat lain) Harun Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: Usamah menceritakan kepada kami. Mereka seluruhnya dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semisal hadits Malik. Mereka menambahkan padanya, “Pada hari kiamat.”
٤٣ - (…) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِيهِ وَسَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ وَنَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ الَّذِي يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الۡخُيَلَاءِ، لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
[البخاري: كتاب اللباس، باب من جر ثوبه من الخيلاء، رقم: ٥٧٩١].
43. Abuth Thahir telah menceritakan kepadaku: 'Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: 'Umar bin Muhammad mengabarkan kepadaku, dari ayahnya, Salim bin 'Abdullah, dan Nafi', dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya karena sombong, tidak akan Allah pandang pada hari kiamat.”
(…) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنِ الشَّيۡبَانِيِّ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، كِلَاهُمَا عَنۡ مُحَارِبِ بۡنِ دِثَارٍ وَحَبَلَةَ بۡنِ سُحَيۡمٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِ حَدِيثِهِمۡ.
[البخاري: كتاب اللباس، باب من جر ثوبه من الخيلاء، رقم: ٥٧٩١].
Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: 'Ali bin Mushir menceritakan kepada kami, dari Asy-Syaibani. (Dalam riwayat lain) Ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami, keduanya dari Muharib bin Ditsar dan Habalah bin Suhaim, dari Ibnu 'Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam... seperti hadits mereka.
٤٤ - (…) - وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا حَنۡظَلَةُ. قَالَ: سَمِعۡتُ سَالِمًا، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ مِنَ الۡخُيَلَاءِ لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
44. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Hanzhalah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Salim, dari Ibnu 'Umar. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.”
(…) - وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا حَنۡظَلَةُ بۡنُ أَبِي سُفۡيَانَ. قَالَ: سَمِعۡتُ سَالِمًا قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ، مِثۡلَهُ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: ثِيَابَهُ.
Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Hanzhalah bin Abu Sufyan menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Salim berkata: Aku mendengar Ibnu 'Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda seperti hadits di atas. Hanya saja beliau berkata: tsiyabahu.
٤٥ - (…) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ. قَالَ: سَمِعۡتُ مُسۡلِمَ بۡنَ يَنَّاقَ يُحَدِّثُ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّهُ رَأَىٰ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ. فَقَالَ: مِمَّنۡ أَنۡتَ؟ فَانۡتَسَبَ لَهُ. فَإِذَا رَجُلٌ مِنۡ بَنِي لَيۡثٍ، فَعَرَفَهُ ابۡنُ عُمَرَ. قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، بِأُذُنَيَّ هَاتَيۡنِ، يَقُولُ: (مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ، لَا يُرِيدُ بِذٰلِكَ إِلَّا الۡمَخِيلَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
45. Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Muslim bin Yannaq menceritakan dari Ibnu 'Umar, bahwa beliau melihat seseorang menyeret pakaiannya. Beliau bertanya: Dari mana asalmu? Lalu orang tersebut menyebutkan nasabnya. Ternyata beliau adalah seorang laki-laki dari Bani Laits, dan Ibnu 'Umar mengenalnya. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dua telingaku ini, beliau bersabda, “Siapa saja yang menyeret kain sarungnya yang tidak ia maksudkan kecuali kesombongan, maka sungguh Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.”
(…) - وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ - يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي سُلَيۡمَانَ -. (ح) وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا أَبُو يُونُسَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي خَلَفٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَبِي بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ - يَعۡنِي ابۡنَ نَافِعٍ -، كُلُّهُمۡ عَنۡ مُسۡلِمِ بۡنِ يَنَّاقَ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.
غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ أَبِي يُونُسَ: عَنۡ مُسۡلِمٍ، أَبِي الۡحَسَنِ.
وَفِي رِوَايَتِهِمۡ جَمِيعًا: (مَنۡ جَرَّ إِزَارَهُ)، وَلَمۡ يَقُولُوا: ثَوۡبَهُ.
Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: 'Abdul Malik bin Abu Sulaiman menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) 'Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Abu Yunus menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Abu Khalaf telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Abu Bukair menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Nafi' menceritakan kepada kami. Mereka seluruhnya dari Muslim bin Yannaq, dari Ibnu 'Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam... semisal hadits tersebut.
Hanya saja di dalam hadits Abu Yunus: Dari Muslim Abul Hasan.
Dan pada seluruh riwayat mereka, “Siapa saja yang menyeret kain sarungnya”, dan mereka tidak mengatakan: pakaiannya.
