Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6002

٢١ – بَابُ وَضۡعِ الصَّبِيِّ فِي الۡحِجۡرِ

21. Bab meletakkan bayi di pangkuan

٦٠٠٢ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ هِشَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَضَعَ صَبِيًّا فِي حِجۡرِهِ يُحَنِّكُهُ، فَبَالَ عَلَيۡهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتۡبَعَهُ. [طرفه في: ٢٢٢].
6002. Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa'id menceritakan kepada kami, dari Hisyam, beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku, dari 'Aisyah: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan bayi laki-laki yang hendak beliau tahnik di pangkuannya. Lalu bayi itu kencing mengenai beliau, maka beliau minta dibawakan air, lalu dia mengiringi kencing itu dengan air.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5468

٥٤٦٨ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِصَبِيٍّ يُحَنِّكُهُ، فَبَالَ عَلَيۡهِ، فَأَتۡبَعَهُ الۡمَاءَ. [طرفه في: ٢٢٢].
5468. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari ayahnya, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha beliau berkata: Dibawa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seorang bayi laki-laki yang akan beliau tahnik. Lalu bayi itu kencing mengenai beliau. Maka beliau pun mengiringi kencing itu dengan air.

Abu Hanifah rahimahullah

Alim dari Negeri Kufah


Abu Hanifah rahimahullah, siapa yang tidak kenal beliau. Salah seorang dari imam empat madzhab yang sangat ternama.

Beliau dikenal banyak menggunakan qiyas dalam mengambil kesimpulan hukum. Hal ini karena pada zaman beliau banyak tersebar hadits palsu. Maka, beliau sangat hati-hati menerima hadits. Akhirnya beliau sering meng-qiyas-kan berbagai masalah dengan hadits yang telah beliau pastikan keshahihannya.

Beliau rahimahullah juga memiliki kemampuan mendalam dalam ilmu fiqih. Bahkan, pengetahuan ilmu fiqih beliau telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dicapai oleh para fuqaha zaman itu. Hingga Abdullah bin Al Mubarak pernah menyatakan, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih hebat dari Abu Hanifah dalam permasalahan fiqih.”

Nama lengkap beliau adalah An-Nu’man bin Tsabit bin Zuthi. Dilahirkan pada tahun 80 H. Abu Hanifah banyak meriwayatkan dan belajar dari para ulama generasi tabi’in. Seperti Nafi’ maula Ibnu Umar, Atha bin Abi Rabah, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya.

Banyak kisah yang mencerminkan kecerdasan Abu Hanifah, kekuatan hujah, dan ketepatan argumennya tatkala berdialog dengan lawan bicaranya. Bahkan, dalam menghadapi berbagai permasalahan yang rumit sekali pun, beliau adalah ujung tombak untuk menyelesaikannya. Potensi besar yang beliau miliki tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk membela kebenaran, mendakwahkan agama Allah, dan mematahkan argumen para pengusung kebatilan.

Pembaca yang budiman, berikut ini kami nukilkan beberapa kisah yang mencerminkan kepandaian dan kepiawaian beliau dalam beradu argumen. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, menukilkan sebuah riwayat tentang kedatangan sekelompok orang India yang mendatangi Abu Hanifah. Mereka adalah orang-orang aliran Sumaniyah. Mereka memiliki berbagai keyakinan yang sesat lagi batil. Di antaranya, pengingkaran mereka terhadap keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta seluruh alam semesta. Sebuah pemikiran komunis yang sangat kufur dan berbahaya.

Oleh karena itulah, beliau menerima kedatangan orang-orang itu dan menyempatkan diri untuk berdialog dengan mereka. Beliau pun hendak membantah pemikiran sesat tersebut secara logika. Karena, metode tersebut lebih bisa mereka terima dari pada dalil ayat Al-Qur’an atau Al Hadits.

Beliau pun mengatakan, “Bagaimana pendapat kalian tentang sebuah perahu yang membawa berbagai muatan dan beban. Perahu tersebut berjalan mengarungi samudra nan luas. Di awal perjalanan, angin bertiup sepoi-sepoi dan ombak pun bersahabat. Tatkala sampai di tengah lautan, tiba-tiba datanglah badai dan ombak yang sangat besar. Namun perahu itu terus melanjutkan perjalanan tanpa halangan suatu apa, hingga sampai di tempat tujuan. Padahal tidak ada nakhoda dan anak buahnya yang mengendalikan jalannya perahu tersebut. Apa pendapat kalian tentang hal ini?”

Mereka pun menjawab, “Ini mustahil terjadi dan tidak masuk akal. Bahkan tidak diterima oleh imajinasi sekali pun!” Beliau pun menyatakan, “Maha Suci Allah, kalian mengingkari adanya sebuah perahu yang berlayar dengan selamat sampai tujuan tanpa nakhoda. Namun kalian meyakini bahwa lautan yang membentang, langit, matahari, bulan, bintang, gunung, dan seluruh alam semesta itu ada tanpa Pencipta dan Pengatur! Sungguh celaka kalian!” Orang-orang itu pun terbungkam tanpa bisa menjawab sepatah kata pun.

Pembaca yang budiman, kisah lain yang menunjukkan kecerdasan Abu Hanifah adalah dialog beliau dengan seorang laki-laki dari Irak. Laki-laki ini adalah salah satu tokoh dan pembesar di komunitasnya. Dia memiliki keyakinan yang sangat batil. Keyakinan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebenarnya adalah orang Yahudi. Bahkan, dengan lancangnya dia berani menyatakan hal ini di hadapan khalayak ramai.

Mari kita simak bagaimana metode yang beliau tempuh dalam membantah kefasikan ini. Setelah mendengar berita tersebut, Abu Hanifah pun segera mendatanginya. Beliau sadar bahwa seandainya pemikiran sesat ini dibiarkan menyebar luas di kalangan kaum muslimin, tentu akan menimbulkan fitnah yang sangat berbahaya. Tidak hanya kehormatan shahabat mulia Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah ketiga yang akan ternodai, namun juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana tidak, celaan terhadap para shahabat secara umum, secara tidak langsung juga merupakan celaan terhadap kehormatan beliau. Bagaimana mungkin beliau memilih teman-teman yang akhlaknya tidak baik, apalagi seorang Yahudi. Terlebih lagi jika yang dicela tersebut adalah amirul mukminin, sekaligus menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setibanya di rumah laki-laki itu, beliau pun mengatakan, “Maksud kedatanganku adalah melamar putrimu untuk salah seorang temanku.” Ia pun berkata, “Marhaban atas kedatangan anda wahai Abu Hanifah. Sungguh sulit untuk menolak keinginan anda. Jika boleh tahu, siapa teman anda tersebut?” Beliau pun menjawab, “Dia adalah seorang laki-laki yang ditokohkan dan sangat kaya raya. Ia orang yang sangat dermawan, hafal Al-Qur’an, dan menghabiskan malam-malamnya untuk qiyamul lail. Sering meneteskan air mata karena rasa takutnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, ada satu hal yang harus anda perhatikan.” “Apakah itu?” Orang itu bertanya. Beliau menjawab, “Dia adalah seorang Yahudi!” Orang itu pun terperanjat. Lantas mengatakan, “Dia orang Yahudi?! Apakah anda ingin putriku menikah dengan orang Yahudi! Demi Allah, aku tidak sudi menikahkan putriku dengan orang Yahudi, meskipun dia memiliki segala-galanya.”

