Ad-Dararil Mudhiyyah - Bab Riwayat tentang Susuan

بَابُ مَا جَاءَ فِي الرَّضَاعِ

Al-Imam Muhammad bin 'Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata, 
إِنَّمَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ مَعَ تَيَقُّنِ وُجُودِ اللَّبَنِ، وَكَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ، وَيَحۡرُمُ بِهِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ النَّسَبِ، وَيُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ، وَيَجُوزُ إِرۡضَاعُ الۡكَبِيرِ وَلَوۡ كَانَ ذَا لِحۡيَةٍ لِتَجۡوِيزِ النَّظَرِ.
  • Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan dengan keyakinan adanya air susu, serta anak disusui ketika sebelum disapih.
  • Siapa saja yang menjadi mahram karena nasab, maka menjadi mahram karena susuan.
  • Diterima ucapan wanita yang menyusui.
  • Boleh memberikan susuan kepada pria dewasa walaupun sudah memiliki jenggot agar boleh memandang. 
أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الرَّضَاعِ لَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ إِلَّا بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ أَنَّهَا قَالَتۡ: (كَانَ فِيمَا أُنۡزِلَ مِنَ الۡقُرۡآنِ عَشۡرُ رَضَعَاتٍ مَعۡلُومَاتٍ يُحَرِّمۡنَ ثُمَّ نُسِخَ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهِيَ فِيمَا يُقۡرَأُ مِنَ الۡقُرۡآنِ).
Aku (Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah) berkata: Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan berdasarkan hadis ‘Aisyah riwayat Imam Muslim dan selain beliau, bahwa beliau mengatakan: Dahulu, di antara ayat Alquran yang telah diturunkan adalah sepuluh susuan yang diketahui yang dapat menyebabkan hubungan mahram. Kemudian dinasakh dengan lima susuan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan masih ada yang membaca itu sebagai bagian Alquran.[1]
وَلِلۡحَدِيثِ طُرُقٌ ثَابِتَةٌ فِي الصَّحِيحِ؛ وَلَا يُخَالِفُهُ حَدِيثُ عَائِشَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الۡمَصَّةُ وَلَا الۡمَصَّتَانِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَأَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ.
Hadis ini memiliki banyak jalur yang sabit dalam kitab Shahih. Hadis ini tidak diselisihi oleh hadis ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua isapan susuan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[2] Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim, Ahmad, dan para penulis kitab Sunan.
وَكَذٰلِكَ حَدِيثُ أُمِّ الۡفَضۡلِ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرِهِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الرَّضۡعَةُ وَالرَّضۡعَتَانِ، وَالۡمَصَّةُ وَالۡمَصَّتَانِ، وَالۡإِمۡلَاجَةُ وَالۡإِمۡلَاجَتَانِ).
Demikian pula tidak diselisihi oleh hadis Ummu Al-Fadhl riwayat Muslim rahimahullah dan selain beliau; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua susuan, satu atau dua isapan, satu atau dua tetekan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[3]
وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ لِأَنَّ غَايَةَ مَا فِي هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ أَنَّ الۡمَصَّةَ وَالۡمَصَّتَيۡنِ، وَالرَّضۡعَةَ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ، وَالۡإِمۡلَاجَةَ وَالۡإِمۡلَاجَتَيۡنِ لَا يُحَرِّمۡنَ وَهَٰذَا هُوَ مَعۡنَى الۡأَحَادِيثِ مَنۡطُوقًا. وَهُوَ لَا يُخَالِفُ حَدِيثَ الۡخَمۡسِ الرَّضَعَاتِ لِأَنَّهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَا دُونَ الۡخَمۡسِ لَا يُحَرِّمۡنَ.
Ahmad, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi juga mengeluarkan riwayat semisal hadis tersebut dari hadis ‘Abdullah bin Az-Zubair. Karena puncak kandungan hadis-hadis ini adalah bahwa satu atau dua isapan, satu atau dua susuan, satu atau dua tetekan tidaklah menyebabkan hubungan mahram. Ini adalah makna eksplisit dari hadis-hadis itu. Dan makna itu tidak menyelisih hadis lima susuan, karena hadis itu menunjukkan bahwa susuan kurang dari lima tidaklah menyebabkan hubungan mahram.