٤٦ - (…) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ وَهَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَابۡنُ أَبِي خَلَفٍ. وَأَلۡفَاظُهُمۡ مُتَقَارِبَةٌ. قَالُوا: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ مُحَمَّدَ بۡنَ عَبَّادِ بۡنِ جَعۡفَرٍ يَقُولُ: أَمَرۡتُ مُسۡلِمَ بۡنَ يَسَارٍ، مَوۡلَىٰ نَافِعِ بۡنِ عَبۡدِ الۡحَارِثِ أَنۡ يَسۡأَلَ ابۡنَ عُمَرَ. قَالَ: وَأَنَا جَالِسٌ بَيۡنَهُمَا: أَسَمِعۡتَ، مِنَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الَّذِي يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنَ الۡخُيَلَاءِ، شَيۡئًا؟ قَالَ: سَمِعۡتُهُ يَقُولُ: (لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
46. Muhammad bin Hatim, Harun bin 'Abdullah, dan Ibnu Abu Khalaf telah menceritakan kepadaku. Dan lafazh-lafazh mereka mirip. Mereka berkata: Rauh bin 'Ubadah menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Muhammad bin 'Abbad bin Ja'far berkata: Aku menyuruh Muslim bin Yasar, maula Nafi' bin 'Abdul Harits, untuk bertanya kepada Ibnu 'Umar. Beliau berkata: Dan aku duduk di antara mereka berdua: Apakah engkau pernah mendengar sesuatu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam perihal orang yang menyeret kain sarungnya karena sombong? Beliau menjawab: Aku mendengar beliau bersabda, “Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.”

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Tempat-tempat Dhammah

مَوَاضِعُ الضَّمَّةِ

قَالَ: فَأَمَّا الضَّمَّةُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي أَرۡبَعَةِ مَوَاضِعَ: الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ، وَجَمۡعِ التَّكۡسِيرِ، وَجَمۡعِ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمِ، وَالۡفِعۡلِ الۡمُضَارِعِ الَّذِي لَمۡ يَتَّصِلۡ بِآخِرِهِ شَيۡءٌ.
Adapun dhammah merupakan tanda rafa' di empat tempat: isim mufrad, jamak taksir, jamak muannats salim, dan fi'il mudhari' yang tidak ada apa pun bersambung di belakangnya.
أَقُولُ: الضَّمَّةُ: هِيَ الۡعَلَامَةُ الۡأَصۡلِيَةُ لِلرَّفۡعِ كَمَا تَقَدَّمَ؛ وَلِهَٰذَا بَدَأَ بِهَا الۡمُصَنِّفُ.
وَهِيَ تَكُونُ عَلَامَةً عَلَى رَفۡعِ الۡكَلِمَةِ فِي أَرۡبَعَةِ مَوَاضِعَ:
Dhammah adalah alamat asli untuk rafa' sebagaimana telah lalu. Untuk itulah penyusun memulai dengannya.
Dhammah adalah alamat rafa' suatu kata di empat tempat:
الۡأَوَّلُ: الۡاسۡمُ الۡمُفۡرَدُ، وَالۡمُرَادُ بِهِ هُنَا: (مَا لَيۡسَ مُثَنَّى وَلَا مَجۡمُوعًا وَلَا مُلۡحَقًا بِهِمَا وَلَا مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ)؛ فَإِنَّ كُلًّا مِنۡ هَٰذِهِ لَا يُقَالُ لَهُ مُفۡرَدٌ فِي هَٰذَا الۡبَابِ، سَوَاءٌ كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (جَاءَ زَيۡدٌ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ﴾ [البقرة: ٢٥٨] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (جَاءَتۡ فَاطِمَةُ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَخۡرَجَتِ الۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا﴾ [الزلزلة: ٢] فَكُلٌّ مِنۡ (زَيۡدٌ وَإِبۡرَاهِيمُ وَفَاطِمَةُ وَالۡأَرۡضُ) اسۡمٌ مُفۡرَدٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ رَفۡعُهُ بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ كَمَا فِي نَحۡوُ: (سَافَرَ الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي) وَنَحۡوُ: (حَفِظَتۡ لَيۡلَى الۡقُرۡآنَ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿قَالَ مُوسَىٰ﴾ [البقرة: ٥٤] فَكُلٌّ مِنۡ (الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي وَلَيۡلَى وَمُوسَى) اسۡمٌ مُفۡرَدٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الۡمُقَدَّرَةُ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ فِي (الۡفَتَى وَلَيۡلَى وَمُوسَى) وَالثِّقَلُ فِي (الۡقَاضِي) وَاشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ فِي (غُلَامِي).