Di saat itulah beliau mengatakan, “Engkau tidak mau menikahkan anak perempuanmu dengan orang Yahudi. Bahkan menolaknya dengan keras. Namun, engkau dengan lancangnya berani mengatakan di hadapan orang-orang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan kedua putrinya dengan orang Yahudi?!” Orang itu pun langsung beristigfar. Ia segera memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas tuduhan dusta tersebut.

Begitulah Abu Hanifah rahimahullah. Dengan kecerdasannya, beliau membela kebenaran dan mendakwahkan agama Allah. Begitu banyak pengusung kebatilan yang mati kutu dan diam seribu bahasa di hadapan beliau. Kekuatan argumen dan hujjah yang beliau miliki telah diakui oleh para ulama, bahkan musuh-musuh beliau sekalipun. Yahya bin Sa’id Al-Qaththan pernah mengatakan, “Sungguh, kami tidak mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah kami pernah mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapatnya Abu Hanifah. Begitu banyak orang yang mengambil pendapatnya.”

Demikianlah Abu Hanifah. Memang, sejak usia muda, beliau telah tersibukkan dengan ilmu agama. Dan bahkan melakukan rihlah, safar ke negeri lain, untuk menimba ilmu agama.

Setelah menguasai berbagai disiplin ilmu, beliau sangat giat mendakwahkannya. Mengajarkan Ad Dinul Islam kepada kaum muslimin. Gigih berjuang menumpas kebatilan dan membantah para pengusungnya. Sebagaimana kisahnya kita saksikan di atas.

Namun, tidak banyak hadits yang diriwayatkan dari beliau. Salah satu sebabnya, sebagaimana telah disebutkan, karena beliau sangat selektif dan ekstra hati-hati dalam meriwayatkan hadits. Yang demikian ini dikarenakan begitu banyaknya hadits palsu dan lemah yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin saat itu.

Abu Hanifah, adalah seorang figur yang tidak menyukai gemerlap dan kemewahan dunia. Meskipun sebenarnya beliau mampu untuk mendapatkannya. Yazid bin Hubairah, yang saat itu menjabat sebagai gubernur wilayah Irak, pernah meminta beliau agar menjadi qadhi (hakim agung) di Kufah. Yazid adalah salah satu punggawa Marwan yang merupakan salah satu raja dinasti Bani Umayah. Namun, permintaan itu beliau tolak dengan tegas tanpa pikir panjang. Penolakan tersebut membuat beliau mendapat hukuman cambuk. Namun, beliau tetap bergeming dan tetap dalam pendiriannya.

Kemudian berikutnya adalah Al-Manshur Al-Abbasi yang menginginkan beliau menduduki jabatan tersebut. Bahkan, Al-Manshur bersumpah agar beliau mau menerimanya. Tatkala Abu Hanifah menolaknya, beliau pun dijebloskan ke dalam penjara sampai akhir hayatnya. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, beliau lebih memilih bekerja sendiri tanpa terlibat dalam dunia kehakiman atau pemerintahan.

Meskipun dikenal sebagai ulama yang banyak menggunakan qiyas dan ra’yi, namun beliau sangat lantang menyuarakan kewajiban mengikuti sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapat yang menyelisihinya. Beliau sangat mencela sifat taklid buta (mengekor, tidak mau tahu landasan dalilnya) terhadap pendapat ulama yang menyelisihi hadits. Inilah keteladanan beliau yang patut dicontoh oleh kaum muslimin. Padahal, beliau memiliki ketenaran dan pengikut yang sangat banyak. Namun, itu semua tidak menghalanginya untuk bersikap adil dan rendah hati dalam menerima dan mengamalkan sunnah.

Dalam sebuah riwayat, beliau rahimahullah pernah mengatakan, “Apabila saya menyampaikan suatu pendapat yang menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits Rasul yang shahih, maka tinggalkanlah pendapatku.” Bahkan dalam riwayat yang lain, Abu Hanifah menyatakan bahwa tidak dihalalkan bagi seseorang untuk mengambil pendapat beliau, jika ia tidak mengetahui apa dalilnya beliau mengambil pendapat tersebut.

Sehingga, barang siapa menisbatkan diri kepada madzhab hanafi, maka hendaknya ia membuang jauh-jauh sikap taklid atau fanatik buta terhadap beliau. Abu Hanifah sendiri sangat mengecam sikap tersebut. Beliau selalu mengarahkan supaya menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih sebagai rujukan. Dalam kesempatan yang lain, beliau menyatakan, “Jika aku mengemukakan suatu pendapat yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan pendapatku.”

Pembaca, rahimakumullah. Sikap yang demikian ini menunjukkan ketawadhuan beliau. Ketundukan beliau terhadap dalil. Bahwa beliau adalah seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Sebagaimana hal ini juga tersirat dari ucapan beliau tentang sifat-sifat Allah.

Dalam karya tulisnya yang berjudul Al-Fiqhu Al-Akbar beliau mengatakan, “Allah mempunyai tangan dan wajah, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an. Semua itu adalah sifat bagi Allah subhanahu wa ta’ala tanpa mempertanyakan bagaimana wujudnya. Tidak boleh ditafsirkan bahwa tangan Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekuasaan-Nya. Karena yang demikian itu termasuk menafikan sifat. Sebagaimana ucapan orang-orang Qadariyah dan Mu’tazilah.”

Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya. Dan sebaliknya, tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” Demikianlah akidah beliau dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga, tidak benar tuduhan yang menyatakan bahwa beliau berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan, telah beliau jelaskan dalam beberapa riwayat bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah.

Pembaca, sebagai manusia biasa yang bisa salah dan lupa, demikian pula beliau. Beliau juga tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, tidak semestinya hal itu dijadikan sebagai celah untuk mencela dan merendahkan beliau. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang jahil yang sangat antipati terhadap madzhab hanafi. Namun, mestinya mencarikan udzur dan berhusnuzhan kepada beliau.

Demikian pula sebaliknya, tidak sepantasnya berlebih-lebihan dan fanatik kepada beliau, seolah beliau ma’shum yang selalu benar. Sebagaimana klaim sebagian pengikut madzhab hanafi. Mereka pun berlebihan dalam memuji beliau, bahkan menghina siapa saja yang menyelisihinya. Andaikan Abu Hanifah masih hidup dan mengetahuinya, niscaya beliau tidak akan rela diperlakukan seperti itu.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Abu Hanifah, dan membalas jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 6 vol.1 1434H/2013M rubrik Ulama’.

In memorial: Imam Adz Dzahabi rahimahullah

Mengenang kisah hidup para pendahulu yang shalih semoga dapat melembutkan jiwa. Terlebih di zaman ini. Jiwa begitu mudahnya membatu. Seiring dengan jauhnya ilmu, tersebarnya kejahilan. Sangat butuh kita dengan berbagai figur teladan.

Pembaca, kenangan kita kali ini akan tertuju kepada seorang alim pada abad ke-8 Hijriyah. Seorang alim yang mewariskan “kekayaan ilmiah” yang bermanfaat bagi Islam dan muslimin. Tercatat lebih dari 200 kitab telah beliau tinggalkan. Baik dalam bidang qiraat, hadits, akidah, fikih, adab, sejarah, biografi, tokoh, dll.