وَأَمَّا مَعۡنَى هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ مَفۡهُومًا، وَهُوَ أَنۡ يُحَرِّمَ مَا زَادَ عَلَى الرَّضۡعَةِ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ فَهُوَ مَدۡفُوعٌ لِحَدِيثِ الۡخَمۡسِ وَهِيَ مُشۡتَمِلَةٌ عَلَى زِيَادَةٍ، فَوَجَبَ قَبُولُهَا وَالۡعَمَلُ بِهَا وَلَا سِيَّمَا عِنۡدَ قَوۡلِ مَنۡ يَقُولُ: إِنَّ بِنَاءَ الۡفِعۡلِ عَلَى الۡمُنَكَّرِ يُفِيدُ التَّخۡصِيصَ، وَالرَّضۡعَةُ هِيَ أَنۡ يَأۡخُذَ الصَّبِيُّ الثَّدۡيَ فَيَمۡتَصُّ مِنۡهُ ثُمَّ يَسۡتَمِرُّ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى يَتۡرُكَهُ بِاخۡتِيَارِهِ لِغَيۡرِ عَارِضٍ.
Adapun makna tersirat dari hadis-hadis ini, yaitu bahwa susuan yang lebih dari satu atau dua dapat menyebabkan hubungan mahram, maka makna ini tertolak berdasarkan hadis lima susuan. Hadis lima susuan ini mencakup adanya tambahan makna, sehingga wajib menerimanya dan mengamalkannya. Terlebih menurut pendapat orang yang berkata: Sesungguhnya susunan fiil kepada kata nakirah memberikan faedah pengkhususan.
Menyusu adalah peristiwa mulut si bayi mengambil puting payudara lalu mengisapnya. Kemudian dia terus demikian sampai melepasnya dengan kemauannya sendiri tanpa ada paksaan. 
وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى اعۡتِبَارِ الۡخَمۡسِ ابۡنُ مَسۡعُودٍ، وَعَائِشَةُ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَطَاءٌ، وَطَاوُسٌ، وَسَعِيدُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَاللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحۡمَدُ وَإِسۡحَاقُ وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَجَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، وَقَدۡ رُوِيَ ذٰلِكَ عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ.
Yang berpendapat dianggapnya lima susuan adalah Ibnu Mas’ud, ‘Aisyah, ‘Abdullah bin Az-Zubair, ‘Atha`, Thawus, Sa’id bin Jubair, ‘Urwah bin Az-Zubair, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Hazm, dan sekelompok ulama. Hal itu juga telah diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib. 
وَذَهَبَ الۡجُمۡهُورُ إِلَى أَنَّ الرَّضَاعَ الۡوَاصِلَ إِلَى الۡجَوۡفِ يَقۡتَضِي التَّحۡرِيمَ وَإِنۡ قَلَّ.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa susuan yang sampai ke perut mengakibatkan hubungan mahram, walaupun susuan itu sedikit.
وَأَمَّا اعۡتِبَارُ تَيَقُّنِ وُجُودِ اللَّبَنِ، فَلِأَنَّهُ سَبَبُ ثُبُوتِ حُكۡمِ الرَّضَاعِ، فَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ وُجُودُهُ مَعۡلُومًا وَارۡتِضَاعُ الصَّبِيِّ مَعۡلُومًا لَمۡ يَكُنۡ لِإِثۡبَاتِ حُكۡمِ الرَّضَاعِ وَجۡهَ مُسَوِّغٍ.
Adapun patokan keyakinan adanya air susu, karena hal itu merupakan sebab berlakunya hukum susuan. Kalau tidak diketahui ada air susu dan tidak diketahui si bayi menyusu, maka tidak ada sisi yang mewajibkan penetapan hukum susuan.
وَأَمَّا اعۡتِبَارُ كَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ عِنۡدَ التِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ وَالۡحَاكِمِ أَيۡضًا وَصَحَّحَهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ إِلَّا مَا فَتَقَ الۡأَمۡعَاءَ فِي الثَّدۡيِ، وَكَانَ قَبۡلَ الۡفِطَامِ).