1. Isim mufrad. Yang diinginkan dengan isim mufrad di sini adalah: setiap kata yang bukan mutsanna, jamak, bukan yang mulhaq dengan keduanya, dan bukan termasuk asma`ul khamsah. Karena setiap dari ini tidak disebut mufrad dalam bab ini. Sama saja apakah mudzakkar seperti: جَاءَ زَيۡدٌ dan firman Allah ta'ala: قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ (QS. Al-Baqarah: 258); atau untuk muannats seperti: جَاءَتۡ فَاطِمَةُ dan firman Allah ta'ala: وَأَخۡرَجَتِ الۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا (QS. Az-Zalzalah: 2). Setiap dari زَيۡدٌ وَإِبۡرَاهِيمُ وَفَاطِمَةُ وَالۡأَرۡضُ adalah isim mufrad marfu' dan tanda rafa'nya adalah dhammah yang nampak di akhir kata.
Terkadang rafa'nya dengan dhammah muqaddarah sebagaimana dalam contoh: سَافَرَ الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي dan حَفِظَتۡ لَيۡلَى الۡقُرۡآنَ dan firman Allah ta'ala: قَالَ مُوسَىٰ (QS. Al-Baqarah: 54). Setiap dari kata الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي وَلَيۡلَى وَمُوسَى adalah isim mufrad marfu' dan tanda rafa'nya adalah dhammah muqaddarah. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur pada الۡفَتَى وَلَيۡلَى وَمُوسَى dan tsiqal pada الۡقَاضِي dan tempatnya terpakai oleh harakat yang sesuai pada غُلَامِي.
الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: جَمۡعُ التَّكۡسِيرُ، وَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى أَكۡثَرَ مِنِ اثۡنَيۡنِ أَوِ اثۡنَتَيۡنِ مَعَ تَغَيُّرٍ فِي صِيغَةِ مُفۡرَدِهِ) سَوَاءٌ كَانَ لِمُذَكَّرٍ نَحۡوُ: (جَلَسَ الرِّجَالُ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ﴾ [البينة: ٣] أَوۡ لِمُؤَنَّثٍ نَحۡوُ: (جَاءَتِ الۡهُنُودُ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَحُورٌ عِينٌ﴾ [الواقعة: ٢٢] فَكُلٌّ مِنۡ (الرِّجَالُ وَكُتُبٌ وَالۡهُنُودُ وَحُورٌ) جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ رَفۡعُهُ بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ كَمَا فِي نَحۡوِ: (جَاءَ الۡأُسَارَى) وَ(تَزَوَّجَتِ الۡعَذَارَى) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي﴾ [البقرة: ١٨٦] فَكُلٌّ مِنۡ (الۡأُسَارَى وَالۡعَذَارَى وَعِبَادِي) جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الۡمُقَدَّرَةُ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ فِي (الۡأُسَارَى وَالۡعَذَارَى) وَحَرَكَةُ الۡمُنَاسَبَةِ فِي (عِبَادِي).
وَأَنۡتَ إِذَا تَأَمَّلۡتَ فِي مُفۡرَدَاتِ هَٰذِهِ الۡجُمُوعِ وَجَدۡتَ أَنَّ صِيغَتَهَا لَمۡ تَسۡلَمۡ مِنَ التَّغۡيِيرِ أَثۡنَاءَ جَمۡعِهَا، إِمَّا بِزِيَادَةٍ فِي الۡجَمۡعِ مَعَ تَغَيُّرٍ فِي الشَّكۡلِ كَمَا فِي نَحۡوِ (رَجُلٍ وَرِجَالٍ) وَإِمَّا بِنَقۡصٍ فِي الۡجَمۡعِ مَعَ تَغَيُّرٍ فِي الشَّكۡلِ كَمَا فِي نَحۡوِ: (كِتَابٍ وَكُتُبٍ) وَإِمَّا بِغَيۡرِ ذَلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ التَّغۡيِيرِ.