Sejenak saya jadi teringat dengan seorang rekan di Darul Hadits Ma’bar. Namanya Serdaar. Wajahnya seram, namun bila disapa, senyumnya langsung mengembang dan menjadi teman bercakap yang tak menjemukan. Ia berasal dari Turkmenistan. Entah apa artinya, saya belum sempat bertanya kepada yang bersangkutan tentang nama itu. Yang jelas ia bukan orang Arab. Sudah lama beliau bersimpuh di hadapan Syaikh Muhammad Al Imam dan syaikh yang lain. Wallahu a’lam, apakah beliau masih di sana atau sudah pulang ke kampung halamannya yang hijau. Semoga Allah menjaganya dan menjaga kita selalu.

Tulisan kita kali ini bukan mengisahkan saudara kita Serdaar. Tapi tentang seorang alim yang namanya bukan hanya tertulis dengan tinta emas, bahkan ia adalah emas. Seorang tokoh yang namanya bukan hanya bersinar bagai matahari, bahkan ia adalah sang surya. Beliau digelari dengan “Syamsuddin” dan akrab dengan sebutan “Adz Dzahabi”. Menurut para sejarawan, ia berasal dari Turkmenistan.

Kita awali dengan cerita ‘satu kalimat’ yang ternyata bermanfaat ‘sepanjang hayat’. Kalimat yang tulus dari guru beliau Al Barzali. Beliau mengisahkan, “Suatu hari guruku melihat catatanku. Maka beliau berkomentar, ‘Gaya tulisanmu mirip sekali dengan tulisan para ulama hadits.’ Sejak itulah aku begitu cinta dengan thalabul ilmi. Aku mendengar hadits dari beliau. Dan ilmunya yang luas di bidang hadits dan tarikh begitu berkesan bagiku.”

KELAHIRAN DAN KELUARGA ADZ DZAHABI


Sebenarnya, bibit-bibit kebaikan ini sudah muncul jauh sebelum itu. Kakek beliau yang bernama Utsman adalah seorang yang buta huruf. Ia seorang tukang kayu. Walaupun tidak ada sisi “ilmiyah” dari kehidupan beliau, namun ia seorang yang kuat keyakinannya kepada Allah.

Ayah beliau, Ahmad tidak meneruskan pekerjaan Utsman dalam pertukangan. Ia menekuni kerajinan emas. Karena keuletannya, lambat laun Ahmad bin Utsman menjadi seorang pengrajin emas terkemuka. Di kemudian hari, beliau pun mulai menapakkan kaki, menimba ilmu hadits. Kurang lebih pada umur 25 tahun beliau mengikuti majelis Shahih Al Bukhari bersama Al Miqdad Al Qaisi. Ahmad juga dikenal kuat dalam menjalani ketaatan. Beliau terbiasa dengan qiyamul lail.

Dengan ilmu, ketaatan, dan harta yang thayyibah inilah, Ahmad “Adz Dzahabi” (pengrajin emas) membina sebuah keluarga setelah menikahi putri seorang tokoh Maushil, Alamudin Abu Bakr Sinjar bin Abdillah. Dengan pernikahan ini, terlahirlah pada tgl 13 Rabi’ul Akhir 673 H, bayi mungil bernama Muhammad, yang kelak menjadi seorang alim yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyah, Al Mizzi, dan Al Barzali.

PENDIDIKAN ADZ DZAHABI DI USIA DINI


Di masa kecil, ayah beliau membawanya kepada salah seorang muaddib (guru agama). Ia sangat piawai mendidik anak-anak dalam membaca, menulis, dan berbahasa. Ia adalah Syaikh Alauddin. Entah berapa lama Adz Dzahabi kecil berada dalam bimbingan Syaikh Alauddin. Yang jelas, hingga tahun 682 H, menurut catatan sejarah, ia masih bermulazamah dengan Syaikh Alauddin hingga sangat mahir dalam menulis.

Beliau belajar Al Quran dengan bimbingan Syaikh Mas’ud. Ditalqin oleh beliau dari Al Fatihah hingga An-Naas. Setelah itu, Adz Dzahabi menyetorkan hafalannya kepada Syaikh Mas’ud, tidak kurang dari 40 kali khatam. Setelah mengokohkan Al Quran, barulah ia menghadiri majelis para syaikh untuk mendengarkan berbagai bidang ilmu.

Demikianlah, dunia anak adalah dunia bermain dan bersenang-senang. Namun begitu, kelaurga Adz Dzahabi tetap memberikan perhatian besar terhadap ilmu.

KONDISI MASYARAKAT DAMASKUS


Syam dan Mesir saat itu dikuasai oleh Dinasti Mamalik Bahriyah. Di saat itu, berkembang akidah Asy’ariyah. Tersebar pula aliran tasawwuf di segala penjuru negeri. Banyak bermunculan ‘paranormal’ yang berhasil mencuri hati dan merampas kehidupan masyarakat awam di Damaskus. Bahkan sebagian mereka mampu ‘membobol’ benteng istana.

Raja Zhahir Baybars memiliki seorang penasihat bersama Syaikh Khadir. Syaikh ini dikenal dengan ilmu gendam dan terawangan. Ia sering dikunjungi raja, dimintai ramalannya, dan sering diajak menemani dalam setiap perjalanannya karena keyakinan akan kekuatan metafisika pada diri syaikh ini. Kita berlindung kepada Allah dari kesyirikan.

Pengultusan syaikh, dalam hidup dan matinya, sangat-sangat tersebar di Damaskus saat itu. Banyak orang berziarah ke kubur untuk bernadzar, bersedekah, sujud, bahkan meminta ampunan dari para penghuninya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari kesyirikan mereka.

ADZ DZAHABI MENDALAMI ILMU QIRAAT


Saat itu, usia Adz Dzahabi baru menginjak angka 18. Kecenderungan kepada ilmu semakin melambung tinggi. Ia begitu antusias mendalami ilmu qiraat. Pada tahun 691 H, ia belajar qiraat kepada Syaikhul Qurra` Al Fadhili di Turbah Ummi Shalih. Adz Dzahabi tidak bisa menamatkan belajarnya bersama syaikh ini, karena pada tahun 692 syaikh Al Fadhili wafat.

Walaupun begitu, ia punya guru lain yaitu Syaikh Jamaluddin. Di hadapan beliau, Adz Dzahabi bisa menyelesaikan satu khataman, mengumpulkan tujuh qiraat sekaligus, sesuai dengan kitab At Taisir karangan Ad Dani, dan Hirzul Amany karangan Asy Syathibi Al Andalusi.

Dalam waktu singkat, Adz Dzahabi dengan kejeniusannya sangat menguasai pokok-pokok madzhab qiraat maupun rinciannya. Ia mengisahkan, “Aku pernah duduk di hadapan qadhi agung Syihabuddin Al Khuwaiy. Lalu aku ditanya berbagai permasalahan pelik dalam ilmu qiraat. Allah buka dadaku, sehingga semua pertanyaan bisa kujawab dengan tepat. Dengan itu, Syihabuddin memberikan ijazah atas riwayat-riwayatnya untukku,” kenangnya.

Ia tidak mencukupkan dengan satu syaikh dalam mengumpulkan qiraat. Di samping itu juga, tidak melewatkan kesempatan berguru kepada para syaikh yang masyhur, kitab-kitab penting dalam ilmu tajwid dan qiraat. Ia menjadi sangat menonjol dalam bidang ini. Sehingga pada akhir tahun 692 H, guru beliau Syaikh Ad Dimyathi yang memiliki halaqah talqin di masjid Jami’ Umawy menyerahkan ‘kursinya’ kepada Adz Dzahabi. Syaikh Ad Dimyathi pada akhirnya wafat pada awal tahun 693 H karena sakit.

ADZ DZAHABI MENDALAMI ILMU HADITS


Di samping menggeluti ilmu qiraat, Adz Dzahabi juga sangat menggemari ilmu hadits. Ratusan guru ia datangi untuk mendapat riwayat hadits yang mereka punya. Saking meluapnya semangat mendapat hadits, terkadang ia mendapati guru-guru yang kondisinya tidak laik secara fisik.

Ia berkata tentang salah satu gurunya, Mahmud Al Kharaithi, “Beliau adalah seorang yang hampir tuli. Aku harus mendekatkan mulutku ke telinganya dan kubacakan riwayat-riwayat haditsnya dengan teriak.”

ADZ DZAHABI BERTUALANG KE LUAR NEGERI SYAM UNTUK MEMPERDALAM ILMU


Hatinya begitu rindu untuk bertemu ulama di negeri-negeri Islam. Namun, kerinduannya tak begitu saja dengan mudah mengantarnya kepada mereka. Ayahnya tidak tega bila Adz Dzahabi pergi jauh meninggalkannya. Sangatlah dimaklumi karena Adz Dzahabi adalah anak semata wayang. Ia juga masih sangat muda saat kakinya mulai kokoh dalam ilmu. Sementara timba para ulama dalam negeri Syam telah ia reguk hingga tetes-tetes penghabisan. Saatnya ia bertualang.

Namun Adz Dzahabi bukanlah sosok pemuda yang durhaka. Ia sangat memahami bahwa di antara adab mencari ilmu adalah meminta izin kepada orang tua sebelum bertualang. Dengan penuh adab Adz Dzahabi mendekati sang ayah. Sampai akhirnya sang ayah mengizinkannya untuk bertualang ke luar Damaskus dengan batasan waktu tidak lebih dari 4 bulan. Setiap bertualang, ayahnya selalu mengutus bersamanya seorang pendamping.

Waktu-waktu yang sangat singkat namun penuh berkat. Ia gunakan kesempatan emas ini untuk berkunjung ke Himsh, Tarablus, Kurk, Ma’rah, Bushra, Nablus, Ramlah, Al Quds, Tabuk, dan juga negeri Mesir. Dan di negeri Mesir lah petualangan ilmiah paling berharga yang beliau jalani.

HUBUNGAN DEKATNYA DENGAN TOKOH-TOKOH ISLAM


Tidak bisa disisihkan dari sejarah Adz Dzahabi, akan jalinan hubungan yang begitu indah, kuat, dan tulus antara beliau dengan tokoh-tokoh Islam di zaman itu. Tersebutlah 3 nama ulama kesohor.

  1. Jamaluddin Yusuf yang dikenal dengan Imam Al Mizzi, 19 tahun lebih tua dari Adz Dzahabi.
  2. Taqiyudin Ahmad yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, selisih 12 tahun.
  3. Alamuddin Al Qasim yang dikenal dengan Imam Al Barzali, beliau juga bermadzhab Syafi’i.

Al Mizzi adalah paling senior di antara 4 serangkai ini. Umurnya terpaut hampir 20 tahun dengan Adz Dzahabi. Sedangkan Ibnu Taimiyah dan Al Barzali lebih tua 10 tahun darinya. Walaupun terpaut dari sisi umur, bahkan madzhab mereka pun tidak sama, namun satu sama lain saling mencintai karena Allah. Ibnu Taimiyah bermazhab Hanbali. Sedangkan 3 ulama lainnya semua bermadzhab Syafi’i. Berbeda madzhab, namun disatukan dengan kesamaan akidah yang haq.

Masing-masing dari 4 ulama ini adalah kawan, sekaligus guru bagi yang lain. Mereka saling mengajar dan mengambil ilmu. Tidaklah perbedaan madzhab memecahkan ukhuwah di antara ulama ini. Dalam beberapa masalah fikih misalnya, Al Mizzi membela madzhab Ibnu Taimiyah, karena lebih dekat dengan sunnah. Begitu pula sebaliknya, Adz Dzahabi pernah menulis kritikan khusus untuk Ibnu Taimiyah dan penganut madzhab Hanbali atas beberapa pendapat madzhab yang tidak sesuai dengan atsar. Kritikan yang diberi judul dengan “Nasihat Emas”.

Satu sama lain saling memberikan penghormatan dan menyebutkan kemuliaannya. Tentang Al Mizzi, Adz Dzahabi menyebutnya sebagai allamah (alim besar), al hafizh, muhaddits Islam, penutup para huffazh, kritisi hadits yang ulung, kepadanyalah kami bertanya jika menjumpai persoalan pelik, dan dialah yang menguraikan benang-benang kusut, sehingga permasalahan yang tak jelas ujung pangkalnya menjadi terurai.

Tentang Al Barzali, Adz Dzahabi mengatakan bahwa beliau adalah imam, al hafizh yang kokoh hafalannya, al hujah, pakar hadits negeri Syam, sejarawan ulung, rekan yang senantiasa memberi faedah dan ilmu kepada kami.

Adapun Ibnu Taimiyah, maka beliau adalah seorang alim yang telah matang keilmuannya. Saat Adz Dzahabi baru mulai menapaki jalan thalabul ilmi, ia telah menjadi seorang mujtahid. Sejak tahun 698 H, beliau telah terjun dalam perdebatan sengit dengan para penentang akidah ahlus sunnah wal jama’ah dari berbagai sekte. Beliau perangi paranormal dari para dedengkot tasawuf. Berkeliling bersama murid-muridnya memerangi kemungkaran. Menumpahkan minuman keras dan menasihati mereka untuk bertakwa kepada Allah. Bahkan memerangi para penguasa yang mengecam akidah yang benar. Karena itulah beliau sempat dijebloskan di penjara. Namun Al Mizzi berhasil membebaskan rekan tercinta ini.

Suatu ketika, Adz Dzahabi ditanya tentang Ibnu Taimiyah. Maka beliau mengatakan, “Tiada artinya orang biasa seperti saya menilai tokoh semulia beliau. Sungguh, kedua mata ini belum pernah menyaksikan orang yang lebih agung dari pada beliau. Bahkan aku berani bersumpah, ia sendiri belum pernah mendapati orang yang lebih berilmu dari padanya.”

KEILMUAN DAN KEDUDUKAN ADZ-DZAHABI


Adz-Dzahabi sempat menduduki sejumlah jabatan keilmuan di kota Damaskus. Di antaranya: pemberi khutbah, pengajar, menjadi syaikh agung di sejumlah perguruan hadits, seperti Dar Al-Hadits di Turbah Umm Ash-Shalih, Dar Al-Hadits Azh-Zhahiriyah, Dar Al-Hadits Wa Al-Qur’an At-Tankiziyah, dan Dar Al-Hadits Al-Fadhiliyah.

Semua kesibukan ini tidaklah menghalangi beliau untuk melakukan penelitian ilmiyah dan penulisan karya tulis. Ketika beliau berpindah di sebuah Kafarbathna, sebuah kampung yang hening terletak di bilangan Ghuthah, Damaskus, beliau menulis banyak karya. Bahkan, beliau berhasil meninggalkan kekayaan ilmiah yang besar dan penuh berkah. Di mana kitab-kitab dan karya tulis beliau mencapai 200 lebih. Yang mencakup ilmu qiraat, hadits, mushthalah hadits, sejarah, biografi, akidah, ushul fiqih, dan lain-lain.

ADZ DZAHABI KEMBALI KEPADA PEMILIKNYA


Setelah mengalami kebutaan lebih dari 4 tahun, beliau meninggalkan dunia ini. Beliau wafat pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H. Dimakamkan di Bab Ash-Shaghir di Damaskus. Banyak dari muridnya menuliskan syair-syair mengenang jasa beliau bagi Islam dan kaum muslimin. Semoga rahmat Allah yang luas untuk beliau. Semoga surga yang luas adalah tempat tinggal beliau. Dan memasukkan kita semua dengan rahmat-Nya ke dalam golongan hamba-Nya yang shalih.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 6 vol.1 1434H/2013M rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini.

Sufyan Ats Tsauri

Betapa butuhnya seorang muslim untuk mengenali sejarah ulamanya. Merekalah tokoh-tokoh langka dan ajaib yang terlahir untuk umat ini. Berawal dari mengenali, selanjutnya berusaha berjalan di atas jalannya, dan mengikuti jejak-jejaknya.

Benar, merekalah qudwah hasanah, teladan yang baik bagi orang yang ingin mencari teladan. Mempelajari sejarah peri kehidupan mereka akan membangkitkan dalam jiwa ini keberanian di atas al haq, mengobarkan semangat dalam mencari ilmu, tekun dalam ibadah, berdakwah, serta mengingkari kemungkaran.

Dan di antara ulama tersebut adalah Imam Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats Tsauri. Sungguh, beliau adalah seorang tokoh besar, rujukan dalam ilmu, panutan dalam bab zuhud terhadap dunia dan wara’. Teladan dalam mengingkari kemungkaran dan menampakkan al haq. Dia adalah simbol dalam ibadah dan kekuatan hafalan. Semoga Allah merahmati dan meridhainya. Amat sedikit orang yang mengenalnya, hampir-hampir nama beliau dilupakan begitu saja, tidak pernah disebut-sebut di masyarakat kebanyakan.

Ia adalah putra seorang ahli hadits, Sa’id bin Masruq bin Habib. Mereka berasal dari kabilah Tsaur dari Bani Mudhar. Lahir pada tahun 97 H. Ayahnya adalah seorang yang tsiqah dalam hadits. Riwayat-riwayatnya disebutkan dalam kitab Shahih dan Sunan.

Sufyan memulai langkahnya dalam mencari ilmu ketika masih kecil, di bawah bimbingan langsung ayahandanya yang shadiq. Ibundanya adalah seorang wanita shalihah. Tentu begitu besar pengaruh sang ibu dalam membentuk langkah-langkah Sufyan meniti jalan ilmu.

Suatu saat sang ibu menasihati, “Wahai anakku, tuntutlah ilmu. Akulah yang akan mencukupi kebutuhanmu dengan alat pintal ini.” Ibunya adalah seorang wanita yang terampil memintal. Dari hasil jerih payah inilah, sang ibu mencukupi kebutuhan putranya untuk membeli kitab, alat-alat tulis, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya sebagai seorang thalibul ilmi.

Di kesempatan lain ibunya berkata, “Wahai Sufyan jika engkau telah berhasil menulis 10 huruf maka perhatikanlah, apakah ilmu itu menambah rasa takut kepada Allah pada jiwamu ataukah tidak? Jika tidak, maka ketahuilah ilmu itu tidak bermanfaat buatmu, bahkan membuatmu binasa.” Laa ilaha illa llah.

Dari gubuk semacam inilah, muncul sosok Sufyan Ats Tsauri. Ini mengingatkan kita semua wahai ayah ibu, betapa sangat besar pengaruh tarbiyah dalam sebuah keluarga. Keluarga yang baik akan mengeluarkan generasi yang baik pula dengan izin Allah. Dan sebaliknya.

Sufyan telah menghabiskan umurnya untuk mencari ilmu dan mencari hadits. Beliau berkata, “Ketika aku mulai menuntut ilmu, aku berpikir, “Wahai Rabbku, sebenarnya aku butuh untuk mencari nafkah demi penghidupanku, namun aku saksikan ilmu agama mulai sirna sedikit sedikit. Ilmu banyak ditinggalkan oleh manusia.”

Kata beliau selanjutnya, “Maka aku pun putuskan untuk tafarugh (konsentrasi) menuntut ilmu dan aku berdoa kepada Allah agar aku diberi-Nya kecukupan.”

Tahukah pembaca berapa lama beliau menuntut ilmu? 2 tahun? Tidak wahai saudaraku. Beliau menuntut ilmu lebih dari 60 tahun. Allahu Akbar!

Beliau berkata, “Sudah selayaknya seorang ayah mengarahkan anak-anaknya untuk mencari ilmu dan mempelajari hadits. Sungguh, kalian wahai orang tua akan diminta pertanggungan jawabannya atas anak-anak kalian.”

Beliau berkata pula, “Sungguh, karena arahan orang tuaku maka aku terus belajar dan belajar selama aku mendapati orang yang bisa mengajari ilmu kepadaku. Seandainya para ulama hadits tidak berdatangan ke negeri ini untuk menyampaikan ilmu dan membacakan hadits, maka aku lah yang datang ke rumah-rumah mereka.”

Tahukah pembaca berapa jumlah guru beliau selama menuntut ilmu? 5 guru? 10 guru? Tidak wahai saudaraku. Sesungguhnya beliau telah mereguk ilmu di hadapan 600 orang syaikh. Subhanallah!

Diriwayatkan dari Al Mubarak bin Sa’id, ia mengatakan, “Aku berjumpa dengan ‘Ashim bin Abi Najud. Ia adalah seorang imam, ahli qiraah yang mulia di zamannya. Datang imam ini kepada Sufyan Ats Tsauri meminta fatwa kepadanya.”

‘Ashim berkata kepada Sufyan, “Wahai Sufyan, engkau dahulu datang berguru kepada kami ketika masih kecil. Dan sekarang kamilah yang datang kepadamu dalam keadaan engkau telah menjadi seorang imam besar!”

Sufyan adalah seorang yang sangat gemar mencatat ilmu. Sampai-sampai di penghujung dari kehidupannya ia masih saja sibuk dengan ilmu. Ketika Sufyan terbaring di atas ranjangnya, dalam keadaan menunggu ajal dalam sakitnya yang parah, datanglah seseorang menyampaikan kepadanya sebuah hadits. Tahukah pembaca apa yang diperbuat Sufyan Ats Tsauri saat itu? Rasa takjubnya kepada hadits tak bisa menahan tangannya untuk menggapai papan tulis kecil yang tersimpan di bawah ranjangnya, lalu segera ia tulis hadits tersebut.

“Wahai Imam, dalam keadaan seperti ini engkau masih sibuk pula dengan mencatat?!” Ujar sebagian penjenguk keheranan.

