Ad-Dararil Mudhiyyah - Larangan-larangan Ihram

فَصۡلٌ
فِي مُحَرَّمَاتِ الۡإِحۡرَامِ

وَلَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ الۡقَمِيصَ، وَلَا الۡعِمَامَةَ، وَلَا الۡبُرۡنُسَ، وَلَا السَّرَاوِيلَ، وَلَاثَوۡبًا مَسَّهُ وَرۡسٌ وَلَا زَعۡفَرَانٌ، وَلَا الۡخُفَّيۡنِ إِلَّا أَنۡ لَا يَجِدَ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَقۡطَعۡهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ، وَلَا تَنۡتَقِبُ الۡمَرۡأَةُ، وَلَا تَلۡبَسُ الۡقُفَّازَيۡنِ، وَمَا مَسَّهُ الۡوَرۡسُ وَالزَّعۡفَرَانُ، وَلَا تُطَيِّبُ ابۡتِدَاءً، وَلَا يَأۡخُذُ مِنۡ شَعۡرِهِ أَوۡ بَشَرِهِ إِلَّا لِعُذۡرٍ، وَلَا يَرۡفُثُ، وَلَا يَفۡسُقُ، وَلَا يُجَادِلُ، وَلَا يَنۡكِحُ، وَلَا يَخۡطُبُ، وَلَا يَقۡتُلُ صَيۡدًا، وَمَنۡ قَتَلَ فَعَلَيۡهِ جَزَاءٌ مِثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحۡكُمُ بِهِ ذَوَا عَدۡلٍ، وَلَا يَأۡكُلُ مَا صَادَ غَيۡرُهُ إِلَّا إِذَا كَانَ الصَّائِدُ حَلَالًا وَلَمۡ يَصُدۡهُ لِأَجۡلِهِ، وَلَا يَعۡضُدُ مِنۡ شَجَرِ الۡحَرَمِ إِلَّا الۡإِذۡخِرَ، وَيَجُوزُ لَهُ قَتۡلُ الۡفَوَاسِقِ الۡخَمۡسِ، وَصَيۡدُ حَرَمِ الۡمَدِينَةِ وَشَجَرُهُ كَحَرَمِ مَكَّةَ، إِلَّا أَنۡ قَطَعَ مِنۡ شَجَرِهِ أَوۡ خَبَطَهُ كَانَ سَلۡبُهُ حَلَالًا لِمَنۡ وَجَدَهُ، وَيَحۡرُمُ صَيۡدُ وَجٍّ وَشَجَرُهُ. 
Seorang yang berihram tidak boleh memakai gamis, serban, burnus (jubah yang memiliki penutup kepala), sirwal (celana yang lebar), pakaian yang terkena wars (pewarna nabati jingga yang berbau wangi) dan safron. Tidak pula khuf (sejenis sepatu) kecuali ia tidak mendapatkan sandal, maka ia potong lebih rendah daripada kedua mata kaki. Tidak boleh memakai wewangian saat memulai ihram. Tidak boleh mengambil rambut atau kulit kecuali karena ada uzur. Tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berdebat. Tidak boleh menikah, melamar. Tidak boleh membunuh hewan buruan. Siapa saja yang membunuhnya maka wajib baginya untuk menebus dengan binatang ternak semisal yang telah ditetapkan oleh dua orang yang adil. Tidak boleh memakan hewan buruan yang diburu oleh orang lain kecuali si pemburu tidak berihram dan ia tidak memburu untuk orang yang berihram. Pepohonan di tanah haram tidak boleh ditebang kecuali idzkhir. Boleh untuk membunuh lima hewan fasik. Hewan buruan dan pepohonan di tanah suci Madinah seperti di tanah suci Makkah, kecuali apabila ada yang menebang pohon atau memangkas dedaunannya, maka barang-barangnya halal bagi siapa saja yang memergokinya. Haram pula hewan buruan dan pepohonan daerah Wajj.
أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَلۡبَسُ تِلۡكَ الۡأُمُورَ، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: مَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ؟ فَقَالَ: (لَا يَلۡبَسُ الۡمُحۡرِمُ الۡقَمِيصَ؛ وَلَا الۡعِمَامَةَ، وَلَا الۡبُرۡنُسَ، وَلَا السَّرَاوِيلَ، وَلَا ثَوۡبًا مَسَّهُ وَرۡسٌ وَلَا زَعۡفَرَانٌ، وَلَا الۡخُفَّيۡنِ إِلَّا أَنۡ لَا يَجِدَ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَقۡطَعۡهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسۡفَلَ مِنَ الۡكَعۡبَيۡنِ). قَالَ الۡقَاضِي عِيَاض: أَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَا ذُكِرَ فِي هٰذَا الۡحَدِيثِ لَا يَلۡبَسُهُ الۡمُحۡرِمُ.
Orang yang berihram tidak boleh memakai perkara-perkara tersebut, berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar di dalam dua kitab Shahih[1] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: Apakah yang boleh dipakai orang yang berihram? Beliau menjawab, “Seorang yang berihram tidak boleh memakai gamis, serban, burnus (jubah yang memiliki penutup kepala, sirwal (celana yang lebar), pakaian yang diolesi wars dan safron. Tidak boleh pula khuf (sejenis sepatu) kecuali apabila ia tidak mendapatkan sandal, maka ia potong khuf tersebut sehingga menjadi lebih rendah daripada dua mata kaki.” Al-Qadhi ‘Iyadh[2] mengatakan: Kaum muslimin bersepakat bahwa apa saja yang disebutkan di dalam hadis ini tidak boleh dipakai oleh seorang yang berihram.
وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَجِدۡ نَعۡلَيۡنِ فَلۡيَلۡبَسۡ خُفَّيۡنِ، وَمَنۡ لَمۡ يَجِدۡ إِزَارًا فَلۡيَلۡبِسۡ سَرَاوِيلَ) وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ نَحۡوُهُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ.
Muslim[3] dan selain beliau mengeluarkan riwayat dari hadis Jabir, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak mendapatkan sandal, maka silakan memakai khuf, dan siapa saja yang tidak mendapatkan izar (kain yang disarungkan), maka silakan memakai sirwal.” Dan di dalam dua kitab Shahih[4] semisal riwayat tersebut dari hadis Ibnu ‘Abbas.
وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ وَالۡبُخَارِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرۡمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تَنۡتَقِبُ الۡمَرۡأَةُ الۡمُحۡرِمَةُ، وَلَا تَلۡبَسُ الۡقُفَّازَيۡنِ). وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ، وَالۡحَاكِمُ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ: (وَمَا مَسَّ الۡوَرَسُ، وَالزَّعۡفَرَانُ مِنَ الثِّيَابِ). وَالۡقُفَّازُ: بِضَمِّ الۡقَافِ وَتَشۡدِيدِ الۡفَاءِ وَبَعۡدَ الۡأَلِفِ زَايٌ مَا تَلۡبَسُهُ الۡمَرۡأَةُ فِي يَدَيۡهَا فَيُغۡطِي أَصَابِعَهَا وَكَفَّهَا عِنۡدَ مَعُانَاةِ شَيۡءٍ.
Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi[5] mengeluarkan riwayat –dan At-Tirmidzi telah menyahihkannya- dari hadis Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang berihram tidak boleh memakai penutup wajah dan tidak boleh memakai sarung tangan.” Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi[6] menambahkan, “Dan setiap pakaian yang diolesi wars dan safron.” Al-Quffaz dengan mendhammah huruf qaf, mentasydid huruf fa`, dan setelahnya huruf alif adalah huruf zai artinya adalah sesuatu yang dipakai seorang wanita di kedua tangannya untuk menutupi jari-jemari dan telapak tangannya ketika menyentuh sesuatu.
وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَتَطَيَّبُ ابۡتِدَاءً، وَيَجُوزُ لَهُ أَنۡ يَسۡتَمِرَّ عَلَى الطِّيبِ الَّذِي كَانَ عَلَى بَدَنِهِ قَبۡلَ الۡإِحۡرَامِ، فَذٰلِكَ هُوَ الرَّاجِحُ جَمۡعًا بَيۡنَ الۡأَدِلَّةِ، وَقَدۡ أَوۡضَحۡتُ ذٰلِكَ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى.