2. Jamak taksir yaitu setiap kata yang menunjukkan kepada lebih dari dua disertai perubahan di bentuk mufradnya. Sama saja baik mudzakkar seperti: جَلَسَ الرِّجَالُ dan firman Allah ta'ala: فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ (QS. Al-Bayyinah: 3); atau untuk muannats seperti: جَاءَتِ الۡهُنُودُ dan firman Allah ta'ala: وُحُورٌ عِينٌ (QS. Al-Waqi'ah: 22). Jadi setiap dari kata الرِّجَالُ وَكُتُبٌ وَالۡهُنُودُ وَحُورٌ adalah jamak taksir marfu', tanda rafa'nya adalah dhammah yang nampak di akhir kata.
Terkadang rafa'nya dengan dhammah muqaddarah sebagaimana dalam contoh: جَاءَ الۡأُسَارَى dan تَزَوَّجَتِ الۡعَذَارَى dan firman Allah ta'ala: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي (QS. Al-Baqarah: 186). Jadi setiap dari الۡأُسَارَى وَالۡعَذَارَى وَعِبَادِي adalah jamak taksir marfu', tanda rafa'nya adalah dhammah muqaddarah. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur pada الۡأُسَارَى وَالۡعَذَارَى dan harakat yang sesuai di عِبَادِي.
Dan apabila engkau perhatikan di kosa kata jamak ini, engkau dapati bahwa bentuknya tidak selamat dari perubahan di tengah-tengah bentuk jamaknya. Bisa dengan penambahan pada bentuk jamaknya disertai perubahan harakat sebagaimana pada contoh رَجُلٍ وَرِجَالٍ. Bisa dengan pengurangan pada bentuk jamaknya disertai perubahan harakat sebagaimana pada contoh: كِتَابٍ وَكُتُبٍ. Bisa pula dengan selain itu dengan berbagai jenis perubahan.
الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ: جَمۡعُ الۡمُؤَنَّثِ السَّالِمُ، وَهُوَ (مَا جُمِعَ بِأَلِفٍ وَتَاءٍ مَزِيدَتَيۡنِ) نَحۡوُ: (أَحۡسَنَتِ الۡهِنۡدَاتُ تَرۡبِيَةَ أَوۡلَادِهِنَّ) فَـ(الۡهِنۡدَاتُ) جَمۡعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. وَقَدۡ زَادَ عَلَى مُفۡرَدِهِ وَهُوَ (هِنۡدُ) بِالۡأَلِفِ وَالتَّاءِ.
وَقَدۡ يَكُونُ رَفۡعُهُ بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ. وَذَلِكَ فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ إِذَا أُضِيفَ إِلَى يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ نَحۡوُ: (أَثۡمَرَتۡ شَجَرَاتِي) وَفِي التَّنۡزِيلِ ﴿هَٰؤُلَآءِ بَنَاتِي﴾ [الحجر: ٧١] فَكُلٌّ مِنۡ (شَجَرَاتِي وَبَنَاتِي) جَمۡعُ مُؤَنَّثٍ سَالِمٌ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الۡمُقَدَّرَةُ عَلَى مَا قَبۡلَ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا اشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ.
فَإِنۡ كَانَتِ التَّاءُ أَصۡلِيَةً لِوُجُودِهَا فِي الۡمُفۡرَدِ نَحۡوُ: (بَيۡتٍ وَأَبۡيَاتٍ) وَكَذَلِكَ الۡأَلِفُ نَحۡوُ: (قَاضِي وَقُضَاةٍ) لَمۡ يَكُنۡ جَمۡعَ مُؤَنَّثٍ سَالِمًا، بَلۡ هُوَ جَمۡعُ تَكۡسِيرٍ.
3. Jamak muannats salim yaitu setiap kata yang dijamak dengan huruf alif dan ta` tambahan, contoh: أَحۡسَنَتِ الۡهِنۡدَاتُ تَرۡبِيَةَ أَوۡلَادِهِنَّ. Maka, الۡهِنۡدَاتُ adalah jamak muannats salim marfu', tanda rafa'nya adalah dhammah yang tampak di akhir kata. Dan huruf alif dan ta` ditambahkan dari bentuk mufradnya, yaitu هِنۡدٌ.
Terkadang rafa'nya dengan dhammah muqaddarah. Dan hal itu ada di satu tempat. Apabila diidhafahkan kepada huruf ya` mutakallim, contoh: أَثۡمَرَتۡ شَجَرَاتِي dan di dalam Al-Qur`an: هَٰؤُلَآءِ بَنَاتِي (QS. Al-Hijr: 71). Jadi setiap dari شَجَرَاتِي وَبَنَاتِي adalah jamak muannats salim marfu', tanda rafa'nya adalah dhammah muqaddarah pada huruf sebelum ya` mutakallim. Yang menghalangi dari munculnya adalah terpakainya tempat oleh harakat yang sesuai.