Adapun patokan bahwa anak yang disusui adalah sebelum disapih, maka hal itu berdasarkan hadis Ummu Salamah riwayat At-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh beliau. Juga riwayat Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Susuan tidaklah menyebabkan hubungan mahram kecuali air susu di payudara yang membuka rongga usus (mengenyangkan perut) dan dilakukan sebelum penyapihan.”[4]
وَأَخۡرَجَ سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَابۡنُ عَدِيٍّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَارَضَاعَ إِلَّا مَاكَانَ فِي الۡحَوۡلَيۡنِ). وَقَدۡ صَحَّحَ الۡبَيۡهَقِيُّ وَقۡفَهُ، وَرَحَّجَهُ ابۡنُ عَدِيٍّ، وَابۡنُ كَثِيرٍ.
Sa’id bin Manshur, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Adi mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) kecuali yang dilakukan dalam jangka umur dua tahun.” Al-Baihaqi menilai sahih ke-mauquf-an hadis tersebut. Ibnu ‘Adi dan Ibnu Katsir menilainya kuat.
وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا رَضَاعَ بَعۡدَ فِصَالٍ، وَلَا يُتۡمَ بَعۡدَ احۡتِلَامٍ). وَقَدۡ قَالَ الۡمُنۡذِرِيُّ: إِنَّهُ لَا يَثۡبُتُ.
Abu Dawud Ath-Thayalisi mengeluarkan riwayat dari hadis Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan mahram) setelah penyapihan dan tidak ada yatim setelah mimpi basah.” Al-Mundziri berkata: Sesungguhnya riwayat ini tidak sabit.
وَفِي الصَّحِيحَيۡن وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتۡ: (لَمَّا دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعِنۡدِي رَجُلٌ، فَقَالَ: مَنۡ هَٰذَا؟ قُلۡتُ: أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ، قَالَ: يَا عَائِشَةُ انۡظُرۡنَ مَنۡ إِخۡوَانُكُنَّ؟ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ الۡمَجَاعَةِ).
Di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, dari hadis ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku dalam keadaan di dekatku ada seorang pria, beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Saudara sesusuanku.” Nabi bersabda, “Wahai ‘Aisyah, telitilah siapa saudara-saudara kalian karena susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) hanya yang disebabkan rasa lapar.”[5]
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ بِهِ مَا يَحۡرُمُ مِنَ النَّسَبِ، فَقَدۡ تَقَدَّمَ الۡاسۡتِدۡلَالُ عَلَيۡهِ فِيمَنۡ يَحۡرُمُ نِكَاحُهُ فِي كِتَابِ النِّكَاحِ.
Adapun susuan menyebabkan hubungan mahram bagi siapa saja yang menjadi mahram karena nasab, maka telah berlalu pendalilannya dalam pembahasan siapa saja yang haram dinikahi dalam kitab nikah.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ، فَلِمَا أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ عُقۡبَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ (أَنَّهُ تَزَوَّجَ أُمَّ يَحۡيَىٰ بِنۡتَ أَبِي إِهَابٍ فَجَاءَتۡ أَمَةٌ سَوۡدَاءُ فَقَالَتۡ: قَدۡ أَرۡضَعۡتُكُمَا؛ قَالَ: فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَأَعۡرَضَ عَنِّى، قَالَ: فَتَنَحَّيۡتُ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ: وَكَيۡفَ وَقَدۡ زَعَمَتۡ أَنَّهَا أَرۡضَعۡتُكُمَا فَنَهَاهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (دَعۡهَا عَنۡكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحِ، وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ: (كَيۡفَ وَقَدۡ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقۡبَةُ).
Adapun diterimanya ucapan wanita yang menyusui, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan selain beliau dari hadis ‘Uqbah bin Al-Harits. Bahwa beliau telah menikahi Ummu Yahya binti Abu Ihab. Lalu seorang budak wanita berkulit hitam datang seraya berkata, “Sesungguhnya aku pernah menyusui kalian berdua.” ‘Uqbah berkata: Aku menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berpaling dariku. ‘Uqbah berkata: Aku bergeser, lalu menyebutkan hal itu kepada beliau. Nabi bersabda, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara wanita itu sudah menyatakan bahwa dia pernah menyusui kalian berdua.” Nabi melarang ‘Uqbah[6]. Di dalam lafal yang lain, “Tinggalkan wanita yang telah engkau nikahi.” Hadis ini ada di dalam kitab Shahih. Dalam lafal lain, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara sudah dikatakan demikian.” Lalu ‘Uqbah menceraikannya.
وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ عُثۡمَانُ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَالۡحَسَنُ، وَإِسۡحَاقُ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، وَأَبُو عُبَيۡدٍ. وَرُوِيَ عَنۡ مَالِكٍ.
‘Utsman, Ibnu ‘Abbas, ‘Az-Zuhri, Al-Hasan, Ishaq, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, dan Abu ‘Ubaid berpendapat demikian. Juga diriwayatkan dari Malik.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجُوزُ إِرۡضَاعُ الۡكَبِيرِ وَلَوۡ كَانَ ذَا لِحۡيَةٍ لِتَجۡوِيزِ النَّظَرِ، فَلِحَدِيثِ زَيۡنَبَ بِنۡتِ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتۡ: قَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ لِعَائِشَةَ: (إِنَّهُ يَدۡخُلُ عَلَيۡكِ هَٰذَا الۡغُلَامُ الۡأَيۡفَعُ الَّذِي مَا أُحِبُّ أَنۡ يَدۡخُلَ عَلَيَّ، فَقَالَتۡ عَائِشَةُ: مَا لَكِ فِي رَسُولِ اللهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَهٌ). وَقَالَتۡ: إِنَّ امۡرَأَةَ أَبِي حُذَيۡفَةَ قَالَتۡ: (يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ سَالِمًا يَدۡخُلُ عَلَيَّ وَهُوَ رَجُلٌ، وَفِي نَفۡسِ أَبِي حُذَيۡفَةَ مِنۡهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَرۡضِعِيهِ حَتَّى يَدۡخُلَ عَلَيۡكِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَغَيۡرُهُ. وَقَدۡ أَخۡرَجَ نَحۡوَهُ الۡبُخَارِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ.
Adapun bolehnya menyusui pria dewasa walaupun pria itu sudah mempunyai jenggot agar pria itu boleh melihatnya, maka berdasarkan hadis Zainab binti Ummu Salamah. Beliau berkata:
Ummu Salamah berkata kepada ‘Aisyah, “Sesungguhnya ada seorang anak laki-laki yang hampir balig biasa masuk menemuimu, namun aku tidak suka dia masuk menemuiku.”
‘Aisyah berkata, “Bukankah pada diri Rasulullah ada teladan yang baik untukmu?”
‘Aisyah berkata:
Sesungguhnya istri Abu Hudzaifah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Salim biasa masuk ke tempatku sementara dia sudah dewasa dan pada diri Abu Hudzaifah ada perasaan yang mengganjal terhadapnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Susui dia sehingga dia bisa masuk ke tempatmu.” 
Diriwayatkan oleh Muslim dan selain beliau.[7] Al-Bukhari juga mengeluarkan hadis semisal itu dari hadis ‘Aisyah.
وَقَدۡ رَوَى هَٰذَا الۡحَدِيثَ مِنَ الصَّحَابَةِ أُمَّهَاتُ الۡمُؤۡمِنِينَ، وَسَهۡلَةُ بِنۡتُ سُهَيۡلٍ، وَزَيۡنَبُ بِنۡتُ أُمِّ سَلَمَةَ، وَرَوَاهُ مِنَ التَّابِعِينَ جَمَاعَةٌ كَثِيرَةٌ، ثُمَّ رَوَاهُ عَنۡهُمُ الۡجَمۡعُ الۡجَمُّ، وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ عَلِيٌّ وَعَائِشَةُ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَطَاءُ بۡنُ أَبِي رَبَاحٍ، وَاللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، وَابۡنُ عُيَيۡنَةَ، وَدَاوُدُ الظَّاهِرِيُّ، وَابۡنُ حَزۡمٍ وَهُوَ الۡحَقُّ؛ وَذَهَبَ الۡجُمۡهُورُ إِلَى خِلَافِ ذٰلِكَ.
Yang meriwayatkan hadis ini dari kalangan sahabat adalah para ibunda kaum mukminin, Sahlah binti Suhail, dan Zainab binti Ummu Salamah. Adapun yang meriwayatkannya dari kalangan tabiin ada banyak orang. Kemudian yang meriwayatkannya dari mereka sangat banyak. Yang berpendapat demikian adalah ‘Ali, ‘Aisyah, ‘Urwah bin Az-Zubair, ‘Atha` bin Abu Rabah, Al-Laits bin Sa’d, Ibnu ‘Uyainah, Dawud Azh-Zhahiri, Ibnu Hazm. Ini adalah benar. Sementara jumhur ulama berpendapat menyelisihi hal itu.