Seorang yang sudah berihram tidak boleh baru mengenakan wangi-wangian setelah ihramnya, namun boleh ia tetap membiarkan wewangian yang sudah berada di badannya sebelum memulai ihram. Ini adalah pendapat yang kuat karena mengumpulkan berbagai dalil. Aku telah menjelaskannya di dalam Syarh Al-Muntaqa.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَأۡخُذُ مِنۡ شَعۡرِهِ أَوۡ بَشَرِهِ إِلَّا لِعُذۡرٍ، فَلِحَدِيثِ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: كَانَ بِي أَذًى مِنۡ رَأۡسِي فَحُمِلۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَالۡقَمۡلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجۡهِي، فَقَالَ: (مَا كُنۡتُ أَرَى أَنَّ الۡجَهۡدَ قَدۡ بَلَغَ مِنۡكَ مَا أَرَى أَتَجِدُ شَاةً؟) قُلۡتُ: لَا، فَنَزَلَتِ الۡآيَةُ: ﴿فَفِدۡيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٍ﴾ [البقرة: ١٩٦] قَالَ: (هُوَ صَوۡمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ إِوۡإِطۡعَامُ سِتَّةِ مَسَاكِينَ نِصۡفَ صَاعِ طَعَامًا لِكُلِّ مِسۡكِينٍ).
Adapun orang yang berihram tidak boleh mengambil rambut dan kulitnya kecuali ada uzur, berdasarkan hadis Ka’b bin ‘Ujrah di dalam dua kitab Shahih[7] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Dahulu aku tertimpa gangguan di kepalaku, lalu aku dibawa menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kutu bertebaran di wajahku. Beliau bersabda, “Aku tadinya tidak menyangka bahwa engkau telah mengalami kepayahan seperti yang kulihat. Apakah engkau mempunyai seekor kambing?” Aku menjawab: Tidak. Maka, turunlah ayat, “Maka wajiblah atasnya berfidiah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban.” (QS. Al-Baqarah: 196). Beliau bersabda, “Yaitu puasa selama tiga hari dan memberi makan enam orang miskin, setiap satu orang miskin setengah sha’ makanan.”
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَرۡفُثُ، وَلَا يَفۡسُقُ، وَلَا يُجَادِلُ، فَلِنَصِّ الۡقُرۡآنِ، وَهٰذِهِ الۡأُمُورُ لَا تَحِلُّ لِلۡحَلَالِ وَلَكِنَّهَا مَعَ الۡإِحۡرَامِ أَغۡلَظُ.
Orang yang berihram tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan tidak boleh berdebat, berdasarkan nas Alquran. Dan perkara-perkara ini tidak halal bagi orang yang tidak berihram. Akan tetapi, apabila sedang ihram, perkara ini lebih sangat tidak halal.
وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُحۡرِمِ لَا يَنۡكِحُ وَلَا يُنۡكِحُ، فَلِحَدِيثِ عُثۡمَانَ الثَّابِتِ فِي مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَنۡكِحُ وَلَا يُنۡكِحُ وَلَا يَخۡطُبُ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ، وَأَمَّا مَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَ مَيۡمُونَةَ وَهُوَ مُحۡرِمٌ. فَقَدۡ عَارَضَهُ مَا فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ مِنۡ حَدِيثِ مَيۡمُونَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلَالٌ. وَمَا أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَالتِّرۡمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَزَوَّجَ مَيۡمُونَةَ حَلَالًا. وَكَانَ أَبُو رَافِعٍ السَّفِيرُ بَيۡنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبَيۡنَ مَيۡمُونَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، وَهُمَا أَعۡرَفُ بِذٰلِكَ؛ وَعَلَى فَرۡضِ صِحَّةِ خَبَرِ ابۡنِ عَبَّاسٍ وَمُطَابَقَتِهِ لِلۡوَاقِعِ فَلَا يُعَارِضُ الۡأَحَادِيثُ الۡمُصَرَّحَةُ بِالنَّهۡيِ، بَلۡ يَكُونُ هٰذَا خَاصًّا بِالنَّبِيِّ ﷺ.
Seorang yang berihram tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan, berdasarkan hadis ‘Utsman yang telah pasti di dalam riwayat Muslim[8] dan selain beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan tidak boleh melamar.” Dalam bab ini ada banyak hadis. Adapun di dalam dua kitab Shahih[9] dan selain keduanya dari hadis Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram. Maka hadis Maimunah di dalam Shahih Muslim[10] dan selainnya telah membantahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya dalam keadaan tidak ihram. Serta riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi[11] –dan beliau menghasankannya- dari hadis Abu Rafi’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan tidak ihram. Abu Rafi’ adalah perantara pernikahan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Maimunah radhiyallahu ‘anha. Dan keduanya lebih mengetahui hal itu. Atas dasar anggapan kesahihan pengabaran Ibnu ‘Abbas dan kesesuaiannya dengan kenyataan, maka tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang terang mengenai larangan tersebut. Tetapi, bisa jadi ini merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَقۡتُلُ صَيۡدًا؛ فَقَدۡ وَرَدَ ذٰلِكَ الۡقُرۡآنُ الۡكَرِيمُ فَإِذَا قَتَلَ صَيۡدًا فَعَلَيۡهِ الۡجَزَاءُ يَحۡكُمُ بِهِ ذَوَا عَدۡلٍ كَمَا قَالَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَأۡكُلُ مَا صَادَهُ غَيۡرُهُ إِلَى آخِرِهِ؛ فَلِحَدِيثِ الصَّعۡبِ بۡنِ جَثَامَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: أَنَّهُ أَهۡدَى إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ حِمَارًا وَحۡشِيًّا وَهُوَ بِالۡأَبۡوَاءِ أَوۡ بِوَدَّانَ فَرَدَّهُ عَلَيۡهِ؛ فَلَمَّا رَأَى مَا فِي وَجۡهِهِ قَالَ: (إِنَّا لَمۡ نرد عَلَيۡكَ إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ)، وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ نَحۡوَهُ مِنۡ حَدِيثِ زَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمٍ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَكَلَ مِنۡ صَيۡدِهِ الَّذِي صَادَهُ وَهُوَ حَلَالٌ. وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ مُحۡرِمًا فَأَكَلَ عَضُدَ حِمَارِ الۡوَحۡشِ الَّذِي صَادَهُ. وَجَمَعَ بَيۡنَ حَدِيثِ الصَّعۡبِ وَحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ بِأَنَّهُ ﷺ إِنَّمَا امۡتَنَعَ مِنۡ أَكۡلِ صَيۡدِ الصَّعۡبِ لِكَوۡنِهِ صَادَ لِأَجۡلِهِ، وَأَكَلَ مِنۡ صَيۡدِ أَبِي قَتَادَةَ لِكَوۡنِهِ لَمۡ يَصُدۡهُ لِأَجۡلِهِ، وَيَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ حَدِيثُ جَابِرٍ عَنۡ أَحۡمَدَ، وَأَهۡلِ السُّنَنِ، وَابۡنِ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنِ حِبَّان، وَالدَّارُقُطۡنِيِّ، وَالۡحَاكِمِ، وَالۡبَيۡهَقِيِّ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (صَيۡدُ الۡبَرِّ لَكُمۡ حَلَالٌ وَأَنۡتُمۡ حُرُمٌ مَا لَمۡ تَصِيدُوهُ أَوۡ يُصَدۡ لَكُمۡ).
Perihal orang yang berihram tidak boleh membunuh binatang buruan, terdapat di Alquran. Apabila ia telah membunuh, maka dia wajib menebus dengan tebusan yang diputuskan oleh dua orang yang adil. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah firmankan. Adapun orang yang berihram tidak boleh memakan binatang yang diburu oleh orang lain sampai akhir kalimat, berdasarkan hadis Ash-Sha’b bin Jatsamah di dalam dua kitab Shahih[12] dan selain keduanya: Bahwa beliau pernah menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor zebra ketika beliau di Al-Abwa` atau di Waddan, namun beliau mengembalikannya. Ketika Nabi melihat raut mukanya, beliau bersabda: Sesungguhnya kami mengembalikan kepadamu hanya karena kami sedang berihram. Muslim[13] juga mengeluarkan riwayat semisal itu dari Zaid bin Arqam. Dan di dalam dua kitab Shahih[14] dan selain keduanya dari hadis Abu Qatadah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan binatang buruan yang dia buru dalam keadaan Abu Qatadah tidak ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan ihram, lalu beliau memakan lengan atas zebra yang dia buru. Pengumpulan antara hadis Ash-Sha’b dengan hadis Abu Qatadah adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melarang dari makan binatang buruan Ash-Sha’b karena binatang tersebut diburu untuk beliau. Dan beliau makan dari binatang buruan Abu Qatadah karena Abu Qatadah tidak memburu untuk kepentingan beliau. Yang menunjukkan hal itu adalah hadis Jabir dari Ahmad, para penulis kitab As-Sunan, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi[15]; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Binatang buruan darat halal untuk kalian dalam keadaan kalian ihram selama kalian tidak memburunya atau diburu untuk kalian.”
وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَعۡضُدُ مِنۡ شَجَرِ الۡحَرَمِ إِلَّا الۡإِذۡخِرَ، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ: (إِنَّ هَٰذَا الۡبَلَدَ حَرَامٌ، لَا يُعۡضَدُ شَجَرُهُ، وَلَا يُخۡتَلَى خَلَاؤُهُ، وَلَا يُنَفَّرُ صَيۡدُهُ، وَلَا تُلۡتَقَطُ لُقَطَتُهُ إِلَّا لِمُعَرِّفٍ) قَالَ الۡعَبَّاسُ: إِلَّا الۡإِذۡخِرَ فَإِنَّهُ لَا بُدَّ لَهُمۡ مِنۡهُ، فَإِنَّهُ لِلۡقُبُورِ وَالۡبُيُوتِ فَقَالَ: (إِلَّا الۡإِذۡخِرَ). وَأَخۡرَجَا نَحۡوَهُ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ.
Orang yang berihram tidak boleh menebang pepohonan tanah suci kecuali idzkhir, berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas di dalam dua kitab Shahih[16] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Fathu Makkah, “Sesungguhnya kota ini suci, pepohonannya tidak boleh ditebang, rerumputannya tidak boleh dicabut, binatang buruannya tidak boleh diburu, dan barang tercecernya tidak boleh dipungut kecuali bagi yang ingin mengumumkannya.” Al-‘Abbas mengatakan: Kecuali idzkhir karena mereka harus menggunakannya untuk kuburan-kuburan dan rumah-rumah. Beliau bersabda, “Kecuali idzkhir.” Keduanya juga mengeluarkan[17] semisal hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجُوزُ قَتۡلُ الۡفَوَاسِقِ الۡخَمۡسِ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَتۡ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَتۡلِ خَمۡسِ فَوَاسِقِ فِي الۡحِلِّ وَالۡحَرَمِ: الۡغُرَابُ، وَالۡحِدَأَةُ، وَالۡعَقۡرَبُ، وَالۡفَأۡرَةُ، وَالۡكَلۡبُ الۡعَقُورُ. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَمۡسٌ مِنَ الدَّوَابِّ لَيۡسَ فِي قَتۡلِهِنَّ جُنَاحٌ). وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ زِيَادَةً: الۡحَيَّةُ. وَكَذٰلِكَ فِي حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، بِإِسۡنَادٍ فِيهِ لَيۡثُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمٍ.
Orang yang berihram boleh membunuh lima hewan fasik, berdasarkan hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih[18] dan selain keduanya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membunuh lima hewan fasik di tanah halal dan tanah haram: burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing liar yang buas. Dan di dalam dua kitab Shahih[19] pula dari hadis Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lima binatang yang tidak berdosa membunuhnya.” Di dalam Shahih Muslim[20] dari hadis Ibnu ‘Umar dengan tambahan: ular. Demikian pula dalam hadis Ibnu ‘Abbas riwayat Ahmad[21] dengan sanad yang ada Laits bin Abu Sulaim.
وَأَمَّا كَوۡنُ صَيۡدِ الۡمَدِينَةِ وَشَجَرِهِ كَحَرَمِ مَكَّةَ، فَلِحَدِيثِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيۡنَ عَيۡرٍ إِلَى ثَوۡرٍ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ أَيۡضًا مِنۡ حَدِيثِ عَبَّادِ بۡنِ تَمِيمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَإِنِّي حَرَّمۡتُ الۡمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبۡرَاهِيمُ مَكَّةَ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ فِي الصَّحِيحَيۡنِ، وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ.
Binatang buruan Madinah seperti binatang buruan tanah suci Makkah, berdasarkan hadis ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Air sampai Tsaur.” Hadis ini ada di dalam dua kitab Shahih[22] dan selain keduanya. Juga terdapat di dalam dua kitab Shahih[23] dari hadis ‘Abbad bin Tamim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah tanah suci dan mendoakan kebaikan untuknya. Dan aku menjadikan Madinah sebagai tanah suci sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah suci.” Dalam bab ini ada beberapa hadis di dalam dua kitab Shahih[24] dan selain keduanya dari sekelompok sahabat.
وَأَمَّا كَوۡنُ مَنۡ قَطَعَ شَجَرَ الۡمَدِينَةِ أَوۡ خَبَطَهُ يُسۡلَبُ، فَلِحَدِيثِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ :أَنَّهُ رَكِبَ إِلَى قَصۡرِهِ بِالۡعَقِيقِ فَوَجَدَ عَبۡدًا يَقۡطَعُ شَجَرًا أَوۡ يَخۡبِطُهُ فَسَلَبَهُ، فَلَمَّا رَجَعَ سَعۡدٌ جَاءَهُ أَهۡلُ الۡعَبۡدِ فَكلموهُ أَنۡ يَرُدَّ عَلَى غُلَامِهِمۡ أَوۡ عَلَيۡهِمۡ مَا أَخَذَهُ مِنۡ غُلَامِهِمۡ، فَقَالَ: مَعَاذَ الله أَنۡ أَرُدَّ شَيۡئًا نَفَّلَنِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبَى أَنۡ يَرُدَّ عَلَيۡهِمۡ. أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَأَحۡمَدُ. وَفِي لَفۡظٍ لِأَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالۡحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ رَأَيۡتُمُوهُ يَصِيدُ فِيهِ شَيۡئًا فَلَكُمۡ سَلَبُهُ).
Adapun perihal siapa saja yang menebang pohon Madinah atau memangkasnya, boleh dilucuti, maka berdasarkan hadis Sa’d bin Abu Waqqash, “Bahwa beliau pernah mengendarai tunggangan ke rumahnya di Al-‘Aqiq, lalu beliau memergoki seorang hamba yang menebang sebuah pohon atau memangkasnya, maka dia pun melucuti barang-barangnya. Ketika Sa’d telah pulang, majikan budak tersebut datang lalu berbicara dengannya supaya mengembalikan kepada budak tersebut atau kepada mereka semua barang yang ia ambil darinya. Beliau mengatakan: Aku berlindung kepada Allah dari mengembalikan sesuatu yang telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku dan beliau tidak mau mengembalikannya. (HR. Muslim dan Ahmad[25]). Di dalam satu riwayat milik Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim[26] –beliau menyahihkannya-; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang kalian lihat dia berburu di tanah haram, maka barang-barangnya untuk kalian.”
وَأَمَّا تَحۡرِيمُ صَيۡدِ وَجٍّ وَشَجَرِهِ وَعِضَاهِهِ؛ فَلِحَدِيثِ الزُّبَيۡرِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ صَيۡدَ وَجٍّ وَعِضَاهَهُ حَرَمٌ مُحَرَّمٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالۡبُخَارِيُّ فِي تَارِيخِهِ، وَحَسَّنَهُ الۡمُنۡذِرِيُّ، وَصَحَّحَهُ الشَّافِعِيُّ. وَوَجٌّ: بِفَتۡحِ الۡوَاوِ وَتَشۡدِيدِ الۡجِيمِ وَادٌ بِالطَّائِفِ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى مَا فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ الشَّافِعِيُّ وَالۡإِمَامُ يَحۡيَى وَهُوَ الۡحَقُّ، وَلَمۡ يَأۡتِ مَنۡ قَدَحَ فِي الۡحَدِيثِ بِمَا يَصۡلُحُ لِلۡقَدۡحِ الۡمُسۡتَلۡزِمِ لِعَدَمِ ثُبُوتِ التَّكۡلِيفِ بِمَا تَضَمَّنَهُ.
Adapun pengharaman binatang buruan Wajj, pepohonan, dan pohon berdurinya, berdasarkan hadis Az-Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya binatang buruan Wajj dan pepohonannya adalah haram. Diharamkan untuk Allah ‘azza wa jalla.” Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Bukhari[27] di dalam Tarikh beliau, dihasankan oleh Al-Mundziri[28], dan disahihkan oleh Asy-Syafi’i[29]. Wajj dengan menfathah huruf wawu dan tasydid huruf jim adalah sebuah lembah di Thaif. Asy-Syafi’i dan Imam Yahya berpendapat dengan kandungan hadis ini dan inilah yang benar. Dan yang mengkritik hadis ini tidak mendatangkan suatu alasan yang bisa menjatuhkan kesahihannya, yang bisa mengakibatkan tidak berlakunya pensyariatan kandungan hadis ini.

[2] Di dalam Al-Ikmal (4/162). 
[5] HR. Ahmad (2/119), Al-Bukhari nomor 1838, An-Nasa`i (5/133), dan At-Tirmidzi nomor 833. Yang kuat dalam masalah tambahan ini adalah bahwa ia mauquf. Abu ‘Ali An-Naisaburi Al-Hafizh mengatakan: Kalimat “wanita tidak boleh menutup wajah” adalah dari ucapan Ibnu ‘Umar yang terselip di dalam hadis tersebut, sebagaimana di dalam As-Sunanul Kubra karya Al-Baihaqi. Abu Dawud dan Al-Baihaqi telah memberi isyarat akan hal itu. 
[6] HR. Abu Dawud nomor 1827, Al-Hakim (1/486), dan Al-Baihaqi (5/46). 
[10] Nomor 1411, namun riwayat ini ada cacatnya. Al-Bukhari telah menyatakan cacatnya adalah mursal sebagaimana di dalam ‘Ilal At-Tirmidzi (234). Ad-Daruquthni mengatakan: lebih tepat dihukumi mursal. Al-‘Ilal (15/292), dan riwayat mursal ini juga dikeluarkan oleh An-Nasa`i di dalam Al-Kubra (4/288). 
[11] HR. Ahmad (6/393) dan At-Tirmidzi nomor 841 dan ia adalah riwayat yang diingkari ke-maushul-annya. Di dalam sanadnya ada Mathar bin Thahman Al-Warraq dan dia lemah. At-Tirmidzi mengatakan: Ini adalah hadis hasan dan kami tidak mengetahui seorang pun yang membuat sanad ini selain Hammad bin Zaid dari Mathar Al-Warraq dari Rabi’ah. Namun yang sahih perihal hadis ini adalah mursal, diriwayatkan oleh Malik di dalam Al-Muwaththa` (1/348) dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar (2/270). Ad-Daruquthni telah menyebutkan perselisihan hadis ini di dalam Al-‘Ilal (6/13), juga Ibnu ‘Abdul Barr dalam At-Tamhid (3/152). 
[15] HR. Ahmad (3/362), Abu Dawud nomor 1851, An-Nasa`i (5/187), At-Tirmidzi nomor 846, Ibnu Khuzaimah nomor 2641, Ibnu Hibban (6/112), Ad-Daruquthni (2/290), Al-Hakim (1/456), dan Al-Baihaqi (5/190) dan hadis ini munqathi’. At-Tirmidzi mengatakan: Al-Muththalib kami tidak tahu dia mendengar dari Jabir. 
Al-Bukhari mengatakan: Kami tidak tahu dia mendengar dari salah seorang sahabat pun, demikian yang dikatakan oleh Ad-Darimi. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: Al-Muththalib bin Hanthab, keumuman hadisnya adalah mursal. Beliau tidak bertemu dengan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kecuali Sahl bin Sa’d, Anas, dan Salamah bin Al-Akwa’. Namun beliau tidak mendengar dari Jabir… Namun sepertinya dia sempat menjumpai Jabir, sebagaimana di dalam Jami’ut Tahshil nomor 774. 
Aku berkata: Ad-Daruquthni telah menerangkan di dalam Sunan beliau bahwa di sana ada seorang yang memperantarai Al-Muththalib dengan Jabir. 
[20] Nomor 1200. Abu Hatim mencacatnya dengan sesuatu yang tidak dapat mengurangi kesahihannya, beliau mengatakan: Sesungguhnya Ibnu ‘Umar tidak mendengar hadis ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau hanyalah mendengarnya dari saudarinya, yaitu Hafshah. Sebagaimana di dalam Al-‘Ilal karya putranya (1/281). 
Aku katakan: Tidak menghalangi Ibnu ‘Umar bahwa dia mendengar dari Hafshah kemudian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan meskipun ia tidak mendengar langsung dari Nabi, tidak menurunkan derajat hadis tersebut karena itu berarti mursal shahabi dan semua sahabat adalah adil. Ibnu Hajar mengatakan: Yang tampak bahwa Ibnu ‘Umar mendengarnya dari saudarinya, yaitu Hafshah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan ketika ditanya. (Al-Fath 4/43). 
[21] (1/257), dan Laits adalah lemah dan beliau tidak konsisten dalam hadis ini. Abu Ya’la mengeluarkan hadis tersebut (4/317) dari jalannya, beliau menyebutkan “burung elang” sebagai ganti dari “ular”. 
[24] Dari Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari nomor 1869 dan Muslim nomor 1372. Dari Anas riwayat Al-Bukhari nomor 1867 dan Muslim nomor 1366. Dari Abu Sa’id nomor 1374, dari Sa’d bin Abu Waqqash nomor 1363, dari Rafi’ bin Khadij nomor 1361, dan dari Jabir nomor 1362 keempat-empatnya riwayat Muslim. 
[25] HR. Muslim nomor 1364 dan Ahmad (1/168). 
[26] HR. Ahmad (1/170), Abu Dawud nomor 2037, dan Al-Hakim (1/486). Dan lafal ini milik Ahmad dan Abu Dawud secara makna. Adapun Al-Hakim, lafalnya berbeda dari keduanya dan hadis tersebut lemah. Di dalamnya ada Sulaiman bin Abu ‘Abdullah majhul. Abu Hatim mengatakan: Bukan orang yang terkenal, namun hadisnya bisa diperhitungkan (Al-Jarh 4/127). 
[27] HR. Ahmad (1/165), Abu Dawud nomor 2032, dan Al-Bukhari (1/140). 
[28] Di dalam takhrij beliau terhadap hadis-hadis Al-Muhadzdzab sebagaimana di dalam Al-Badrul Munir (6/370), dan beliau mendaifkannya di dalam Mukhtashar As-Sunan (2/442). Beliau membawakan ucapan para imam dalam mendaifkan Muhammad bin ‘Abdullah bin Insan Ath-Tha`ifi dan ayahnya. Hadis ini didaifkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Azdi, Al-Bukhari, Al-‘Uqaili, Ibnul Qaththan, dan An-Nawawi sebagaimana di dalam At-Talkhish (2/280). Begitu pula Abu Hatim mendaifkannya sebagaimana di dalam Al-Jarh (7/294), Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa` (4/92), dan selain keduanya. Di dalam hadis ini ada perselisihan yang disebutkan oleh Ad-Daruquthni di dalam ‘Ilal beliau (4/239). 
[29] Ibnul Mulaqqin mengatakan: Adz-Dzahabi telah menyatakannya garib, beliau mengatakan di dalam kitab Mizan beliau: Sesungguhnya Asy-Syafi’i telah menyahihkan hadisnya dan bertopang padanya. Al-Badrul Munir (6/371).

Silakan simak pembahasan Fiqh Ibadah Haji oleh Al-Ustadz Qomar Su'aidi hafizhahullah di audiokajian.