Adapun jika huruf ta` nya asli terdapat di bentuk mufrad, seperti: بَيۡتٍ وَأَبۡيَاتٍ, demikian pula huruf alif seperti: قَاضِي وَقُضَاةٍ, maka ini bukan jamak muannats salim. Namun ini adalah jamak taksir.
الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: الۡفِعۡلُ الۡمُضَارِعُ نَحۡوُ: (يَحۡرِصُ التَّقِيُّ عَلَى الۡخَيۡرِ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَاللهُ يَقۡبِضُ وَيَبۡصُطُ﴾ [البقرة: ٢٤٥] فَكُلٌّ مِنۡ (يَحۡرِصُ وَيَقۡبِضُ وَيَبۡسُطُ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَرۡفُوعٌ؛ لِتَجَرُّدِهِ عَنِ النَّاصِبِ وَالۡجَازِمِ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ.
وَقَدۡ يَكُونُ رَفۡعُهُ بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ نَحۡوُ: (يَسۡعَى زَيۡدٌ إِلَى الۡمَجۡدِ) وَ(يُزَكِّي مُحَمَّدٌ مَالَهُ) وَ(يَدۡعُو عَلِيٌّ رَبَّهُ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ﴾ [الرحمن: ٢٧] وَ﴿وَاللهُ يَدۡعُوا إِلَىٰ دَارِ السَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُسۡتَقِيمٍ﴾ [يونس: ٢٥] فَكُلٌّ مِنۡ (يَسۡعَى وَيُزَكِّي وَيَدۡعُو وَيَبۡقَى وَيَهۡدِي) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَرۡفُوعٌ؛ لِتَجَرُّدِهِ عَنِ النَّاصِبِ وَالۡجَازِمِ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ الۡمُقَدَّرَةُ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ فِي (يَسۡعَى وَيَبۡقَى) وَالثِّقَلُ فِي الۡبَاقِي.
4. Fi'il mudhari', contoh: يَحۡرِصُ التَّقِيُّ عَلَى الۡخَيۡرِ dan firman Allah ta'ala: وَاللهُ يَقۡبِضُ وَيَبۡسُطُ (QS. Al-Baqarah: 245). Jadi setiap dari يَحۡرِصُ وَيَقۡبِضُ وَيَبۡسُطُ adalah fi'il mudhari' marfu' karena tidak ada yang menashabkan dan menjazmkan. Dan tanda rafa'nya adalah dhammah yang tampak di akhir kata.
Dan terkadang rafa'nya dengan dhammah muqaddarah contoh: يَسۡعَى زَيۡدٌ إِلَى الۡمَجۡدِ dan يُزَكِّي مُحَمَّدٌ مَالَهُ dan يَدۡعُو عَلِيٌّ رَبَّهُ dan firman Allah ta'ala: وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ (QS. Ar-Rahman: 27) dan وَاللهُ يَدۡعُوا إِلَىٰ دَارِ السَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُسۡتَقِيمٍ (QS. Yunus: 25). Jadi setiap dari يَسۡعَى وَيُزَكِّي وَيَدۡعُو وَيَبۡقَى وَيَهۡدِي adalah fi'il mudhari' marfu' karena tidak ada yang menashabkan dan menjazmkan. Tanda rafa'nya adalah dhammah muqaddarah. Yang menghalangi dari munculnya adalah at-ta'adzdzur pada يَسۡعَى وَيَبۡقَى dan ats-tsiqal pada contoh sisanya.
وَقَوۡلُهُ: (لَمۡ يَتَّصِلۡ بِآخِرِ شَيۡءٌ) أَيۡ: يُشۡتَرَطُ فِي الۡمُضَارِعِ الَّذِي يُرۡفَعُ بِالضَّمَّةِ ظَاهِرَةً كَانَتۡ أَوۡ مُقَدَّرَةً أَلَّا يَتَّصِلَ بِآخِرِهِ نُونُ نِسۡوَةٍ وَلَا نُونُ تَوۡكِيدٍ خَفِيفَةٍ أَوۡ ثَقِيلَةٍ وَلَا أَلِفُ اثۡنَيۡنِ وَلَا وَاوُ جَمَاعَةٍ وَلَا يَاءُ مُخَاطَبَةٍ، كَمَا رَأَيۡتَ فِي الۡأَمۡثِلَةِ الۡمُتَقَدِّمَةِ.
Ucapan beliau: “Dan tidak ada apa pun bersambung di akhir kata” yakni disyaratkan di fi'il mudhari' yang dirafa' dengan dhammah yang nampak atau yang muqaddarah untuk tidak bersambung di akhir katanya dengan nun niswah, nun taukid khafifah atau tsaqilah, alif itsnain, wawu jama'ah, dan ya` mukhathabah. Sebagaimana yang engkau telah lihat di contoh-contoh yang terdahulu.
فَإِنِ اتَّصَلَتۡ بِهِ نُونُ النِّسۡوَةِ بُنِيَ مَعَهَا عَلَى السُّكُونِ نَحۡوُ: (الصَّالِحَاتُ يَتَعَلَّمۡنَ أَحۡكَامَ دِينِهِنَّ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَالۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ﴾ [البقرة: ٢٣٣] فَـ(يَتَعَلَّمۡنَ) وَمِثۡلُهُ (يُرۡضِعۡنَ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ؛ لِاتِّصَالِهِ بِنُونِ النِّسۡوَةِ. وَ(نُونُ النِّسۡوَةِ) ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ رَفۡعٍ فَاعِلٌ.
Apabila nun niswah bersambung di akhir fi'il mudhari', maka mabni atas harakat sukun. Contoh: الصَّالِحَاتُ يَتَعَلَّمۡنَ أَحۡكَامَ دِينِهِنَّ dan firman Allah ta'ala: وَالۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ (QS. Al-Baqarah: 233). Jadi يَتَعَلَّمۡنَ dan يُرۡضِعۡنَ adalah fi'il mudhari' mabni atas harakat sukun karena bersambung dengan nun niswah. Dan nun niswah adalah dhamir muttashil pada kedudukan rafa' sebagai fa'il.
وَإِنِ اتَّصَلَتۡ بِهِ نُونُ التَّوۡكِيدِ -خَفِيفَةً كَانَتۡ أَوۡ ثَقِيلَةً- بُنِيَ مَعَهَا عَلَى الۡفَتۡحِ نَحۡوُ: (لَيَكۡتُبَنَّ زَيۡدٌ دَرۡسَهُ، وَلَيَجۡتَهِدَنۡ فِي مُذَاكَرَتِهِ) وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيُسۡجَنَنَّ وَلَيَكُونًا﴾ [يوسف: ٣٢] (فَيَكۡتُبَنَّ) وَمِثۡلُهُ (يُسۡجَنَنَّ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡفَتۡحِ؛ لِاتِّصَالِهِ بِنُونِ التَّوۡكِيدِ الثَّقِيلَةِ.
وَ(يَجۡتَهِدَنۡ) وَمِثۡلُهُ (يَكُونَنۡ) فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡفَتۡحِ أَيۡضًا؛ لِاتِّصَالِهِ بِنُونِ التَّوۡكِيدِ الۡخَفِيفَةِ. وَ(نُونُ التَّوۡكِيدِ) ثَقِيلَةٌ، أَوۡ خَفِيفَةٌ حَرۡفٌ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الۡإِعۡرَابِ.
Apabila nun taukid baik khafifah atau tsaqilah bersambung di akhir fi'il mudhari' maka mabni atas tanda fathah. Contoh: لَيَكۡتُبَنَّ زَيۡدٌ دَرۡسَهُ وَلَيَجۡتَهِدَنۡ فِي مُذَاكَرَتِهِ dan firman Allah ta'ala: لَيُسۡجَنَنَّ وَلَيَكُونًا (QS. Yusuf: 32). Jadi يَكۡتُبَنَّ dan يُسۡجَنَنَّ adalah fi'il mudhari' mabni atas fathah karena bersambung dengan nun taukid tsaqilah. Dan يَجۡتَهِدَنۡ dan يَكُونَنۡ adalah fi'il mudhari' mabni atas fathah pula karena bersambung dengan nun taukid khafifah. Dan nun taukid tsaqilah atau khafifah adalah huruf tidak memiliki kedudukan i'rab.
وَإِنِ اتَّصَلَ بِهِ أَلِفُ اثۡنَيۡنِ نَحۡوُ: (يَضۡرِبَانِ وَتَضۡرِبَانِ) أَوۡ وَاوُ جَمَاعَةٍ نَحۡوُ: (يَضۡرِبُونَ وَتَضۡرِبُونَ) أَوۡ يَاءُ مُخَاطَبَةٍ نَحۡوُ: (تَضۡرِبِينَ) كَانَ إِعۡرَابُهُ بِالۡحُرُوفِ لَا بِالۡحَرَكَاتِ. فَهُوَ فِي هَٰذِهِ الۡأَمۡثِلَةِ مَرۡفُوعٌ؛ لِتَجَرُّدِهِ عَنِ النَّاصِبِ وَالۡجَازِمِ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ ثُبُوتُ النُّونِ، وَالۡأَلِفُ أَوِ الۡوَاوُ أَوِ الۡيَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ رَفۡعٍ فَاعِلٌ، كَمَا سَيَأۡتِي بَيَانُهُ فِي (نِيَابَةِ النُّونِ عَنِ الضَّمَّةِ) إِنۡ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Dan apabila alif itsnain bersambung di akhir fi'il mudhari' seperti يَضۡرِبَانِ وَتَضۡرِبَانِ atau wawu jama'ah seperti يَضۡرِبُونَ وَتَضۡرِبُونَ atau ya` mukhathabah seperti تَضۡرِبِينَ, maka i'rabnya dengan huruf, bukan dengan harakat. Sehingga di dalam contoh ini, ia marfu' karena tidak ada yang menashabkan dan menjazmkan dan tanda rafa'nya adalah tetapnya huruf nun (tsubutun nun). Dan alif, wawu, atau ya` adalah dhamir muttashil mabni atas sukun dalam kedudukan rafa' sebagai fa'il. Sebagaimana penjelasannya akan datang di dalam bab “Penggantian Nun dari Dhammah” insya Allah ta'ala.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Penggantian Huruf Ya` dari Kasrah

نِيَابَةُ الۡيَاءِ عَنِ الۡكَسۡرَةِ

قَالَ: وَأَمَّا الۡيَاءُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلۡخَفۡضِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ: فِي الۡاسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَفِي التَّثۡنِيَةِ، وَالۡجَمۡعِ.
Adapun huruf ya` merupakan tanda khafdh di tiga tempat: asma`ul khamsah, isim mutsanna, dan jamak mudzakkar salim.
أَقُولُ: لَمَّا انۡتَهَى الۡمُصَنِّفُ مِنَ الۡكَلَامِ عَلَى الۡكَسۡرَةِ أَخَذَ يَتَكَلَّمُ عَلَى مَا يَنُوبُ عَنۡهَا، مُقَدِّمًا الۡيَاءَ عَلَى غَيۡرِهَا؛ فَذَكَرَ أَنَّهَا تَكُونُ عَلَامَةً عَلَى خَفۡضِ الۡكَلِمَةِ -نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ- فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ:
Ketika penyusun telah selesai membicarakan kasrah, beliau mulai membicarakan pengganti kasrah. Beliau mendahulukan huruf ya` dari yang lainnya. Beliau menyebutkan bahwa huruf ya` merupakan tanda khafdh suatu kata -sebagai ganti dari kasrah- pada tiga tempat:
أَوَّلُهَا: فِي الۡاسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ الَّتِي تَقَدَّمَتۡ فِي عَلَامَاتِ الرَّفۡعِ.
فَمِثَالُهَا مَخۡفُوضَةً قَوۡلُكَ: (اشۡكُرۡ لِأَبِيكَ) وَ(اعۡطِفۡ عَلَى أَخِيكَ) وَ(احۡتَجِبِي مِنۡ حَمِيكِ) وَ(حَافِظۡ عَلَى فِيكَ) وَ(اسۡتَفِدۡ مِنۡ ذِي الۡعِلۡمِ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ﴾ [يوسف: ٤]، وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَوۡمَ يَفِرُّ الۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ﴾ [عبس: ٣٤]، وَ﴿يَسۡئَلُونَكَ عَنۡ ذِى الۡقَرۡنَيۡنِ﴾ [الكهف: ٨٣] فَكُلُّ اسۡمٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَسۡمَاءِ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡيَاءُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ. وَهُوَ مُضَافٌ وَمَا بَعۡدَهُ مِنۡ ضَمِيرٍ أَوۡ اسۡمٍ ظَاهِرٍ مُضَافٌ إِلَيۡهِ.
1. Pada asma`ul khamsah yang telah dijelaskan pada tanda-tanda rafa'. Contoh asma`ul khamsah yang dikhafdh adalah ucapanmu: اشۡكُرۡ لِأَبِيكَ, اعۡطِفۡ عَلَى أَخِيكَ, احۡتَجِبِي مِنۡ حَمِيكِ, حَافِظۡ عَلَى فِيكَ, dan اسۡتَفِدۡ مِنۡ ذِي الۡعِلۡمِ. Serta firman Allah ta'ala: إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ (QS. Yusuf: 4), يَوۡمَ يَفِرُّ الۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ (QS. 'Abasa: 34), dan يَسۡئَلُونَكَ عَنۡ ذِى الۡقَرۡنَيۡنِ (QS. Al-Kahfi: 83). Jadi setiap isim dari isim-isim yang disebutkan adalah dikhafdh karena diawali huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah huruf ya` sebagai ganti dari kasrah, karena ia termasuk asma`ul khamsah. Ia juga mudhaf. Sedangkan dhamir atau isim zhahir setelahnya adalah mudhaf ilaih.
الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: الۡمُثَنَّى -وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ- نَحۡوُ: (نَظَرۡتُ إِلَى الۡفَارِسَيۡنِ عَلَى الۡفَرَسَيۡنِ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿خَلَقَ الۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ﴾ [فصلت: ٩] وَنَحۡوُ (مَرَرۡتُ بِوَرۡدَتَيۡنِ جَمِيلَتَيۡنِ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى :﴿قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٌ فِي فِئَتَيۡنِ﴾ [آل عمران: ١٣] فَكُلٌّ مِنۡ (الۡفَارِسَيۡنِ وَالۡفَرَسَيۡنِ وَيَوۡمَيۡنِ وَوَرۡدَتَيۡنِ وَفِئَتَيۡنِ) مُثَنًّى مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡيَاءُ الۡمَفۡتُوحُ مَا قَبۡلَهَا الۡمَكۡسُورُ مَا بَعۡدَهَا نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
2. Isim mutsanna -telah lewat definisinya-, contoh: نَظَرۡتُ إِلَى الۡفَارِسَيۡنِ عَلَى الۡفَرَسَيۡنِ dan firman Allah ta'ala: خَلَقَ الۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ (QS. Fushshilat: 9). Contoh lain: مَرَرۡتُ بِوَرۡدَتَيۡنِ جَمِيلَتَيۡنِ dan firman Allah ta'ala: قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٌ فِي فِئَتَيۡنِ (QS. Ali 'Imran: 13). Jadi setiap dari الۡفَارِسَيۡنِ, الۡفَرَسَيۡنِ, يَوۡمَيۡنِ, وَرۡدَتَيۡنِ, dan فِئَتَيۡنِ adalah mutsanna yang dikhafdh, karena diawali huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah huruf ya` yang huruf sebelumnya difathah dan huruf setelahnya dikasrah sebagai ganti dari kasrah. Dan huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.
الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ: جَمۡعُ الۡمُذَكَّرِ السَّالِمُ -وَقَدۡ تَقَدَّمَ تَعۡرِيفُهُ- نَحۡوُ: (اقۡتَرِبۡ مِنَ الصَّالِحِينَ) وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ رَحۡمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِينَ﴾ [الأعراف: ٥٦] فَكُلٌّ مِنَ (الصَّالِحِينَ وَالۡمُحۡسِنِينَ) جَمۡعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡيَاءُ الۡمَكۡسُورُ مَا قَبۡلَهَا الۡمَفۡتُوحُ مَا بَعۡدَهَا نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ، وَالنُّونُ عِوَضٌ عَنِ التَّنۡوِينِ فِي الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ.
3. Jamak mudzakkar salim -telah lewat definisinya-, contoh: اقۡتَرِبۡ مِنَ الصَّالِحِينَ dan firman Allah ta'ala: إِنَّ رَحۡمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِينَ (QS. Al-A'raf: 56). Jadi setiap dari الصَّالِحِينَ dan الۡمُحۡسِنِينَ adalah jamak mudzakkar salim dikhafdh, karena diawali huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah huruf ya` yang huruf sebelumnya dikasrah dan huruf setelahnya difathah sebagai ganti dari kasrah. Dan huruf nun adalah ganti dari tanwin pada isim mufrad.

Lihat pula: