Ishaq Ibnu Rahawaih rahimahullah

Salah satu kisah indah para pendahulu kita yang saleh adalah daya hafal mereka yang sangat kuat. Sulit rasanya saat ini ada manusia yang bisa menandingi kekuatan hafalan dan daya ingat mereka. Kapasitas hafalan yang sangat luas dengan hafalan kokoh, cepat, dan begitu mudah terucap kapanpun dan di manapun. Ribuan bahkan ratusan ribu hadis tersimpan dengan baik dalam memori hafalan mereka. Para Huffazh (penghafal hadis) bertebaran di berbagai penjuru negeri kaum muslimin. Di antara mereka ada seorang ulama bertabur pujian dengan hafalan yang sangat kuat.

Dia adalah Ishaq bin Rahawaih rahimahullah yang merupakan satu dari sekian ulama dengan kekuatan hafalan yang ajaib dan mengagumkan. Ulama dengan kuniah Abu Ya’qub ini dilahirkan apda tahun 161 H. Demikian ditegaskan oleh Adz Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala. Nasab panjangnya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Abdillah bin Mathar bin Ubaidillah bin Ghalib bin Warits bin Ubaidillah bin Athiyyah bin Murrah bin Ka’ab bin Hammam bin Asad bin Asad bin Murrah bin Amr bin Handzalah bin Malik Zaid Manah bin Tamim At-Tamimi rahimahullah.

Rahawaih adalah sebutan untuk ayahnya yang bernama Ibrahim, namun julukan tersebut melekat kepada Ishaq. Julukan tersebut diberikan kepada ayahnya karena terlahir di jalan Kota Mekah. Sang ayah sebenarnya tidak suka mendapat julukan seperti itu karena dalam bahasa persia Raah artinya jalan dan Waih adalah menemukan. Adapun Ishaq merasa nyaman dengan gelar tersebut dan tidak masalah bagi beliau untuk menyandangnya.

Di awal masa periwayatan hadisnya, beliau pernah mendengarkan hadis dari Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Namun saat itu beliau tidak meriwayatkan hadis dari Ibnul Mubarak karena masih berstatus pemula dalam menuntut ilmu. Kecintaan terhadap hadis membuat Ishaq bertekad melakukan perjananan ke berbagai negeri. Peristiwa ini terjadi tahun 184 H dan beliau berhasil menjelajahi berbagai negeri seperti Irak, Yaman, Syam, Hijaz, dan selainnya. Di tempat itulah beliau bertemu dan belajar kepada para ulama besar di masanya. Termasuk meriwayatkan hadis dari para ulama atba’ tabi’in (ulama pengikut tabiin). Sebut saja Al-Fudhail bin Iyadh, Mu’tamir bin Sulaiman, Al Fadhl bin Musa As Sinani, Abdul Aziz Ad Darawardi, Sufyan bin Uyainah, Abu Muawiyah Adh Dharir, Abdullah bin Wahb, Muhammad bin Ja’far Ghundar, Al Walid bin Muslim, Ismail bin Ulayyah, Yazid bin Harun, Yahya bin Sa’id Al Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, dan selain mereka.

Murid-murid beliau juga tak kalah banyaknya dan yang luar biasa berasal dari berbagai kalangan. Ada di antara guru-gurunya yang meriwayatkan hadis darinya seperti Yahya bin Adam dan Baiqiyyah bin Al Walid. Atau dari deretan ulama serating beliau seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Masih banyak ulama-ulama besar yang lainnya seperti Muhammad bin Ismail Al Bukhari dan Muslim Al Hajjaj, keduanya adalah pemilik Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kemudian Abu Dawud dan An Nasai dalam Kitab Sunan keduanya yang sangat terkenal. Muhammad bin Nashr Al Marwazi, Dawud bin Ali Ath Thahiri, Ja’far Al Firyabi, Abul Abbas As Sarraj yang merupakan murid terakhirnya, dan masih banyak selain mereka. Di antara kelebihan Ishaq bin Rahawaih rahimahullah adalah hafalannya yang sangat kuat.

Hafalan Sangat Kuat


Para ulama yang sezaman dengannya dan tentu saja murid-muridnya telah mempersaksikan hafalan Ishaq yang sangat kuat. Abu Dawud Al Khaffaf rahimahullah berkisah bahwa Ishaq bin Rahawaih pernah menuliskan kepadanya dan teman-temannya sebelas ribu hadis dari hafalannya sendiri. Tidak sampai di situ, bahkan setelah itu Ishaq membaca semuanya tanpa ada kekurangan atau kelebihan satu hurufpun. Apa yang tertulis di lembaran-lembaran catatan disebutkan dengan sempurna tanpa ada kesalahan.

Pernah pula Ishaq ditanya oleh Abdullah bin Thahir tentang kemampuannya menghafal seratus ribu hadis. Maka Ishaq menegaskan bahwa tidaklah beliau mendengar sesuatu melainkan pasti menghafalnya dan tidaklah beliau hafal sesuatu kemudian lupa. Bahkan ulama sekelas Abu Zur’ah sekali pun mengakui kekokohan hafalannya, ia berkata, “Belum pernah terlihat ada manusia yang lebih kuat hafalannya daripada Ishaq.” Padahal Abu Zur’ah sendiri mempunyai daya hafal yang sangat luar biasa. Ia pernah berkata, “Tidaklah telingaku mendengar ilmu melainkan pasti akan dihafal oleh kalbuku.” Sampai-sampai Abu Zur’ah harus menutup telinga ketika berjalan di pasar karena takut suara nyanyian biduan wanita akan terhafal olehnya.” Namun demikian ia pun tanpa ragu mengakui kekuatan hafalan Ishaq bin Rahawaih.

Abu Hatim mengatakan, “Sungguh mengagumkan kesempurnaan dan kekuatan hafalan yang dimilikinya sehingga selamat dari kesalahan.” Maka dikatakan kepada Abu Hatim, “Sesungguhnya Ishaq mendiktekan tafsir dengan menggunakan hafalannya.” Abu Hatim berkata, “Ini lebih mengagumkan, karena sungguh ketelitian hafalan hadis dengan sanadnya lebih mudah dan ringan daripada ketelitian hafalan sanad-sanad riwayat tafsir. Oleh karenanya disebutkan dalam biografinya bahwa Ishaq selalu menyampaikan hadis kepada murid-muridnya dengan hafalan. Beliau tidak pernah sama sekali menulis hitam di atas putih dalam meriwayatkan hadis. Bahkan Ishaq sendiri pernah melakukan penelitian terhadap tujuh puluh ribu hadis yang beliau riwayatkan dengan hafalannya. Dan sungguh luar biasa, ternyata dari puluhan ribu hadis itu hanya didapatkan dua kesalahan saja!

SANJUNGAN ULAMA


Para ulama seolah tak henti-hentinya mengalirkan pujian kepada Ishaq bin Rahawaih rahimahullah. Simak berbagai pujian dan rekomendasi baik dari para ulama berikut ini. Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala, “Ishaq bin Rahawaih adalah seorang imam besar, Syaikh dari timur, dan penghulunya para hafizh. Selain hafalan yang kuat, Ishaq adalah imam dalam ilmu tafsir, tokoh dalam ilmu fikih, dan termasuk imam mujtahid.”

Yahya bin Yahya pernah ditanya tentang Ishaq, maka ia berkata, “Satu hari bersama Ishaq lebih aku sukai daripada umurku.” Muhammad bin AbdulWahhab Al Farra’ mengatakan, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Ishaq, betapa faqih dan berilmunya dia.” Al Hakim mengatakan, “Ishaq bin Rahawaih adalah Imam di masanya dalam menghafal dan berfatwa. Ia tinggal di Naisabur dan meninggal di sana.” Pembelaan juga datang dari Nu’aim bin Hammad dalam pernyataannya, “Jika engkau melihat ada yang membicarakan keburukan tentang Ishaq, maka curigailah agama orang tersebut.”

Tatkala Ishaq meninggal, Muhammad bin Aslam Ath Thusi rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun di zaman ini yang lebih takut (kepada Allah) daripada Ishaq bin Rahawaih.” Kemudian ia membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” [QS. Fathir: 28]. Dan Ishaq adalah orang yang paling berilmu di zamannya. Kalau seandainya Sufyan Ats Tsauri masih hidup tentu ia akan membutuhkan Ishaq.”

Ishaq dikenal sebagai pribadai yang jujur dan membenci kedustaan, hingga Abu Muhammad Ad Darimi berkata, “Ishaq memimpin penduduk timur dan barat dengan kejujurannya.” Khatib Al Baghdadi menyatakan, “Ishaq adalah salah seorang imam dan ulamanya kaum muslimin dalam ilmu agama. Terkumpul padanya ilmu hadis, fikih, hafalan, kejujuran, sifat wara’ dan zuhud.” Ali bin Hujr mengatakan, “Pada hari kematiannya, Ishaq belum meninggalkan ulama yang setara dengannya dalam hal keilmuan dan pemahaman.”

Abu Nu’aim Al Hafizh mengatakan, “Ishaq adalah qarinnya (sahabat dekatnya) Ahmad. Ishaq adalah ulama yang menyebarkan hadis serta menghancurkan hujjah para ahli bid’ah.” Imam Ahmad rahimahullah pun pernah ditanya tentang Ishaq bin Rahawaih, maka beliau pun terkejut seraya berkata, “Ulama seperti Ishaq ditanya?! Ishaq adalah Imam bagi kami.”

Imam Ibnu Huzaimah rahimahullah juga tak ketinggalan memberikan sanjungan kepada Ishaq dalam pernyataannya, “Demi Allah kalau seandainya Ishaq hidup di zaman tabiin, niscaya mereka akan mengakui hafalan, keilmuan, dan kefakihannya.” Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkisah tentang pengalaman pribadinya, “Aku datang menemui Ishaq bin Rahawaih, sahabat kami, tahun 199 H di Baghdad. Saat itu para pakar hadis berkumpul di Rashaafah, di antara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan yang lainnya. Di awal majelis mereka berikan kepada Ishaq dan beliau menjadi khatib.”

BERAKIDAH AHLUS SUNNAH


Ishaq adalah seorang ulama berakidah ahlus sunnah, hal ini sangat nampak dalam statment dan pernyataannya. Harb Al Kirmani pernah bertanya kepada Ishaq tentang tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Tiada pembicaraan rahasia di antara tiga orang melainkan Dia lah yang keempat.” [QS. Al Mujadilah: 7]. Ishaq pun menjawab, “Di manapun engkau berada, maka Dia lebih dekat kepadamu daripada urat leher. Namun Allah subhanahu wa ta’ala tinggi di atas makhluk ciptaan-Nya. Ayat yang paling jelas tentang hal ini adalah firman-Nya, “Ar Rahman beristiwa’ di atas Arsy-Nya.” [terjemah Q.S. Thaha: 5].

Pada kesempatan lain Ishaq menegaskan kesepakatan para ulama tentang istiwa’nya Allah di atas Arsy-Nya dan Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di lapisan bumi ke tujuh. Beliau juga menyatakan, “Tidak ada perselisihan pendapat di antara ulama bahwa Al Quran adalah firman Allah bukan makhluk. Bagaimana mungkin sesuatu yang keluar dari Rabb adalah makhluk?!” Pernah beliau ditanya oleh Manshur bin Thalhah, “Wahai Abu Ya’qub! Apakah engkau akan menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia setiap malam?” Ishaq pun menjawab, “Kita mengimani hal itu, jika engkau tidak beriman bahwa Allah di atas langit, maka engkau tidak perlu bertanya kepadaku tentang hal ini.”

Abu Dawud As Sijistani rahimahullah berkisah bahwa Ishaq mengatakan, “Siapa saja yang mengatakan: ‘Aku tidak akan berpendapat bahwa Al Quran itu makhluk atau bukan makhluk’, maka dia adalah seorang Jahmi (pengikut Jahmiyah).” Ishaq juga berkata, “Telah berlalu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan itu merupakan kenikmatan penduduk surga yang paling besar.”

Al Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ishaq meninggal pada malam nishfu Sya’ban tahun 238 hijriah dengan usia 77 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat serta pahala-Nya kepada Ishaq bin Rahawaih rahimahullah atas jasa-jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. (Ustadz Abu Hafiy)


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 87 vol.07 1440H/2019M rubrik Figur.