“Apa salahnya? Bukankah ini perkara baik? Kalau aku masih diberi umur panjang, berarti aku telah mendengar satu kebaikan. Kalaupun aku mati, maka aku telah menulis satu kebaikan pula.” demikian prinsip beliau.

Sufyan melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah untuk mencari ilmu, berhaji, dan menziarahi masjid Nabi. Beliau sempatkan pula untuk berziarah ke Masjid Al Aqsha di Syam. Di awal perjalanan menuntut ilmu, umur beliau masih sangat muda, bulu-bulu pada wajah dan dagunya belum seberapa lebat. Perjalanan ke Yaman ditempuhnya pula untuk berguru kepada Ma’mar. Itulah beberapa safar yang dijalani Sufyan di samping negeri-negeri lainnya.

Waktu panjang yang dihabiskan oleh Sufyan Ats Tsauri dalam pengembaraan ini tentu membutuhkan banyak biaya. Apalagi Sufyan sempat menjadi buruan penguasa selama beberapa tahun dari kehidupannya gara-gara menolak permintaan khalifah untuk menjadi hakim. Ia harus gesit berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bersembunyi dan menyamar dengan berbagai cara sehingga ia lolos dari pengawasan utusan kerajaan. Namun begitu, ia tetap melanjutkan thalabul ilmi, mencari hadits dari para ulama. Untuk itulah, ia sempatkan dari waktunya untuk berdagang atau bekerja kepada seseorang dan mengambil upah darinya.

DAYA HAFAL YANG KUAT SERTA PENGAKUAN PARA ALIM


Sufyan memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia pernah berterus terang tentang dirinya, “Belum pernah qalbuku menghafal sesuatu, lalu aku lupa dengannya.” Para ulama hadits di zamannya mengunggulkan Sufyan daripada Imam Malik dan Syu’bah bin Al Hajjaj dari sisi hafalan hadits.

Yahya bin Sa’id Al Qaththan berkata, “Menurutku, tidak ada seorang pun (di zaman itu) lebih aku kagumi daripada Syu’bah. Bahkan menurutku, tidak ada yang menandinginya. Namun bila hafalan Syu’bah berbeda dengan Sufyan maka aku lebih yakin dengan hafalan Sufyan.”

Sufyan terbiasa membagi malamnya menjadi dua. Separuh untuk membaca Al Quran dan shalat malam. Separuh untuk mengulang-ulang hadits dan menghafalnya. Yang dihafalnya dari hadits tidak kurang dari 30 ribu.

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang yang lebih tahu halal dan haram daripada Sufyan Ats Tsauri.”

Sebagian dari umurnya, terpaksa dijalani dalam keadaan bersembunyi. Dalam kegentingan yang demikian mencekam, ia tetap bisa mencari hadits. Seorang ahli hadits, Sulaiman bin Mutsanna mengatakan bahwa Sufyan datang ke negerinya. Ia berkirim surat kepadanya melalui seseorang.

Dalam surat itu Sufyan berkata, “Telah sampai kepadaku sejumlah hadits (yang berasal darimu), aku ingin mendengar langsung darimu. Namun aku tidak bisa bertemu denganmu karena keadaan yang telah engkau ketahui. Jika engkau tidak keberatan, datanglah kemari wahai Sulaiman.”

Maka datanglah Sulaiman dan Sufyan mendengarkan riwayat-riwayat haditsnya.

TELADAN DALAM RASA TAKUT DAN PENGAMALAN ILMU


Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Suatu ketika kami berada di samping Sufyan. Kita melihat seakan Sufyan sedang berdiri menghadapi pengadilan di padang mahsyar. Tampak dari badan beliau rasa takut dan khusyuk. Tidak mungkin kami angkat bicara sementara keadaan beliau sedemikian rupa. Ketika mulai reda barulah beliau membacakan haditsnya.”

Abdurrahman bin Mahdi berkata pula, “Saya mendengar Sufyan Ats Tsauri berkata, ‘Tidaklah sampai kepadaku ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan aku telah mengamalkannya walau hanya sekali.’”

Ia benar-benar merasakan sebuah tanggung jawab yang besar. Ia takut jikalau bertemu dengan Allah lalu ditanya pada tiap haditsnya, buat apa engkau hafal Al Quran, apakah engkau sudah mengamalkannya?

Dalamnya ilmu beliau, justru semakin membuat Sufyan lebih bersikap hati-hati dalam setiap fatwa. Kata Marwan bin Muawiyah, “Aku bersaksi bahwa Sufyan suatu ketika dia dimintai fatwa tentang perceraian.

Ia terdiam dan berkata, “Ini adalah masalah penting. Bagaimana jika aku berfatwa dengan halal sementara yang benar adalah haram?”

Adalah Sufyan Ats Tsauri seorang yang bijaksana. Ia berkata, “Jika kalian berada di Syam, banyak-banyaklah menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Sebab sebagian penduduk Syam suka mencelanya. Jika kalian berada di Kufah, sebutkanlah hadits-hadits tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar. Sebab orang-orang yang terpengaruh dengan Syiah di Kufah tidak jarang mencela Abu Bakar dan Umar.

IBADAHNYA


Ibadahnya luar biasa. Diceritakan oleh Yusuf bin Al Asbath bahwa selepas Isya, Sufyan minta disediakan air wudhu.

“Berikan kepadaku kendi itu, aku ingin berwudhu.”

Maka Yusuf memberikan kendi itu kepadanya lalu diterimanya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya berada di pipi sebelah kiri menopang kepalanya. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Yusuf pun beranjak dari tempat itu untuk tidur sampai waktu fajar. Ketika hendak mengambil air wudhu, Yusuf terkejut bukan kepalang. Ternyata Sufyan masih dalam posisi semula.

“Sudah subuh wahai Sufyan.” Yusuf berkata kepadanya mengingatkan.

“Hah, benarkah? Sejak engkau berikan kendil itu, tiba-tiba pikiranku terbang ke kampung akhirat. Aku memikirkannya sepanjang malam!”

Beliau paling sering melakukan shalat malam hingga menjelang waktu subuh. Setelah itu, ia merebahkan badan, diangkatnya kedua kaki, lalu disandarkan pada dinding untuk mempercepat aliran darah ke kepala sehingga badan kembali bugar.

Kalau ia baru makan enak, ibadahnya pun bertambah giat. Suatu ketika ia makan daging cincang yang dimasak dengan kurma dan susu.

Ia berujar, “Berbuat baiklah dengan jasadmu yang telah letih.”

Ketika ia mendatangi Abdurrazaq, disuguhkan di hadapannya Sakbaj, makanan khas, berupa daging yang dimasak dengan cuka. Ats Tsauri menyantapnya dengan bersemangat. Dihidangkan pula di hadapannya kurma kering dari Thaif, maka ia pun menyantapnya. Lalu berkata, “Wahai Abdurrazzaq engkau telah memberikan makan kepada himarmu. Sungguh, sekarang ia benar-benar punya gairah untuk bekerja.” Maka malam itu ia shalat hingga menjelang subuh.

Ali bin Fudhail berkata, “Aku melihat Ats Tsauri sedang sujud di dekat Ka’bah. Aku pun memulai thawaf. Setelah aku menyelesaikan 7 putaran, ia belum mengangkat kepalanya.

Begitu pula dikatakan oleh Ibnu Wahb, “Aku pernah melihat Ats Tsauri shalat sunnah setelah Maghrib. Ketika ia sujud, ia tenggelam dalam sujudnya hingga berkumandang adzan Isya.

Rasa takutnya kepada Allah sulit dilukiskan. Kata Qabishah, “Tidaklah aku duduk bersama Sufyan, kecuali ia selalu mengingatkan aku dengan kematian. Dan tidaklah aku bermajelis dengan seorang pun yang lebih banyak mengingatkan kematian daripada bermajelis dengan Sufyan.”

ZUHUDNYA TERHADAP DUNIA DAN TAWADHUNYA


Ia adalah seorang yang zuhud. Dunia datang kepadanya namun ia tinggalkan. Ia hanya mengambil secukupnya supaya terhindar dari mengemis. Terkadang ia sibuk dengan jual beli, namun tidaklah jual beli itu melampaui kebutuhan pokoknya.

Ia memiliki wasiat-wasiat penting dalam masalah zuhud. Ia berkata, “Zuhud itu bukan diukur dengan makan yang serba keras atau baju yang serba kasar. Namun zuhud artinya menyederhanakan angan-angan dan menanti kematian.”

Ia menasihati orang yang hendak bepergian untuk tidak keluar dengan orang yang jauh lebih kaya. “Kalau engkau membelanjakan hartamu seperti dirinya, bekalmu tentu lebih cepat habis. Sebaliknya, kalau engkau mengirit, kamu akan dianggap orang pelit. Maka pergilah kamu bersama orang yang sepertimu.”

SEMANGAT MENGINGKARI KEMUNGKARAN


Berkata Syuja’ bin Al Walid, “Aku berhaji bersama Sufyan. Tidak henti-hentinya lisannya beramar makruf nahi mungkar. Baik ketika berangkat ataupun ketika pulang. Ia merasakan betapa besar tanggung jawabnya dalam perkara ini. Terkhusus jika ia tidak mampu melakukan inkarul munkar (pengingkaran terhadap kemungkaran).

Ia berkata, “Jika aku melihat diriku berkewajiban mengingatkan kemungkaran, namun aku tidak mampu melakukannya, maka aku merasakan besarnya tanggung jawabku di sisi Allah. Sehingga aku bisa kencing darah seketika.”

Dari Ibnu Mahdi, “Aku bersama Sufyan duduk-duduk di Makkah. Lalu dia melompat dari tempat duduknya dan berkata, ‘Waktu siang telah berlalu. Mari kita bangkit untuk berbuat. Duduk-duduk kalau hanya sekadar membuang waktu tidak ada gunanya.’”

Tawadhu’nya juga luar biasa. Kata Ibnu Mahdi suatu saat, “Ketika aku tidur di rumahnya, maka ia menangis. Aku bertanya, “Kenapa engkau menangis?”

Ia berkata, “Sesungguhnya dosaku mungkin lebih ringan dari sekepal tanah ini. Namun aku takut, imanku akan dicabut sesaat sebelum aku mati.”

Inilah gambaran sikap takut dan takwanya serta wara’nya, dan apa yang tersembuyi yang tidak ternukil kepada kita barangkali lebih banyak lagi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membuka mata kita, kemudian menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu berkaca dan berupaya meneladani mereka. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami nilai-nilai kemuliaan mereka. Amin.

---== ||| ==---

Imam Sufyan bin Said Ats Tsauri rahimahullah bukan hanya zuhud dari harta dunia. Namun, beliau pun sangat hati-hati terhadap godaan kedudukan duniawi. Beliau rahimahullah lebih memilih menjauh dari jabatan duniawi. Inilah di antara buah dari kapasitas ilmunya yang luar biasa.

JAUH DARI PINTU ISTANA/PENGUASA


Ketika Al Mahdi, putra Abu Ja’far Al Manshur naik tahta menjadi khalifah sepeninggal ayahnya, ia mengirimkan utusan kepada Sufyan untuk menghadapnya. Ketika sampai di istana, khalifah melepaskan cincinnya, dan melemparkannya di hadapan Sufyan. Lalu berkata, “Wahai Abu Abdillah ini adalah cincinku. Berbuatlah untuk umat Islam dengan Al Kitab dan As Sunnah.”

Sufyan tidak segera mengambil cincin itu. Namun ia berkata menyela, “Izinkan aku bicara sedikit wahai Amirul Mukminin?”

“Silakan!”

“Jika aku bicara, apakah engkau akan menjamin keamanan untukku?”

“Ya!” kata khalifah.

“Wahai khalifah, janganlah engkau mengutus kepadaku seorang pun. Biarkan aku datang sendiri. Dan jangan engkau memberikan sesuatu kepadaku, kecuali kalau aku memintanya.” ujar Sufyan di hadirat khalifah.

Khalifah marah besar dengan sindiran Sufyan. Hampir saja ia berbuat sesuatu terhadap Sufyan, kalau tidak diingatkan oleh sekretarisnya akan jaminan keselamatan dan keamanan yang kadung diberikan.

Ketika Sufyan pergi meninggalkan istana, ia diikuti murid-muridnya. Mereka menyesalkan tindakan Sufyan, “Apa yang mencegahmu menyanggupi permintaan khalifah? Bukankah khalifah telah memintamu untuk bertindak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Sufyan menanggapi ucapan mereka bagai angin lalu. Ia berkata, “Aku tidak takut dengan penghinaan mereka, justru aku takut dengan penghormatan mereka, sehingga aku tidak bisa menilai kejelekan sebagai kejelekan.” Akhirnya Sufyan pergi menuju Bashrah.

KISAH SUFYAN DIBURU KHALIFAH AL MANSHUR


Sufyan sempat melarikan diri dan berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain beberapa waktu dari umurnya. Hal ini dikarenakan dahulu, di masa khalifah Abu Ja’far Al Manshur, beliau diminta untuk menjadi qadhi (hakim). Namun beliau menolak permintaan ini.

Sayang, Abu Ja’far tetap saja memaksakan kehendaknya. Akhirnya Sufyan dijebloskan dalam bui dan dicambuk. Sehingga, dengan sangat terpaksa beliau menerima tugas untuk menjadi qadhi tersebut. Tak lama kemudian, Sufyan melarikan diri dari jabatan sebagai qadhi. Ia terus menerus melarikan diri dan bersembunyi. Kitab-kitab yang ia miliki dikubur sementara. Namun demikian ia tetap memburu hadits dan mencari ilmu serta beribadah kepada Allah.

Khalifah Abu Ja’far begitu getol menggalakkan pencarian terhadap Sufyan. Abu Ahmad Az Zubairi berkata, “Aku berada di masjid Khaif bersama Sufyan. Ada seorang petugas menyampaikan sayembara, ‘Barang siapa yang bisa membawa Sufyan kepada khalifah, maka ia akan mendapat hadiah 10 ribu (dirham/dinar).’”

Diceritakan pula bahwa Sufyan pergi ke Yaman dalam rangka menghilangkan jejak sekaligus mencari ilmu dan hadits dari Ma’mar. Belum lama menginjakkan kedua kaki di Yaman, ia dituduh telah melakukan pencurian.

Akhirnya mereka seret Sufyan kepada gubernur Yaman saat itu yang bernama Ma’an bin Zaidah. Dia juga telah mendapat mandat dari khalifah untuk turut serta dalam memburu Sufyan.

Para pelapor itu berkata, “Wahai amir, orang ini mencuri barang kami!”

“Ha! Kenapa engkau mencuri barang mereka?”

“Aku tidak mencuri apa-apa!”

“Menyingkirlah kalian semua, biar aku leluasa menginterogasi!”

Amir berbicara empat mata dengan Sufyan dan bertanya, “Siapa namamu?”

“Aku adalah Abdullah bin Abdurrahman (hamba Allah anak dari hamba ar Rahman).” Sufyan tidak ingin berdusta, namun tidak pula ingin berterus terang tentang jati dirinya, sebab ia sedang dalam pencarian.

“Aku bertanya kepadamu demi Allah, sebutkan garis nasabmu!”

Sufyan tidak mungkin lagi menyembunyikan jati dirinya, sebab gubernur Yaman telah meminta dengan menyebut nama Allah.

“Aku adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats Tsauri.”

“Hah kamu Ats Tsauri?! Bukankah kamu buron khalifah?!”

Beliau menjawab, “Benar!”

Kepala sang gubernur tertunduk sejenak memikirkan sesuatu. “Baiklah, jika engkau mau, tinggallah di sini, atau pergi dari sini. Seandainya engkau bersembunyi di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya. Aku akan jaga dirimu dan aku akan bela engkau.” Sungguh Ma’an bin Zaidah memiliki kebaikan yang banyak.

KABUR KE BASHRAH


Abdurrahman bin Mahdi menceritakan, Sufyan tiba di Bashrah saat penguasa belum juga mengendurkan upaya pencarian terhadapnya.

Ia bersembunyi di sebuah kebun kurma. Ia mendaftarkan diri menjadi pekerja dan penjaga kebun, serta memelihara buah-buah kurma.

Suatu ketika kebunnya didatangi oleh para petugas kerajaan yang biasa mengambil sebagian dari hasil bumi untuk kerajaan. “Siapa kamu wahai orang tua?”

“Aku berasal dari Kufah.”

“Dari Kufah? Antara kurma Bashrah dan kurma Kufah, mana yang lebih lezat dan manis?”

“Maaf aku tidak tahu. Belum pernah aku makan kurma Bashrah.”

“Hah? Pembohong besar kamu. Semua orang, orang jahat, atau orang baik bahkan binatang serendah anjing pun itu dengan leluasa makan kurma. Kenapa kamu belum pernah memakannya? Aneh sekali pengakuanmu.”

Maka para petugas itu pun kembali kepada gubernur Bashrah ingin menceritakan berita yang sangat aneh ini. Setelah dilaporkan tentang orang tersebut, sang wali berkata, “Bodohnya kalian! Tangkap orang tua itu. Kalau kamu jujur aku yakin dia pasti Sufyan. Cepat burulah dia biar kita bisa hadapkan untuk khalifah!”

Maka kembalilah petugas-petugas itu. Namun, Sufyan sudah lebih dulu kabur.

BERAKHIRNYA PENCARIAN


Abu Ja’far benar-benar serius dalam memburu Sufyan. Pada akhirnya Ats Tsauri bersembunyi di Makkah, tinggal bersama sebagian para ulama hadits. Entah berita dari mana, ternyata Abu Ja’far mengetahui bahwa Sufyan berada di Makkah.

Abdurrazzaq berkata, “Abu Ja’far mengutus para tukang kayu ketika ia keluar menuju Makkah. ‘Wahai para tukang, jika kalian mendapati Ats Tsauri, tangkap dan salib saja dia.’”

Dipancangkanlah tiang salib. Selanjutnya diumumkan sayembara, “Bagi siapa yang mendapatkan Sufyan, maka…”

Di saat yang genting itu, Sufyan bersembunyi di antara dua kamar. Kepalanya berada di kamar Fudhail dan kedua kakinya berada di kamar Ibnu Uyainah. Dikatakan kepada Sufyan, “Bersembunyilah wahai Abu Abdillah, jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan musuh-musuh kita.”

Lalu Sufyan menarik sebuah kain dan menutupi dirinya dengan kain-kain itu.

Ternyata sebelum sampai di Makkah, datanglah kabar bahwa Khalifah Abu Ja’far keburu dijemput ajal. Sejak itulah, pencarian terhadap Sufyan akhirnya dihentikan.

Kitab-kitabnya yang dulu dikubur, digali lagi bersama seorang rekan belajar. Saat penggalian, sang teman mengatakan (setengah bercanda), “Wahai saudaraku, sesungguhnya pada rikaz (barang-barang temuan yang terpendam) itu ada kewajiban zakat. Wahai Abu Abdillah, sisihkanlah dan berikan untukku sebagian dari harta itu sesukamu?”

Maka Sufyan menyisihkan beberapa juz dari kitab-kitabnya, dan membacakan hadits-haditsnya kepada rekan tersebut.

KEMBALI KEPADA PEMILIKNYA DAN KENANGAN PARA ULAMA


Setelah itu Sufyan tetap melanjutkan tugasnya sebagai hamba Allah, terus beribadah, mencari ilmu, mengajar, amar makruf nahi mungkar, hingga menjumpai ajal yang telah Allah takdirkan untuknya. Ia meninggal di Bashrah pada bulan Sya’ban tahun 161 hijriah. Dia dimandikan oleh Abdullah bin Ishaq Al Kinani.

Berkata Yazid bin Ibrahim, “Aku melihat Sufyan dalam mimpi di malam kematiannya, ada yang berkata kepadaku, ‘Telah berpulang seorang amirul mukminin dalam hadits.’” Saudara-saudara dan murid-murid serta rekan-rekannya tidak mampu untuk berkumpul untuk menshalati Sufyan. Sehingga mereka menshalati Sufyan setelah dikubur.

Berkata Ibrahim, “Aku melihat Sufyan dalam mimpiku, aku bertanya kepadanya, ‘Sedang apa engkau wahai Sufyan?’ Kata Sufyan, ‘Aku bersama para malaikat Al Kiram (yang mulia) Al Bararah (yang baik).’”

Berkata Ahmad bin Hanbal, “Ibnu Uyainah berkata kepadaku, ‘Engkau tidak akan lagi menjumpai orang sehebat Sufyan sampai engkau mati.’”

Auza’i berkata, “Kalau aku diminta memilih dari umat ini seorang yang benar-benar menjalankan Al Quran dan As Sunnah, tentu aku akan memilih Sufyan.”

Abdullah bin Al Mubarak mempersaksikan, “Aku menulis ilmu dan hadits lebih dari 100.000 syaikh. Tidak ada yang lebih afdhal dari Sufyan.”

Berkata Ibnu Abidz Dzi`b, “Aku tidak menjumpai orang yang paling mirip dengan kepribadian seorang tabi’in melainkan Sufyan Ats Tsauri.”

Berkata Sa’id, “Aku melihat Sufyan dalam mimpiku terbang dari dahan kurma ke dahan yang lain dan berkata, ‘Alhamdulillah, Dia telah menepati janji-Nya.’”

Wallahu a’lam. Semoga Allah merahmati Sufyan Ats Tsauri rahimahullah. Amin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 11 & 12 vol.1 1434 H/2013 M rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini.